Jokowi dan Prabowo adalah putera-puteri terbaik bangsa ini, itu pandangan indah yang selalu terlihat hampir dari setiap sisi. Sambil meng-iyakan, marilah kita ambil sisi yang lain, kemudian mengkontraskan dengan panorama umumnya. Saya mencoba meneropong dari sudut yang sempit dan tak terlalu dalam.

Jika pertanyaan, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kondisi bangsa akhir-akhir ini? Saya tanpa berpikir panjang akan menjawab: Jokowi dan Prabowo.

“Tak pernah ada harga yang bisa membayar sebuah perteman dan kebersamaan. Apalagi persaudaraan sebangsa dan setanah air” that’s a point! Sudah lelah saya hidup dibawah langit kecurigaan, caci-maki, anti-pati, hiruk-pikuk dan segala macam tetek-bengek yang menggerahkan! Hanya kurang, angkat parang lalu baku hajar.

Pak Jokowi kita tahu berprestasi (anggap saja begitu, sekalipun kelompok pendukung Prabowo menganggap beliau hanya memberi janji. Saya memilih tak mau masuk dalam zona konflik, jadi saya menggunakan jalan tengah). Anggap saja demikian.

Jika memang iya, beliau berprestasi: membangun jalan, jembatan, dan seterusnya, tol darat, tol laut, dan seterusnya…Namun disaat yang bersamaan dengan itu, kita kehilangan rasa persaudaraan, pertemanan dan kebersamaan sebagai sebuah bangsa, maka semua itu tak ada artinya. Jika ada arti: artinya kemunduran!

Kerja, kerja, kerja dan keringatnya dibawah langit Ibu Pertiwi dibayar lunas tanpa malu oleh pendukung Prabowo dengan menggatakan bahwa itu hanya pencitraan. Seakan kata kerja yang terlihat dari keringat dan perbuatannya tak ada artinya.

Lalu, Pak Prabowo, seandainya menang, ia menjadi presiden, lalu mimpi Indonesia Great Again nya terwujud. Giliran Pak Prabowo pasti akan dihujat oleh pendukung Jokowi. Bagi saya semua itu juga tidak ada harganya, jika rasa kebersamaan tidak lebih besar dari mimpi besar Pak Probowo tentang Indonesia Great Again. Sama, hanya ada satu kata; kemunduran!

Sehebat apapun konsep dan keberhasilan membangun bangsa namun tidak dibarengi dengan rasa persaudaraan, rasanya ada yang kurang atau belum lengkap.

Harga sebuah bangsa terletak pada persatuan. Sejarah sukses bangsa ini adalah sejarah persatuan.

Kita lihat kembali, lima tahun yang lalu, sampai dengan hari ini, nampak pertemanan dan persaudaraan semakin hari-semakin pudar dan terkikis ketika hadir rivalitas samar-samar sampai tegas, dari dua manusia laki-laki yang bernama Jokowi dan Prabowo. 

Banyak contoh, silahkan buka media sosial lalu baca kolom komentar.

Miris. Saya tak tahu, mau dibawa kemana arah bangsa ini, jika 10 tahun kita hidup dengan suasana tak menghargai sesama, saling mengejek, olok-olok diruang-ruang publik dan itu dianggap sebagai suatu hal yang lumrah.

Biasakah ini pada akhirnya menjadi budaya hidup kita?

Saya pikir sudah. Ini sudah menjadi kebiasaan hampir sebagian orang Indonesia. Lalu sisanya? Tinggal saja menunggu waktu. Semua akan menjadi indah pada waktunya.

Teman saya membantah, “bukan. Itu bukan salah mereka (Jokowi-Prabowo). Yang salah itu pengikutnya!”

Okey, sepakat!

Tapi duluan mana, sosoknya ataukah pengikutnya?

Lebih gampang mana? Mengurus banyak orang untuk didamaikan, disadarkan ataukah memanggil dua orang, lalu berkata jujur berkata kepada mereka, “mari kita akhiri semua ini Pak!”

Caranya?

Mari kita pikirkan sama-sama.

Walaupun mereka “mungkin” akan mengantisipasi dengan mengatakan, “jangan bilang kami berdua mundur, karena kami sudah resmi ditetapkan oleh KPU. Kami sudah terlanjur pencitraan dan kampanye, dan seterusnya!” – Tak apa, kita pikirkan cara lain.

Sambil memikirkan caranya. Kita harus jujur melihat bahwa sejak kehadiran Jokowi dan Prabowo kehidupan nyata dan maya kita menjadi tak kondusif. Banyak caci maki, saling olok. Kebenaran dan kebohongan seakan sama. Hoax bergentayangan dimana-mana. Penolakan disana-sini, itu, terjadi dimana-mana, dari hidup sampai yang sudah mati. Kita akhirnya menjadi bangsa yang tidak ramah kepada sesama kita.

Maka, saya pikir yang bertanggung jawab terhadap semua ini adalah kedua orang tersebut.

Pertanyaan penting dan sulit, “lalu bagaimana menghentikan semua ini?”

Sekali lagi, mari kita pikirkan sama-sama.

Sambil memikirkan caranya, marilah kita belajar dari pepatah Afrika, “Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. Jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama.”

Tak ada cara lain selain berjalan bersama, dan tak ada tujuan lain, selain tujuan yang jauh sebagai bangsa dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan.

Semua itu dapat terjadi jika tidak ada Jokowi dan Prabowo di kertas suara. Selama foto dan wajah mereka masih ada di kertas suara, selama itu wajah persatuan negeri ini akan sulit ditemukan.

Jokowi orang baik, sederhana dan menunjukan keberpihakan kepada rakyat, tapi ya sudahlah. Begitu juga dengan Prabowo, kita belum melihat sejauh mana kemampuannya, tapi kita tahu ia mencintai bangsa ini. Kita tidak meragukan mereka berdua, namun sayang, polarisasi sudah terjadi, dua kekuatan ini sulit disatukan, dan akhirnya kondisinya seperti ini.

Atas nama persaudaraan sejati, sadarlah, diluar mereka, diluar mereka masih ada sejumlah nama yang bisa membangun tanpa diolok-olok. Sadarlah bahwa pasti setelah rivalitas ini, tak ada lagi rivalitas politik tanpa olok-olok.

Ooh iya, lagian debat mereka juga biasa-biasa saja! (**)