Pencipta Lagu
3 bulan lalu · 208 view · 7 menit baca · Politik 54761_94610.jpg
Instagram @jokowi

Jokowi Menang Lagi?

Sudut pandang refleksi Liga Champions

Pilpres kali ini, jika dalam kompetisi sepakbola terbesar di Benua Eropa, yaitu Liga Champions, ini adalah Pilpres Leg ke-dua. Pertemuan kembali antara Jokowi dan Prabowo, namun dengan wakil yang berbeda.

Jika di Liga Champions ada home-away, maka saat ini Pilpres (pertandingan) bermain di home atau kandang siapakah kali ini? Karena saat ini Jokowi adalah petahana, maka kita anggap saja Pilpres kali ini bertarung dikandang Jokowi, dan anggap saja Prabowo datang sebagai penantang.

Dalam pertandingan sepakbola, tidak ada yang tidak mungkin, sama halnya dengan kontestasi politik. Adakah yang masih ingat pertandingan final Liga Champions yang mempertemukan antara Liverpool dan AC Milan pada 25 mei 2005.

Bagi pecinta sepakbola, pasti tahu akan final sensasional tersebut, ya, itu adalah salah satu final terbaik dan paling dramatis Liga Champions yang pernah tersaji.

Pasalnya, AC Milan yang saat itu memiliki skuat terbaik memulai pertandingan dengan penuh semangat, alhasil mereka unggul 3-0 atas Liverpool dibabak pertama, dan dalam Liga Champions skor 3-0 yang dicetak pada babak pertama dalam laga final dapat dikatakan skor yang sangat besar.

Sesaat lepas turun minum, publik liverpudlian/kopites yang berada pada Stadion Kemal Ataturk, Istanbul, Turki, mengukir mimik wajah harap-harap cemas.

Tapi seperti yang telah dikatakan diawal, bahwa dalam sepakbola tidak ada yang tidak mungkin. Liverpool akhirnya dengan cepat merespon ketertinggalan mereka, dan keajaiban hadir atas semangat baru mereka dibabak kedua, dengan rasa setengah tidak percaya anak asuh Rafael Benitez mampu mencetak 3 gol balasan hanya dalam waktu 6 menit saja.

Wow.. sulit dipercaya bukan? ini pertandingan yang luar biasa. Gemuruh suporter Liverpool pun tak terbendung. Pada waktu normal dan babak waktu tambahan, Liverpool dan AC Milan tetap berbagi skor 3-3.

Maka, pertandingan harus dilanjut pada babak adu penalti. Sangat dramatis, karena dibabak adu penalti Liverpool akhirnya yang justru memenangkan pertandingan dengan skor 3-2 atas AC Milan.

Tidak ada yang menyangka, tertinggal 0-3 dibabak pertama adalah hal berat pada laga final dengan tensi pertandingan yang sangat tinggi. Tapi, pada menit-menit akhir segala kemungkinan dapat terjadi, segalanya berubah, senyum merekah pun justru mengukir wajah-wajah suporter Liverpool.

Demikian dengan kontestasi politik, semua dapat terjadi. Prabowo menang? Mungkin saja, atau Jokowi kembali menang, ya, sangat mungkin. 

Maka dari itu, hasil survei bisa saja membawa diri seperti terbang dalam kemenangan “sementara” bak hasil 0-3 yang diciptakan AC Milan pada babak pertama. Tapi ingat, hasil akhir tetap masih menjadi misteri yang akan dijawab pada 17 April 2019.

Dan kembali kita flashback pada laga final champions league lainnya, laga ini mempertemukan antara Real Madrid dan Atletico Madrid yang bertemu dua kali pada laga final.

(ini tulisan sebenarnya ngomongin sepakbola atau politik ya, hahaha) tidak apa-apa ya, sekali-kali bicara politik dengan pendekatan yang berbeda, agar tidak terlalu tegang, hehehe. Ya, adakah yang masih ingat pertandingan itu?

Final champions league edisi 2014 dan 2016 mempertemukan klub yang sama, antara Real Madrid dan Atletico Madrid, klub saudara se-kota. Real Madrid yang dalam dua edisi finalnya mengalahkan Atletico Madrid.

Sangat tragis memang, ketika ada kesempatan kedua untuk bertemu lawan yang sama tentu ada motivasi balas dendam yang membara.

Tapi kenyataan berkata lain, bahwa Los Colchoneros saudara sekota Los Galacticos harus mengakui keperkasaan Real Madrid di kompetisi sepakbola terbesar benua Eropa untuk kedua kalinya.

