Microbiologist
1 minggu lalu · 545 view · 5 menit baca · Politik 65700_91797.jpg

Jokowi dan Prabowo Seharusnya Mahir Berfilosofi Teras

Menjelang pemilihan presiden, Indonesia sehari-harinya mengonsumsi berita-berita beraroma politik. Mata dan telinga masyarakat dibajak dengan informasi berfundamen strategi untuk memenangkan pemilihan presiden. 

Konsep ditata rapi untuk diangkat pada beranda media sosial. Tujuannya, melipatgandakan suara demi mencapai kemenangan di April 2019.

Sayangnya, yang terbentuk sekarang adalah dikotomi berpikir, hanya karena dismilaritas gaya kepemimpinan yang diterapkan. Jokowi memiliki gaya equalitarian style, sedangkan Prabowo memiliki gaya dynamic style (Gun Gun Heryanto).

Pengamat bertutur, capres nomor urut 01 itu sifatnya turun ke bawah dan merangkul. Gaya yang mendahulukan kesederajatan. Jokowi kurang melafalkan diksi yang sulit. 

Berbeda dengan nomor urut 02 yang bertipe eksplisit, to the point, dan menggunakan aksen lugas. Risikonya, karakter dynamic style yang mengedepankan berbicara apa adanya memiliki risiko sulit untuk dimaknai maksudnya. 

Untuk mengambil hati pemilih, capres berhak melakonkan berbagai jenis gaya. Gaya kepemimpinan bisa menjadi barometer penilaian pemilih. 

Sudah layakkah peran yang ditampilkan masing-masing calon pemimpin kita? Jangan sampai ini hanya drama komedi 2 episode saja (23 September 2018 sampai 13 April 2019). 

Tentu bukan ini yang diharapkan oleh masyarakat. Jauh sebelum masa kampanye yang dibuka secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), kedua calon presiden sudah bergerilya di berbagai wilayah Indonesia untuk mengumpulkan simpatisan. Hanya saja, hati calon pemimpin kita siapa yang lebih tahu selain diri mereka sendiri.

Memang rekam jejak selalu dijadikan parameter kualitas pemimpin. Namun, tidak demikian juga adanya. Hati siapa yang dapat merekam selain Sang Pencipta? Realitasnya, keduanya ada yang dipilih masyarakat walaupun saat ini masih sebatas data survei.

Dan ada apa dengan yang tidak memilih (alias golongan putih)? Lantas standar apa yang dapat kita gunakan untuk mendikte mereka yang memilih bungkam untuk tidak memilih? Bukannya golput bagian dari hak juga?

Tercatat pada tahun 2014, persentase golput mencapai 30%. Harapannya di tahun 2019 golput tidak lagi menjadi virus yang mengurangi angka pemilih, intensinya golput tidak menumbuhkan infeksi menular bagi pemilih lain untuk tidak memilih. Itu saja intinya.

Barter Argumentasi

Tendensi calon pemimpin yang ada terlalu menyemarakkan pra-masa kepemimpinannya. Jual-beli argumen condong lebih diperagakan, baik di dunia maya dan nyata. Silih berganti menyumbangkan deretan bait-bait komentar untuk saling menindih. Kenyataannyam siapa yang dapat mengukur kedalaman hati manusia?

“Indonesia punah” adalah contoh argumentasi yang paling sengit. Sekali lagi, orang yang berkarakter dynamic style cenderung sulit untuk dimaknai. Pemilihan diksi berdampak jelas di sini. Fasih memilih diksi juga akan membuat pendengarnya kewalahan menerjemahkan tujuan maknanya ke mana. 

Jokowi kesal Indonesia disebut akan punah jika tidak ada pergantian kepemimpinan. Dia meminta semua pihak untuk membangun optimisme kepada masyarakat.

"Saya benar-benar jengkel dan marah untuk hal-hal seperti itu. Bagaimana negara sebesar Indonesia ini, kita tidak bangun optimisme. Sesulit apa pun rintangan itu, tantangan itu, hambatan itu kita harus bersama-sama membangun negara ini," ujar Jokowi.

Tidak mau berlama-lama, kubu Prabowo, Suhud Alyuddin dari Partai Keadilan Sejahtera menegaskan, "Yang dimaksud punah tidak berarti punah dalam arti Indonesia hilang sebagai sebuah peradaban, sebagaimana bangsa Indian. Punah yang dimaksud adalah hilangnya peran penting Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa dalam kehidupan dan pergaulan di dunia internasional. Hal ini disebabkan karena lemahnya kepemimpinan.

