Penulis
2 minggu lalu · 209 view · 4 min baca menit baca · Kesehatan 61555_95532.jpg
Foto: Food for the Hungry

Jokowi Jangan Rampok Masa Depan Anak

Bila ingatan Anda masih sehat, tentu masih mangkal janji kampanye Presiden terpilih Jokowi yang akan lebih fokus pada pengembangan SDM apabila ia kembali terpilih. Stunting merupakan bagian pengembangan SDM yang sering terlupakan.

Setelah debat capres 17 Maret 2019, isu stunting makin santer dibicarakan. Maklum, isu tersebut terkait erat dengan pembangunan manusia. Sangat relevan dengan janji Jokowi bila kembali terpilih.

Stunting yang merupakan gizi buruk kronis yang memengaruhi pertumbuhan balita pada 1000 hari pertama bukan sebatas isu lokal, akan tetapi internasional. Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki stunting cukup tinggi pantas berharap pada Jokowi. Sebabnya, di regional Asia, Indonesia berada pada urutan ketiga sebagaimana data dari WHO.

Badan kesehatan dunia itu memberi ambang batas prevalensi stunting antara 20 - 30 persen. Sementara Indonesia prevalensinya sejauh 30 persen lebih. Meski jika dibandingkan tahun 2013 (37%) sudah mengalami perbaikan, namun angka 30 persen masih cukup tinggi. 

Persoalan itu tidak bisa dianggap sepele. Apalagi dampak stunting bukan hanya terhadap aspek pertumbuhan fisik (kerdil) anak, akan tetapi memengaruhi kecerdasan anak. Tentu mengerikan bila pertumbuhan otak ikut terganggu. Masa depan mereka terancam.

Menurut pakar nutrisi dan penyakit metabolik anak, Damayanti, “Kalau anak pendek, ketika remaja dia bisa tumbuh lagi. Ada kesempatan kedua untuk menaikkan tinggi badan. Tapi kalau sudah stunting terkait pertumbuhan otak, ketika sudah besar, anak tidak bisa diobati lagi.”

Berdasarkan penelitian, gizi sangat menentukan kognitif dan mental anak. Itu artinya masa depan anak bahkan bangsa ini sangat bergantung dari kesadaran semua pihak untuk memberi gizi kepada balita kita.

Pengembangan sumber daya manusia sebagaimana janji kampanye Jokowi harus dilakukan sejak di dalam kandungan. Para orang tua, terutama pasangan baru, hendaknya memperhatikan persoalan stunting.


Usaha-usaha mengatasi stunting sebenarnya sudah lama dilakukan. Akan tetapi, kesadaran para orang tua yang masih rendah menyebabkan stunting menjadi momok menakutkan. Bukan hanya itu, para orang dewasa yang seenaknya merokok di depan balita menjadi penyebab stunting selain gizi.

Melihat dampak stunting yang memengaruhi kognitif dan mental, bukan mustahil kita termasuk gagal gizi. Indikasinya terlihat ketika kita menjadi bangsa yang cepat marah, mudah tersinggung, maupun senang mencaci dan menghina.

Kita juga menjadi bangsa yang masih tertinggal dalam sains dan teknologi maupun bidang lainnya. Sehingga mengatasi stunting berarti menyiapkan masa depan bangsa ini. 

Meski faktor ekonomi penyebab utama stunting pada balita, akan tetapi faktor pemahaman para orang tua juga tak kalah penting. Karena balita yang mengalami stunting bukan hanya dari keluarga menengah ke bawah, akan tetapi menengah ke atas.

Peran Orang Tua

Sehebat apa pun Jokowi dan jajarannya mengatasi stunting di Indonesia, pada tataran implementasinya sangat bergantung pada para orang tua. Pernikahan bukan sebatas interaksi di ranjang, apalagi sebatas status sosial di masyarakat. 

Menyiapkan generasi berkualitas harus dimulai ketika anak masih dalam kandungan. Setelahnya, gizi yang cukup harus diberikan. Bagi keluarga pra-sejahtera tentu butuh kehadiran negara. Ketika negara telah hadir, maka wajib bagi para orang tua memperhatikan gizi anak-anaknya.

Kesadaran para orang tua dalam mengatasi stunting sangatlah vital. Jangan sampai orang tua 'merampas' masa depan anak-anaknya. Ketika para orang tua tidak peduli dengan gizi anaknya, bukan karena tidak mampu secara ekonomi, pada saat itulah orang tua telah 'merampas' masa depan anaknya.

Peran Negara

Konstitusi kita mengamanatkan kepada negara agar memelihara fakir dan miskin serta anak terlantar. Karenanya, kasus stunting tidak boleh dibiarkan begitu saja. Negara harus hadir ketika rakyat tak mampu secara ekonomi untuk memenuhi gizi anaknya.

Jika negara abstain, berarti negara telah mengkhianati konstitusi, dalam hal ini pengurus negara yang paling bertanggung jawab. Apalagi Jokowi telah berjanji pada periode kedua ini akan fokus pada pembangunan SDM.

Tentunya Jokowi tak ingin disebut sebagai Presiden perampas masa depan anak-anak Indonesia. Presiden yang hanya peduli pada cucunya, namun lupa pada anak-anak Indonesia lainnya. 


Peran Masyarakat

Masyarakat atau lingkungan di mana seorang anak tumbuh memiliki peran strategis. Sebabnya, stunting, terutama dampak terhadap otak anak, bukan hanya disebabkan gizi buruk. Asap rokok juga berdampak pada pertumbuhan anak.

Terkadang para perokok, terutama di ruang publik, sering tidak sadar bahwa asap mereka sangat berbahaya bagi orang lain. Mereka terkadang tidak peduli di sekitarnya ada balita.

Perilaku buruk itu paling sering kita saksikan di angkot maupun transportasi massal lainnya. Perilaku orang-orang yang menasbihkan dirinya sebagai manusia dewasa tapi tidak dengan perilakunya.

Saya sangat setuju apabila para perokok tidak mengindahkan balita diberikan hukuman. Perilaku koruptif itu sangat membahayakan balita dan masa depan mereka. Usaha penyadaran menurut saya lebih efektif bila disertai sanksi hukum.

Percuma saja gizi baik diberikan namun di saat yang sama balita terpapar asap rokok. Karenanya perlu ketegasan, jangan sekadar imbauan semata. Pemerintah desa pun bisa pula melaksanakan aturan ketat terkait perokok di sekitar balita.

Bila masyarakat, keluarga, dan pemerintah mau berkolaborasi, angka stunting nantinya dapat diturunkan. Usaha menciptakan generasi hebat harus dimulai dengan mengatasi stunting. Jangan rampas masa depan anak-anak karena kelalaian kita semua.

Mampu beli smartphone canggih namun gizi anak buruk, mampu membeli rokok berbungkus-bungkus tapi gizi anak tak mampu dibeli. Bukankah itu perilaku yang buruk? Bukankah itu perampasan masa depan anak-anak?

Apa guna infrastruktur hebat jika generasi penerus masih mengalami stunting? Bukankah itu perampasan hak anak-anak kita?

Artikel Terkait