Lantas, apakah ini akan terjadi pada Pilpres 2019. Jokowi akan tetap mempertahankan kekuasaanya sebagai Presiden dengan kemenangan kedua kalinya atas Prabowo, sama seperti yang dilakukan Real Madrid pada Atletico de Madrid. Jawabannya, sangat mungkin.

Atau justru Jokowi yang akan kalah, karena Real Madrid tidak dapat mempertahankan keperkasaannya sebagai petahana jawara Liga Champions di musim ini, yang kalah tragis dikandang sendiri oleh Ajax Amsterdam. Mungkinkah seperti itu? ya, mungkin saja.

Sebagai petahana, Jokowi berpeluang untuk kembali mempertahankan kekuasaanya. Sederhananya, petahana seharusnya memiliki amunisi lebih atas kecakapannya untuk menyampaikan bahwa negara ini sudah dalam jalur yang benar untuk terus dibenahi. 

Permasalahan apa yang sedang dialami dan resolusi baru apa yang dapat dilakukan di periode kedua nanti.

Hal itu yang perlu disampaikan pada masyarakat luas, misalnya disampaikan pada debat Pilpres ataupun pada ruang-ruang tertentu saat sedang ber-safari kampanye politik.

Pilpres 2019 kurang lebih satu bulan lagi, siapakah yang akan menarik perhatian lebih banyak untuk kemudian dipilih? Masih Jokowi atau Prabowo? Menurut beberapa lembaga survei mengenai elektabilitas dari kedua Paslon. Jokowi-Ma'ruf diunggulkan dalam berbagai survei.


Misalnya survei dari LSI Denny JA, dinamika elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dinyatakan masing-masing 52,2 persen, 53,2 persen, 57,7 persen, 53,2 persen, 54,2 persen, dan 54,8 persen. Survei ini dilakukan pada periode agustus 2018 hingga januari 2019.

Sementara dengan periode yang sama, elektabilitas Prabowo-Sandi berada pada angka 29,5 persen, 29,2 persen, 28,6 persen, 31,2 persen, 30,6 persen, dan 31,0 persen. Cukup jauh memang.

Lalu pada Februari 2019, sebanyak 58,7 persen responden memilih Jokowi-Ma'ruf dan 30,9 persen responden memilih Prabowo-Sandi.

Kemudian, ada suara tidak sah 0,5 persen dan sebanyak 9,9 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab. Adapun, pengumpulan data untuk survei Februari 2019 dilakukan pada 18-25 Februari 2019.

Selanjutnya, survei yang dilakukan oleh Lembaga Cyrus Network pada 18 hingga 23 januari, hasilnya ialah, dukungan untuk Jokowi-Ma'ruf sebesar 55,2 persen sementara dukungan terhadap Prabowo-Sandi sebesar 36 persen.

Survei ini dilakukan dengan simulasi surat suara. Responden diberikan pertanyaan, "Jika anda saat ini sedang berada dalam tempat pemungutan suara dan di depan ada kertas suara dengan pasangan capres-cawapres, siapa yang akan dipilih?"

Hasilnya, Jokowi-Ma'ruf dipilih oleh 57,5 persen dan Prabowo-Sandiaga dipilih 37,2 persen. Sisanya, 7,4 persen belum memutuskan atau tidak menjawab.

Bagi para pendukung Jokowi-Ma’ruf tentu ini adalah hasil survei yang menyejukkan. Tapi perlu diingat hasil survei kapan pun dapat berubah.

Kemudian beberapa pengamat mengatakan bahwa Jokowi bisa saja kalah karena barisan pendukungnya merasa aman dengan informasi media atas keunggulan Jokowi-Ma’ruf pada beberapa lembaga survei. 

Yang dibayangkan atas rasa aman itu ialah, pendukung Jokowi tidak datang ke TPS untuk menyampaikan hak suaranya.

Ini pun menjadi perhatian khusus Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) MoeldokoIa tidak ingin Jokowi kalah seperti yang dialami oleh Hillary Clinton. 


Donald Trump menang atas Hillary karena barisan pendukung Hillary banyak yang tidak memberikan hak suaranya karena telah merasa aman dan yakin akan kemenangan Hillary. 

"Hampir seluruh warga AS yakin Hillary jadi pemenang, jadi banyak yang tidak datang ke TPS (tempat pemilihan suara) karena yakin Hillary pasti menang, tetapi akhirnya dia kalah," kata Moeldoko pada Deklarasi Alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Bersama Perguruan Tinggi Lain, Relawan, dan Masyarakat Dukung #01 di Graha Wisata Surakarta, seperti dikutip Antara, Sabtu (26/1).

Akibat rasa percaya diri yang terlalu tinggi, hal yang tak diinginkan pun terjadi. Seperti itulah setidaknya yang dirasakan oleh barisan pendukung Hillary Clinton pada Pilpres Amerika Serikat 2016 silam.