Masih segar di pendengaran kita, bukan, kedua calon presiden mempertontonkan karakter eksplisit? Artinya, secara gamblang tanpa neko-neko, nyembur saja. 

Penulis dapat menangkap bahwa ada dua fokus di sini: jiwa partikular dan jiwa universal. Bisa dibilang, keduanya memiliki porsi nilai yang sama.

Partikular alurnya memetik maksud yang umum dimasukkan dalam kotak pemikiran spesifik. Berlainan dengan universal yang menganggap semua diketahui umum diterjemahkan dalam konteks yang sekata. Jika ditelusuri, kadang kala kata berlainan makna.

Inilah yang terjadi di antara kedua calon pemimpin kita. Sebenarnya apa yang kurang dari mereka? Masing-masing dari kita tentunya diperbolehkan memberi masukan afirmatif. Perlu dukungan konsep untuk mempertebal karakter sebagaimana seharusnya menjadi seorang pemimpin. 

“Di sini bukan berarti kedua calon tidak mencerminkan sebagai karakter layaknya seorang pemimpin, tentunya seorang calon pemimpin terbuka atas masukkan, bukan!” ­hal penegasan.

Urgensi “Filosofi Teras” bagi Calon Pemimpin Bineka Ras

Konseptual “filosofi teras” berhasil disusun oleh Henry Manampiring. Filosofi teras berfokus pada stoisisme. Penekanannya bukan hanya kebahagiaan saja. Lebih dari itu, penulis menjelaskan bahwa stoisisme berfokus pada kesalahan pola pikir dan persepsi yang jamak dilakukan manusia pada umumnya.

Jalur pemikiran ini perlu dicicip oleh kedua calon pemimpin kita. Memanasnya kejadian di atas masih terbuka lebar untuk saling lempar argumen lebih intensif lagi ke depannya. 

Penggalan pernyataan Jokowi: "Saya benar-benar jengkel dan marah untuk hal-hal seperti itu. Bagaimana negara sebesar Indonesia ini, kita tidak bangun optimisme.” 

Kubu Prabowo mengutarakan: “Punah yang dimaksud adalah hilangnya peran penting Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa dalam kehidupan dan pergaulan di dunia internasional.”

Mencermati “barter” gagasan di atas, jelas menandakan sikap karakter yang bertentangan. Keduanya saling mengukir markah setiap berlangsungnya orasi. Jika sudah demikian, konsep apalagi yang menjadi jembatan penengahnya?

Menariknya, filosofi teras menyinggung keras peristiwa ini. Saya telah membaca berulang bagian ini. Yang berkenaan bagaimana melawan interpretasi otomatis.

Jangan katakan pada dirimu sendiri lebih dari impresi awal yang kamu dapatkan. Kamu mendapatkan bahwa seseorang berkata yang jelek tentang kamu. Ya, hanya ini kabarnya. Kabarnya tidak berkata bahwa kamu sudah dilukai/dicelakakan (harmed). ~ Marcus Aurelius

Membuka bagian dari bab lain, stoisisme dalam filosofi teras adalah menahan diri (temperance), meliputi kedisiplinan, kesederhanaan, dan kontrol diri (atas nafsu dan emosi). Filosofi teras menyiratkan solusi yang perlu digenapi.

Menahan diri membangun argumen ambiguitas yang memancing orang lain berpandangan negatif. Di pihak pendengar, jangan melebihi impresi awal. Karena awalnya hanya kata punah saja, bukan berarti punah.

Yang sebenarnya pandangan seperti ini perlu dibangun sebagai perundingan bersama. Maka yang tepatnya adalah kedua calon pemimpin dapat mengikhtiarkan pemahaman filosofi teras. Kabar baiknya adalah Kare Anderson memberikan alasan relevansi Stoisisme bagi kepemimpinan di masa kini. 

Kepemimpinan di sini tidak sesempit memimpin tim, organisasi, ataupun negara, tetapi dimulai dari memimpin diri sendiri. Stoisisme mengajarkan kita untuk memprioritaskan mengendalikan diri sendiri sebelum mencoba mengendalikan kehidupan dan orang-orang di luar kita. Stoisisme membekali pemimpin untuk tegar di dalam kegagalan dan rendah hati di saat sukses.

Memimpin sebuah negara dengan rasnya yang bercorak merupakan tanggung jawab cukup berat dan besar. Jika tidak bisa mengendalikan diri sendiri, bagaimana mau mengendalikan negara?

Inilah yang menjadi tugas kita bersama. Sebagai masyarakat, kita perlu menjadi sahabat karib bagi pemimpin terpilih nantinya. Jangan hanya meminta hak saja. Gratis ini dan itu. Terlalu namanya.