4 bulan lalu · 765 view · 3 min baca menit baca · Politik 63217_12694.jpg

Jokowi Butuh Apa Lagi?

Sebagai lelaki Jawa, Jokowi sudah paripurna. Secara ekonomi, tercukupi lewat usaha mebelnya. Memang tidak superkaya, namun tidak bisa juga disebut sebagai kalangan menengah. Jokowi tetap masuk kriteria orang kaya jika merujuk pada laporan kekayaan yang ada.

Punya istri yang setia dan tampak apa adanya. Punya anak yang juga sudah mandiri, punya sepasang cucu yang lucu. Jabatan pribadinya juga sudah paripurna, sebagai presiden di usia yang belum genap 60 tahun—usia emas seorang lelaki antara 40-60 sebagaimana yang pernah juga diucapkan B.J Habibie.

Kehidupan pribadinya sudah tuntas. Secara filosofis, orang Jawa itu punya dua pilihan, menjadi mulya atau mukti. Rata-rata memilih mukti. Artinya, hidupnya bermanfaat buat banyak orang, meski tidak kaya raya. Sebab dalam kekayaan yang digenggam, pasti ada ambisi yang tak pernah mati, untuk menjaga sekaligus mengamankan aset-asetnya.

Jokowi butuh apa lagi? Ia telah melampui kriteria lelaki Jawa, yang harus punya tiga hal: wismo, turonggo, dan kalilo. Jadi mulya juga sudah ia dapatkan, jadi mukti juga ia jalankan sebagai Walikota, Gubernur, dan Presiden.

Jadi tak berlebihan ketika ia berucap pada Ustaz Yusuf Mansur bahwa kalah atau menang tak jadi soal. Kalau kalah nanti, kata Jokowi sambil bercanda, akan melamar menjadi satpam paytren.


Lantas, karena sudah paripurna sebagai pribadi, itulah yang mungkin membuatnya terlihat tenang, dengan berbagai serangan dan stigma dari banyak orang. Silih berganti. Meski kadang kala terpantik juga, meski dengan ekspresi yang teramat biasa.

Apa karena itu trend politik berubah, sebut saja sekarang ini, membela pemerintah jadi semacam kebanggaan. Padahal sebelum ini trend utama justru mengkritik pemerintah. Nyatanya publik terbelah.

Para swing voters misal, pada hari H jadi bandul penentu dan biasanya bergeser ke Jokowi, seperti 2014 silam. Bahasa diam seorang Jokowi di antara percikan api yang tak mampu membuatnya terbakar.

Jelas ada banyak kerumpangan dalam kepemimpinannya. Harga BBM naik-turun sampai orang tak lagi peduli mau naik berapa atau turun berapa. Tarif listrik juga, terasa sekali. Dua hal itu yang secara pribadi saya rasakan, dan kadang mengagetkan.

Lainnya kurang tahu. Setiap kepemimpinan ada plus dan minus. Ada yang tampak dan tersembunyi. Secara pribadi, Jokowi tak tampak menjaga jarak, bahkan pada lawan politik. Bagian paling mengharukan ketika ia mendatangi Prabowo ke Istananya yang megah di Hambalang, tak lama setelah KPU merilis hasil pemungutan suara Pilpres 2014.

Suatu peristiwa bersejarah, antarelite politik. Bahkan dalam hal ini ia melewati Amien Rais yang konon tak pernah berjumpa Gus Dur sejak dilengserkan lewat sidang MPR yang dipimpinnya. Atau SBY yang tak tampak berbincang akrab dengan Megawati selepas Pilpres 2004.


Jokowi butuh apa lagi? Andai kalah pada pemilu 2019 ini, toh ia sudah mendapatkan semuanya, secara pribadi. Meski ia mungkin masih ingin meneruskan program-programnya, yang dianggap sebagian orang gagal. Meski jika direnungi lagi, sebenarnya apa yang terjadi di negara ini masih patut disyukuri dibanding negara lain yang sibuk berkonflik dan porak poranda.

Banyak yang berharap ia lekas mengakhiri jabatan, sebab tak ingin kegagalan yang sekarang terus dilanjutkan. Ekonomi sulit, hukum tak tegak, umat Islam tersudutkan, dan lain sebagainya, menjadi narasi yang terus dihembuskan.

Andaipun kalah, maka kekalahan Jokowi pun cukup terhormat, lewat sistem pemilu. Tidak dilengserkan, atau mengundurkan diri di tengah periode kepemimpinan. Meski posisinya sebagai petahana.

Andai menang, mungkin atmosfir kepemimpinannya pada periode berikutnya akan lebih tenang. Sebab dia dan wakilnya tak berpotensi maju kembali dalam Pemilu 2024. Pihak-pihak tak berkepentingan lagi untuk menyerangnya secara politik.

Selain itu, ia akan secara total bekerja. Mau berpikir apa lagi? Elektabilitas untuk periode berikutnya? Jelas tidak mungkin. Atau bermain gimik untuk jabatan yang lebih tinggi lagi, memang ada? Tidak ada.


Periode berikutnya adalah periode paripurna, sebagai pribadi atau sebagai pemimpin di republik ini. Andai ini adalah tahun terakhir kepemimpinannya, semoga penggantinya nanti juga sudah selesai dengan dirinya, terutama dengan kepentingan pribadinya. Kepentingan korporasinya.

Berlanjut atau berganti. Diteruskan atau sampai di sini. Setiap pemimpin selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk itu saya haturkan terima kasih pada beliau yang telah berpikir dan berjuang, setidaknya untuk memajukan bangsa ini.

Artikel Terkait