Wiraswasta
1 bulan lalu · 895 view · 4 min baca menit baca · Politik 91127_41043.jpg

Jokowi, Hentikan Penangkapan Tertuduh Makar!

Menangkapi orang-orang yang bertindak atas tuduhan pencemaran nama baik dan makar terhadap Presiden Jokowi dikhawatirkan akan memunculkan kesan represif yang dulu pernah hidup pada masa Orde Baru. 

Apa yang dilakukan tersangka bukan kesalahannya sendiri, tetapi juga dampak dari konflik yang tak dimanajemeni dengan baik (baca: brutal). Lempar batu sembunyi tangan! Padahal kedua kubu yang bertarung sedikit banyaknya memiliki andil terciptanya para pesakitan tersebut.

Meski penangkapan demi penangkapan tersebut sebagai warning, namun kesannya malah seperti pukulan balik pihak yang menang kepada pihak yang kalah. Ini tak baik bagi kelangsungan damainya Indonesia jika ditilik dari social engineering.

Social engineering murni berkaitan langsung dengan manusia meskipun istilah ini hidup dan berkembang sebagai jargon yang mudah ditemui pada dunia digital. Sebab social engineering mempelajari sistem keamanan terlemah dunia, yakni manusia. Bagaimana bisa?

Prinsip ini sudah lama dipakai di dunia keamanan jaringan: the strength of a chain depends on the weakest link atau dalam bahasa Indonesianya, “kekuatan sebuah rantai tergantung dari atau terletak pada sambungan yang terlemah.”

The weakest link atau jaringan terlemah atau komponen terlemah itu maksudnya adalah manusia. Sebagus apa pun sistem pelindung pada piranti keras dan piranti lunak canggih penangkal serangan firewall, anti virus, IDP/IPS, dan lain sebagainya, tetapi operator manusianya lalai, maka tertembus juga keamanan tersebut.

Social engineering merupakan metode untuk mendapatkan informasi penting dan krusial yang disimpan secara rahasia oleh manusianya itu sendiri melalui interaksi sosial.


Kelemahan manusia beragam yang dapat dimanfaatkan oleh metode ini, yakni rasa takut, rasa percaya, dan rasa ingin menolong. Manusiawi, bukan?

Teknik social engineering dalam dunia digital terbagi dua jenis: berbasis interaksi sosial dan pencurian password. Dua hal ini cara kerjanya sama, mendapatkan kunci keamanan via password atau cara lainnya agar penyerang dapat masuk ke dalam sistem yang diincarnya.

Social Engineering untuk Alat Politik

Dalam bahasa Indonesia, social engineering disebut juga rekayasa sosial. Di dalam dunia politik, rekayasa sosial lekat artinya dengan mendapatkan dukungan masyarakat. Selain pemerintah dan oposisi, eksekutor dalam iklim demokrasi yang dianut Indonesia adalah melibatkan masyarakat.

Di lingkup masyarakat, banyak kepentingan berbaur dan hidup dalam kegiatannya. Berbeda dengan politisi dan elite yang punya kepentingan tertentu saja yang butuh masyarakat untuk memenuhi kepentingannya. 

Rekayasa sosial dalam politik bekerja untuk memicu perubahan sosial. Jika masyarakat berpartisipasi sebagai eksekutornya, maka terjadi keseragaman berbuah sinergi hingga mudah direalisasikan perubahan yang diingini kalangan elite dan politisi.

Pilpres 2014 dan 2019 merupakan fenomena rekayasa sosial dibentuk sedemikian rupa. Bukan barang baru, sebab William Dahl, seorang penulis asal Austria menyebutkan perubahan sosial akan lebih mudah bila membagi masyakat menjadi dua kelompok untuk terjadi perbedaan pandangan. 

Konfrontasi dua kubu adalah indikator permasalahan paling subtansif. Akan berkonflik, tetapi di situlah keberpihakan mudah dibentuk.

Misalkan saja kubu Jokowi nasionalis, kubu Prabowo radikalis. Perang persepsi untuk mengukuhkan posisi itu diberondong dengan peluru opini. Masyarakat disuruh memilih berada di kubu mana mereka berada. 

Meski keberatan cap radikalis, amunisi opini terbanyak dan benteng terkuatlah yang kemudian membuat kubu Prabowo harus berhadapan dengan stigma. Ini sudah dalam ranah strategi politik dalam battle ideology.

Konflik yang terencana matang adalah syarat utama terciptanya perubahan sosial secara cepat. Meskipun demikian, konflik tak boleh membiarkan dampaknya menjadi pembentang jurang pemisah yang lebar setelahnya. Konflik harus ada, tetapi jalan keluarnya juga telah dipersiapkan, dan itulah titik utama dari sasaran perubahan sosial.

Tidak semua rekayasa sosial harus dibangun dengan konflik. Namun momentum pasca konflik adalah hal terbaik untuk membangun kembali soliditas atau persatuan bangsa di atas puing-puing.

Hal itu pernah dilakukan oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta saat menyadari kekuatan militer Indonesia, meskipun lebih banyak dari Belanda dan sekutu, tetapi tak akan bisa memenangkan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat. Jika ini dilakukan, maka tak akan berhenti adu fisik hingga keduanya terus bertambah korban, kehabisan energi dan logistik.

Jalur diplomasi dipergunakan untuk membangun opini dunia. Jalan perjuangan ini mulai dari Perjanjian Linggarjati (1947), Perjanjian Renville (1948), dan Perjanjian Roem-Royen (1949), hingga Konferensi Meja Bundar. Konferensi terakhir ini berakhir dengan kesediaan Belanda untuk menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia di tanah airnya sendiri, Den Haag, Belanda.

Di balik keberhasilan perjanjian itu terdapat kehebatan konsolidasi menyatukan seluruh pulau-pulau di nusantara menjadi satu kesatuan menjadi senjata utama untuk meraih kemerdekaan secara de jure maupun de facto. Istilah Kemerdekaan RI menjadi stimulus rekayasa sosial masyarakat Indonesia yang ingin bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.  

Kesabaran Jokowi menghadapi fitnahan, realitas terpecahnya Indonesia dalam dua opini yang berbeda pilihan, Pilpres 2019 yang mengerahkan sumber daya opini, mulai dari sentimen agama, suku, ras hingga sejarah yang dibelokkan, pada akhirnya dimenangkannya.


Tinggal harus menciptakan rekayasa sosial yang baru seperti yang telah dicita-citakan, yakni revolusi mental. Dasar dan fundamennya sudah ada, tertuang dalam cita-cita Soekarno. 

Sudahi penangkapan tertuduh makar, sebab mereka sudah kehilangan tujuan dan perjuangannya. Luka bangsa ini sudah banyak mengalami kehilangan putra-putri bangsanya pasca kekalahan. Karena kami tetap rakyatmu, bahkan setelah dirimu tak menjabat lagi.

Beri kami konflik yang menyenangkan, yang mampu meningkatkan kualitas kami sebagai manusia Indonesia seutuhnya dan berdaya saing lokal maupun global. Beri kami iklim kerja dan usaha yang menyenangkan agar pertarungan dengan diri kami terjamin kemenangannya. Jadikan kami manusia Indonesia yang dicita-citakan pendiri bangsa.

Jika ini berhasil, maka mari kita nyanyikan lagu Sheila On 7 bersama-sama yang penggalan liriknya berisi: “Aku pulang, tanpa dendam. Kuterima, kekalahanku.”

Lagu itu kelak akan kita persembahkan pada seseorang yang pergi ke Dubai untuk segera "Berhenti Berharap" seperti judul lagunya.

Artikel Terkait