91291_90703.jpg
Sumber Gambar: Time
Politik · 3 menit baca

Jokowi Melanjutkan Harapan

A NEW HOPE. Begitulah judul sampul depan Majalah Time edisi 27 Oktober 2014.

HARAPAN BARU. Dua kata sederhana namun bermakna dalam, tidak berlebihan dan tepat untuk disematkan pada sosok pemimpin baru.

Sosok itu adalah Joko Widodo, Presiden ketujuh Republik Indonesia, terpilih pada tahun 2014 menggantikan presiden sebelumnya, SBY. Terpilihnya Jokowi pada awalnya tidak mudah untuk dijelaskan. Maklum saja, ia berasal dari keluarga sederhana, berbeda dari para pendahulunya yang berlatar belakang militer dan elit partai.

Namun ada satu alasan “unik” mengapa ia akhirnya berhasil terpilih, mungkin karena bangsa kita selalu memiliki pemimpin dan “peninggalan” (baca: prestasi) yang tepat pada masanya. Dimulai dari Sukarno bapak pendiri bangsa, Suharto peletak pondasi ekonomi dan pembangunan, Habibie, Megawati & Gus Dur pembuka pintu gerbang reformasi hingga kita bisa melewati masa-masa sulit, dan SBY membangun iklim demokrasi.

Lalu sekarang Jokowi.

Apa prestasi terbesarnya? Mungkin banyak dari kita yang akan menjawab, ia melakukan pemerataan pembangunan dari Aceh hingga Papua—Indonesia sentris istilahnya, hal yang belum pernah terlaksana di masa presiden lainnya.

Saya setuju dengan hal tersebut.

Tetapi jika Jokowi dirangkum dalam satu kata, maka kata yang ideal adalah Harapan. Seperti tulisan Time, ia telah menjadi harapan baru bagi kita semua—rakyatnya.

Di masa lalu puluhan tahun kita dipertontonkan dengan kerakusan penguasa dan keluarganya. Penguasa dengan janji memberi keadilan tetapi enggan menunaikan. Penguasa yang membagi-bagi negeri kepada loyalisnya, seakan itu milik pribadi. Penguasa yang membuat kita putus asa—membuat kita menghela napas.

Jokowi datang dengan kesederhanaan baju putih dan celana hitamnya. Dari wajahnya terlihat jelas ia bukan berdarah biru birokrat. Terlahir dari keluarga sederhana bahkan di masa kecilnya ia pernah mengalami penggusuran rumah hingga tiga kali. Jokowi meniti karir dari bawah—pengusaha, wali kota, gubernur, hingga pemimpin bangsa. Ia si tukang kayu dari kota kecil Solo.

Ia bukan tipe pemimpin yang hanya memberi perintah tapi turun ke lapangan hingga puluhan kali, memastikan pembangunan berjalan. Mendatangi rakyatnya yang belum pernah menikmati listrik walaupun bangsanya telah lama merdeka. Menunaikan keadilan sosial bagi rakyat Papua yang telah lama terabaikan, di mana dahulu emasnya dikeruk untuk memakmurkan Jawa.

Jokowi menunjukkan dirinya adalah seorang visioner dengan ide-ide segar melalui kebijakannya, seperti BBM satu harga sebagai wujud keadilan—harga BBM di Papua sama dengan Pulau Jawa, tol laut untuk menekan perbedaan harga komoditas di Indonesia Barat dengan Indonesia Timur, memacu perdagangan/ekspor ke negara-negara non-traditional partner, tax amnesty, dana desa, palapa ring, Indonesia sebagai poros maritim dunia, dan lainnya.

Sangat tidak mudah memimpin negeri dengan 260 juta penduduk, negara dengan 205 juta umat muslim di dalamnya, di saat tuduhan absurd dilemparkan padanya; komunis, antek asing, anti-Islam, anti-ulama, hingga PKI.

Jokowi tahu Indonesia sebagai negara dengan “citra” mercusuar demokrasi yang paling sukses di dunia Islam, tidak mungkin melakukan hal bodoh tersebut. Di sisi lain kematangannya terlihat ketika merespon hal itu. Ia tetap tenang, kalem, menunjukan kedewasaan, ia merangkul, mempersatukan kita semua sebagaimana sewajibnya tugas seorang pemimpin.

Ada satu hal lagi, sederhana, namun sangat positif dari Jokowi—ujaran optimisme. Di setiap pidato kenegaraan misalnya, ia selalu mengulang-ulang ucapan" “Kita ini bangsa besar, Indonesia bangsa yang besar,” seakan ia memiliki impian besar untuk Indonesia, juga cambukan untuk membuang jauh sikap mengkerdilkan diri sendiri. Ajakan mengejar ketertinggalan, meraih kemajuan, dan mewujudkan kejayaan seperti cita-cita para pendiri bangsa.

Tapi ini semua belum selesai.

Jokowi dan kabinetnya memiliki satu tugas maha penting, jalan panjang yang harus dilalui, mengatasi ketimpangan ekonomi melalui kebijakan prioritas pembangunan infrastruktur dan pembangunan SDM. Tentu dengan harapan semakin lancarnya transportasi dan komunikasi di daerah dan lebih banyak masyarakat di pedesaan mendapat akses layanan publik yang setara, ketimpangan ekonomi diharapkan akan semakin menurun.

Jokowi juga mengubah sistem pendidikan kejuruan. Ia melibatkan pelaku industri untuk berkontribusi dalam pengembangan kurikulum sekolah kejuruan dan teknis dengan tujuan meningkatkan keahlian para siswa dan semakin memperkuat keterampilan tenaga kerja Indonesia.

Kebijakan menggabungkan pembangunan infrastruktur bersamaan dengan sumber daya manusia merupakan strategi efektif. Kita memiliki pemimpin dengan kebijakan yang tepat. Indonesia bergerak ke arah yang benar.

Harapan itu ada dan nyata. Sekarang semuanya terserah pada kita—rakyat Indonesia.

Agustus lalu KPU telah membuka pendaftaran calon Presiden dan Wakil Presiden. Jokowi menggandeng Ma'ruf Amin sebagai wakilnya untuk kembali berlaga di periode kedua. Akankah kita memberi lima tahun kedua untuknya—melanjutkan harapan.