Elektabilitas Prabowo-Sandi dibeberapa lembaga survei masih stagnan. Diatas kertas, angka masih unggul Jokowi-Ma’ruf. 

Tapi, dilapangan pada akar rumput, bahwa yang paling siap, solid dan tetap siaga yang akan memenangkan pertandingan. Survei tidak bisa dibantah begitu saja, tapi juga tidak bisa dijadikan acuan seratus persen.

Kubu Prabowo-Sandi bisa saja menang walau hasil dibeberapa survei tidak menyejukkan mereka. Tapi bisa jadi, dari hasil survei tersebut mereka justru lebih peka dan solid dengan kekhawatiran hasil survei yang ada.

Barisan pendukung Jokowi-Ma’ruf jangan dulu merasa diatas angin dan kemudian lengah dalam pertempuran yang belum berakhir.

Barisan pendukung Jokowi-Ma’ruf tidak bisa berbangga dengan hasil survei saja. Tetap perlu menjaga dan melancarkan amunisi dalam menjaring suara lebih banyak hingga menit-menit akhir masa kampanye.

Jangan dulu berbangga dan senang ketika keluarga Sandiaga Uno justru menyatakan dukungannya secara terang-terangan untuk Jokowi-Ma’ruf, melalui selembar kertas yang ditandatangani oleh beberapa orang. Siapa yang tahu dibalik bilik siapa yang sesungguhnya dipilih?

Semoga saja dugaan penulis salah, bahwa dukungan itu bisa jadi untuk meninabobokan barisan pendukung Jokowi-Ma’ruf. Sekali lagi, semoga saja hipotesis cetek dari penulis salah. Hehehe.

Sebagai petahana, perlu meyakinkan kembali sebagian masyarakat yang merasa kecewa dengan masa kepemimpinan Jokowi atas “janji-janji” yang belum ditepati. Sebagai penantang, banyak hal yang dapat ditawarkan Prabowo atas kekecewaan-kekecewaan tersebut.

Baca Juga: Jokowi Kalah

Masyarakat punya otoritas atas pilihannya secara penuh, sebagaimana logika dan analisis objektifnya. Mau memilih untuk melanjutkan apa yang sedang dilakukan, atau memilih yang baru akan dilakukan? Ya, pilihan ditangan masing-masing. One man one vote, berikan hak suara masing-masing secara bertanggungjawab.

Presiden bukan hanya sebagai kepala pemerintahan, tetapi juga pemimpin bagi masyarakat dan negaranya. Maka, masyarakat perlu melihat kedalaman ini. Siapa yang mendekati kriteria tersebut.

Demokrasi perlu melahirkan pemimpin yang tidak sekadar pandai beretorika yang kadang menyampaikan narasi klise yang sulit dicerna nalar warga negara.

Negara dan bangsa ini butuh pemimpin yang jelas dan tegas serta logis dalam menawarkan gagasannya sebagai calon orang nomor satu di negara ini, dengan bukti-bukti empiris melalui rekam jejak (track-record) yang telah dilakukan.

Sebagaimana yang disampaikan Joko Widodo, “Mulailah sebuah perjalanan dengan tujuan akhir yang jelas”.

Siapakah yang akan menduduki kursi RI 1 nanti? Apakah Jokowi kembali yang akan menang sama seperti Real Madrid mengalahkan Atletico Madrid untuk kedua kalinya pada laga Final Champions League edisi 2014 dan 2016.

Atau, Prabowo akan kalah kembali, seperti Atletico Madrid yang kalah untuk kedua kalinya oleh Real Madrid.

Siapapun yang menang nanti, kita sebagai sesama anak bangsa perlu menjaga kerukunan dan persatuan. Tidak ada perpecahan, kepentingan atas nama bangsa dan negara tetap diatas segalanya.

Sebagaimana yang dikatakan Prabowo Subianto : “persoalan apakah menang atau kalah, apakah kita dipilih oleh rakyat atau tidak itu menyangkut kedua. Namun, itulah mengapa kami ingin melakukan yang terbaik untuk rakyat, itu yang diperlukan setiap warga negara untuk melakukan sesuatu pada bangsa dan negaranya”.

Apakah Jokowi menang lagi? Kita lihat saja pada 17 April 2019 nanti. Dan harapan saya untuk Liga Champions musim ini, Manchester United dapat menjuarainya, mengulang kembali sejarah kejayaan di kompetisi sepakbola terbesar Benua Eropa seperti yang dilakukan pada 2008 silam. Hehehe.

Dan terakhir, ingatlah pesan Gus Dur : “Bahwa yang lebih penting dari politik, ialah kemanusiaan".

Artikel Terkait