Boleh saja kita katakan bahwa film Dilan 1990 menjadi film terlaris di awal tahun ini. Sampai-sampai seorang presiden Jokowi menyempatkan waktu untuk ikut nonton film percintaan berlatar tahun 1990 tersebut. Katanya sih beliau sampai 'baper' menyaksikan adegan demi adegan kata-kata romantis dari Dilan untuk Milea.

Tapi, layaknya film romantis lainnya, film Dilan 1990 cukup sampai membuat penontonnya juga ikutan 'baper' atau terbawa suasana. Tak pelak, kalimat-kalimat romantis yang Dilan ucapkan buat Milea menjadi kalimat yang kembali diucapkan para remaja dan muda-mudi untuk merayu kekasih atau 'gebetannya'.

Kebayang gak sih kalau Dilan dan Milea itu ada di kehidupan nyata dan menikah? Saat Milea mengeluh akan tingginya kebutuhan dapur, lantas Dilan ngomong gini:

"Milea, jangan masak. Masak itu berat. Biar kita makan di luar."

Romantis? Tentu. Pasangan suami-istri mana yang gak senang makan di luar ala-ala candle light dinner? Udah nikah, serasa masih pacaran. Co cweet, bukan? Pasti, bagi mereka yang belum nikah, atau masih jomblo akut.

Tapi coba bayangin, khusus bagi yang udah nikah, istri tidak perlu masak, tiap hari makan di luar. Setahun nikah, gugatan ke pengadilan Agama pasti dilayangkan.

Atau, berandai-andai lagi.. Milea mengeluhkan susahnya nyari uang. Lantas, dengan kalimat sakti romantis ala Dilan, di apun berkata:

"Milea, jangan nyari uang. Nyari uang itu berat. Biar aku saja."

Ini baru laki-laki bertanggung jawab. Pernikahan itu didasari saling percaya, dengan kejujuran, bukan gombalan belaka. Kalau tidak sesuai kenyataan, misalnya Dilan gak punya uang, dan harus minjem, Milea langsung gugat? 

Sebagai istri yang bijaksana, tentunya Milea akan paham kondisi Dilan. Ia akan support segala usaha Dilan. Dan yakin bahwa Dilan akan membawa keluarganya menuju keluarga sejahtera, bukan?

Lantas, hubungannya dengan Jokowi apa?

Jokowi memang bukanlah Dilan, yang bisa mengeluarkan "kata-kata" romantis untuk membuat hati rakyat Indonesia klepek-klepek. Jokowi adalah Jokowi, yang berbicara seadanya, namun penuh makna dan aksi nyata.

Hampir 4 tahun beliau berkuasa, ia senantiasa berusaha menjadi "kepala rumah tangga" Indonesia yang bertanggung jawab, membawa Indonesia menuju kesejahteraan. Pekerjaannya banyak, menumpuk, menggunung, dan menunggu untuk dieksekusi, namun terkendala rakyat yang terpecah menjadi dua kubu, pro dan kontra.

Beruntung, lebih dari setengah populasi Indonesia mendukung penuh kinerja beliau. Sehingga apa pun yang Jokowi kerjakan, masih bisa terealisasi dengan baik. Tapi, bagaimana dengan yang kontra?

Dalam setiap periode pemerintahan, selalu ada pihak oposisi yang mengkritisi kebijakan penguasa. Dan itu hal lumrah dalam negara demokrasi.

Namun, yang membedakan adalah cara menyampaikan aspirasi yang berlebihan, bahkan lebih cenderung fitnah, provokasi, dan propaganda. Seolah-olah ingin membenturkan dua kubu masyarakat demi kepentingan kelompok.

Yang dikerjakan presiden saat ini berada pada jalur yang baik. Membangun infrastruktur merupakan salah satu jalan memperlancar gerak ekonomi kerakyatan, yang sudah jauh tertinggal dari negara berkembang lainnya.

Lalu, bagaimana dengan janji Jokowi saat kampanye? Kenapa gak direalisasikan?

Contohnya?

"Buy back Indosat!" seru kawan dari seberang jendela.

Berapa sih harga membeli kembali Indosat? Emang Indonesia gak sanggup beli?

Ya sanggup. Kenapa tidak? Bukankah dalam klausul penjualannya saat itu bahwa pemerintah bisa membeli kembali dengan harga wajar suatu saat nanti? Tapi, apa benar pembelian Indosat itu bagian dari prioritas pembangunan Indonesia?

