Penulis
3 tahun lalu · 32351 view · 3 min baca menit baca · Politik jonru.jpg

Jokowi Adalah Presiden Kesayangan Jonru

Dalam sebuah adegan di film The Dark Knight, Joker dengan terkekeh memberi alasan kepada Batman mengapa dia tidak ingin membunuhnya. 

“Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Apa yang akan aku lakukan tanpamu? Kembali membunuh penjahat jalanan? Tidak, tidak, tidak! Tidak. Kehadiranmu melengkapi diriku.”

Ingatan saya langsung tertuju kepada dialog di atas setelah saya mengamati segala omongan Jonru tentang Jokowi. 

Jonru dan Jokowi adalah dua entitas yang tidak terpisahkan. Kehadiran Jokowi bagi Jonru adalah penting. Tanpa Jokowi, Jonru hanyalah penulis yang tak dikenal siapa pun. Jokowi membuat Jonru bagai nabi bagi para pengikutnya yang jumlahnya mencapai jutaan orang.

Jon Riah Ukur, nama asli Jonru, atau Jonru Ginting mulai dikenal orang saat Pilpres 2014 di mana dia mendukung Capres Prabowo Subianto. Jokowi, Capres lawan Prabowo,, menjadi sasaran empuk kritikan, eh omongan Jonru. 

Saya tidak menyebut Jonru melakukan kritikan karena syarat omongan disebut kritikan sangat banyak, di antaranya: kritik harus disampaikan dengan alasan yang logis, disertai solusi permasalahan, menggunakan bahasa yang santun, serta tidak menggunakan kalimat-kalimat yang menyinggung perasaan orang lain.

Coba kita tengok Facebook Page (FP) Jonru yang jumlah like-nya hampir mencapai satu juta. Mayoritas status yang ditulis Jonru selalu membicarakan sosok Jokowi. Sayangnya, bukan kebijakan Jokowi di pemerintahan yang dibicarakan, namun lebih ke pribadi Jokowi. Jonru tidak memberi solusi atas permasalahan.


Dia sering menggunakan kalimat-kalimat yang menyinggung Jokowi. Misalnya, dia meragukan ibu kandung Jokowi yang menurutnya tidak jelas. Karena ketidakjelasan itulah dia menyimpulkan semua yang dilakukan Jokowi di pemerintahannya tidak jelas. Sebuah pendapat yang ngawur dengan kesimpulan yang tidak logis.

Bagaimana bisa asal-usul seseorang dipakai untuk menilai sebuah kebijakan yang dilakukan orang lain? 

Jika memakai logika Jonru, maka orang mungkin akan menilai Jonru adalah orang yang tidak jelas juga. Karena toh semua orang tidak tahu asal-usul Jonru. Dia tidak pernah mengungkapkan siapa ayah dan ibu kandungnya. Maka menilai seseorang dari asal-usulnya adalah pendapat ngawur dan tendensius yang didasari dengan sikap kebencian kepada orang tersebut.

Saya ingat kutipan dari Eleanor Roosevelt, Ibu Negara AS, “Orang yang berpikir besar membicarakan ide dan gagasan, orang yang berpikir sempit selalu membicarakan orang lain.” 

Kutipan itu cocok untuk Jonru karena dia hobi membicarakan Jokowi tanpa pernah membicarakan apa ide dan gagasannya untuk memajukan bangsa ini. Jokowi bagi Jonru adalah sosok yang selalu salah. Melakukan ibadah salah, tidak melakukan ibadah tambah salah.

Meski begitu, kehadiran Jokowi bagi Jonru adalah penting. Apa buktinya? Jokowi secara tidak langsung memberi nafkah buat Jonru dan anak istrinya. FP Jonru yang dipenuhi jutaan fans berat Jonru bisa di-monetize. Kerumunan orang pemuja Jonru akan bisa dikonversi menjadi uang. Bagaimana caranya?

Dengan terkenalnya Jonru, maka seminar-seminar yang digelarnya berpotensi untuk diikuti para fans beratnya. Dia pernah menggelar seminar “Rahasia Menjadi Penulis Sukses” dengan biaya Rp200 ribu. Temu akrabnya pun sempat dibanderol Rp60 ribu dengan bonus buku yang ditulisnya. Orang akan selalu mencari dan membeli buku atau novel yang ditulisnya.

Jonru adalah sosok yang “pintar” memanfaatkan peluang pasar. Bangsa ini dipenuhi orang-orang yang sering menganggap berita hoaks yang sesuai dengan pemikirannya sebagai berita benar. Masyarakat pengguna Facebook mudah sekali memberi like, menulis "amin", dan share status-status dengan iming-iming surga. 

Belum lagi para barisan sakit hati yang belum move on atas kekalahan Capres mereka saat Pilpres kemarin. Orang-orang yang setiap hari nyinyir kepada Jokowi di medsos yang masing-masing punya pengikut meski tak sebanyak Jonru.

Dengan banyaknya orang-orang seperti itu, maka akan tercipta pasar menggiurkan yang bisa dimanfaatkan. Sosok seperti Jonru akan bermunculan bak jamur di musim hujan.

Kita dikenal juga sebagai bangsa yang orang-orangnya menghalalkan segala cara demi mencari uang. Orang rela menjadi joki 3 in 1, mengaku kakinya buntung untuk mengemis, menjadi calo PNS, dan lain-lain. Semua akan dilakukan untuk mendapatkan uang meski tak menggunakan etika.


Saat ini Jonru membuat Jonru Media Center (JMC), Ryzkita Store sebuah toko online yang menjual berbagai keperluan rumah tangga, dan Dapur Buku yang menjual buku-buku secara online. 

Novel karya Jonru berjudul “Cinta Tak Sempurna” pun dijual di sini. Kerumunan orang yang memuja Jonru yang juga sepaham dengannya akan sering melihat produk-produk yang dijual Jonru melalui FP-nya. Sehingga peluang untuk membeli produk-produknya makin besar. It’s all about money, huh?

Jika dianalogikan, Jonru adalah lalat yang hinggap di tubuh seekor banteng untuk mencari makan. Kehadiran Jokowi akan selalu menguntungkan Jonru. Dia akan berlama-lama hinggap di tubuh Jokowi menikmati kehadirannya. 

Jokowi akan selalu memberi manfaat untuk Jonru. Jonru mungkin tidak rela jika Jokowi berhenti di tengah jalan mengakhiri masa jabatannya. Jika Jokowi tidak menjadi presiden, Jonru akan kebingungan menulis status apa di FP-nya untuk para pengikutnya.

Jokowi adalah Presiden kesayangan Jonru. Sinetron televisi tak akan seru jika hanya ada tokoh protagonis. Tokoh antagonis harus diciptakan. Semua saling melengkapi. Seperti Batman bagi Joker, kehadiran Jokowi melengkapi Jonru.

Artikel Terkait