"Tapi, kan, itu janji kampanye beliau?" kata cewek dari seberang jendela juga.

Benar, beliau berjanji bahwa bisa dibeli kembali. Tapi, beliau tidak katakan bahwa buy back sebagai prioritas, bukan?

Ini saya kutip kalimat Jokowi saat debat dengan Prabowo tahun 2014 lalu, di mana Prabowo mempertanyakan masalah Indosat.

"Klausulnya jelas, Indosat bisa diambil kembali, hanya belum kita ambil. Kuncinya hanya satu, kita buy back, kita beli kembali. Tapi, ke depan ekonomi harus tumbuh 7 persen."

"Seperti jual-beli saham, kita bisa jual dan beli kembali. Ke depan untuk hal-hal yang strategis, Indosat jadi incaran pertama. Jadi harus kita beli lagi dengan harga yang wajar."

Jadi, buy back Indosat itu jika strategis. Berdasarkan KBBI, strategis diartikan sebagai yang bertalian, berhubungan, pada tempat yang tepat. Sehingga, pembelian Indosat masih menunggu waktu yang tepat untuk dieksekusi, setelah hal-hal prioritas didahulukan.

Kita paham, kan, apa arti dari prioritas? Hal prioritas di negara kita ini adalah pembangunan infrastruktur yang belum merata dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas ke Pulau Rote.

Trans Papua, di saat sudah selesai, akan menghidupkan sendi ekonomi di pulau paling timur Indonesia itu. Yang mana selama ini terisolasi, bisa terkoneksi antardaerah dengan mudah. Yang mana selama ini hanya bisa dicapai dengan pesawat, butuh dana yang besar, nantinya bisa dicapai lewat darat dan biaya operasional lebih sedikit.

Oh iya, gak usah jauh-jauh ke Papua. Di pedalaman Sumatera Utara, sekitar 150 kilometer dari kota Medan, ada desa yang jalannya lebih buruk dari jalanan off road. Tapi, jangan salah, hasil pertaniannya seperti cabai merah keriting, jahe, jeruk madu, padi, dan sayuran melimpah ruah.

Namun, setiap para tengkulak dari ibu kota kecamatan membeli hasil pertanian mereka. Selisih harga yang dipotong dari harga normal berkisar 2000 - 3000 per kilogram. Kenapa? Karena untuk mengangkut hasil pertanian tersebut butuh biaya yang jauh lebih besar.

Andai saja Pemkab setempat memberi perhatian penuh pada infrastruktur, bukankah selisih harga tadi bisa dinikmati petani? Satu ton hasil pertanian harus dipotong 2-3 juta rupiah. Bagaimana kalau lebih?

Untuk itulah Jokowi sadar bahwa hal paling prioritas adalah pembangunan infrastruktur dan Jaminan Kesehatan daripada buy back Indosat dan penyaluran subsidi, yang bisa membuat rakyat manja dan tidak mandiri.

"Terus, masalah hutang luar negeri?" kata cowok di seberang jendela lagi.

Lagi-lagi dari seberang jendela, belum mau keluar rumah sehingga wawasan yang dilihat hanya sebatas lebar jendela.

Sama seperti cerita Dilan jika suatu saat nanti menikah dengan Milea. Di saat uang tidak ada, kebutuhan mendesak, Dilan pun harus ngutang. Wajar, bukan?

Kan uangnya buat kebutuhan keluarga, bukan buat foya-foya. Apa Milea akan gugat cerai? Sebagai istri yang bijaksana, Milea pasti akan paham dan mendukung hal yang dilakukan Dilan.

Lantas, bisakah kita menjadi "Milea"-nya Jokowi?

Jokowi itu bukanlah Dilan yang bisa mengucapkan rayuan manis untuk membuat kita terbuai. Jokowi itu sedang bekerja membangun ketertinggalan bangsa dari negara lain. Berusaha membangun Indonesia dari Desa dan sedang berupaya menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia lewat pemerataan harga dan kesetaraan pembangunan.

Jokowi itu bukanlah Dilan. Namun, Dilan yang akan bisa seperti Jokowi di saat dia sudah menikah dengan Milea nantinya.

Kawan, jangan benci. Benci itu berat. Biar mereka yang tidak punya hati saja.