Setelah memecahkan rekor sebagai film R-rated dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, Joker akhirnya memboyong dua piala di ajang Academy Awards ke-92 pada 10 Februari 2020 lalu. 

Sempat memicu kontroversi sepanjang 2019, film arahan Todd Phillips ini berhasil memenangkan nominasi Aktor Terbaik untuk Joaquin Phoenix dan Musik Orisinal Terbaik untuk Hildur Guðnadóttir. 

Namun sebelum dielu-elukan di berbagai festival film dan ajang bergengsi, pemilihan Joaquin Phoenix sebagai Joker sempat menimbulkan kontra. Tampaknya, sebagian besar penggemar arc-enemy Batman ini masih belum bisa move on dari Joker versi Heath Ledger, di mana lainnya masih memberi kesempatan pada Joker versi Jared Leto untuk kembali unjuk gigi di layar lebar, mengingat penampilannya dalam Suicide Squad yang sangat singkat.

Layaknya sejarah yang berulang, pemilihan Heath Ledger sebagai karakter Joker untuk film The Dark Knight juga sempat memunculkan reaksi negatif. Ledger bahkan sempat menolak tawaran ini karena takut mendapatkan “serangan” dari para penggemar Batman yang militan, walau pada akhirnya berhasil membuktikan kepiawaian aktingnya dan membawakan sosok ini dengan sempurna.

Pembawaan Ledger sebagai Joker memang patut diacungi dua jempol. Dalam film itu, ia berhasil membawakan Joker sebagai simbol kekacauan—lawan dari Batman yang menjadi simbol keteraturan. Joker versinya memang terlihat mirip dengan gambaran komiknya: seorang psikopat narsis dengan kemampuan intelektual yang tinggi.

Berbeda dengan versi Ledger, sosok Arthur Fleck (Joker) yang diperankan oleh Phoenix lebih manusiawi. Plot di dalam Joker juga berfokus pada transformasi Arthur dari pria miskin yang dimarjinalkan sampai menjadi sosok martir yang memiliki banyak pengikut.

Sekilas, Joker memang menyoroti hampir setiap masalah sosial yang ada di dalam masyarakat, mulai dari keadaan rumah tangga yang hancur tanpa sosok ayah, penyakit mental, efek buruk dari pencabutan fasilitas kesehatan mental, sampai kehancuran komunitas karena ketimpangan ekonomi yang parah.

Dalam berbagai diskusi, baik di internet maupun forum kritikus, banyak yang merepresentasikan Joker versi Phoenix sebagai seorang left anarchist yang telah memicu gerakan sosial untuk menghancurkan dominasi kaum borjuis di kota Gotham. Faktanya, dalam Joker Arthur pernah menyatakan kalau ia tidak tertarik dengan gerakan politik manapun.

Hal ini jelas, karena pada titik ini Joker versinya bukanlah agen kekacauan seperti yang digambarkan dalam The Dark Knight. Lebih jauh lagi, realisme superlatif Phoenix dalam memerankan Arthur justru berhasil meningkatkan filosofi absurdisme yang telah lama melekat dalam diri Joker.

Selanjutnya, artikel ini akan membahas Joker melalui lensa absurdisme Albert Camus.

Absurdisme Camus dalam Joker

Dalam Joker, dijelaskan kalau Arthur suka menulis dark jokes. Salah satu kalimat buatannya yang sering dipromosikan di sepanjang film adalah, “Aku harap kematianku menghasilkan lebih banyak uang dari hidupku.” Jelas sekali kalau kalimat ini mengisyaratkan sebuah perenungan untuk bunuh diri—bukan hanya cerminan humor gelapnya.

Di sepanjang film, kita tahu kalau kekecewaan Arthur terhadap dunia akan menggiringnya ke transformasi ikoniknya. Saat jatuh ke dalam jurang keputusasaan ketika mencoba untuk kembali terhubung dan mendapatkan pengakuan dari dunia di sekitarnya, Arthur berubah menjadi sosok “Pahlawan Absurd” (Absurd Hero) yang dikenal sebagai Joker.

Diciptakan oleh Albert Camus, Pahlawan Absurd adalah personifikasi filsafat absurdisme, yang tidak hanya mengakui absurditas dalam kondisi manusia tetapi juga merangkul perjuangan hidup tanpa makna—namun puas—di alam semesta yang terus bergejolak dan tidak koheren.

Jika aku melihat seseorang yang hanya bersenjatakan pedang menyerang sekelompok orang dengan senapan mesin, aku akan menganggap tindakannya itu tidak masuk akal. Tetapi itu semata-mata karena ketidakseimbangan antara niatnya dan kenyataan yang akan ia hadapi, dari kontradiksi yang aku perhatikan antara kekuatannya yang sebenarnya dan tujuan yang ia miliki. ~ Albert Camus dalam Mitos Sisyphus.

Ketika Camus menulis gagasan tentang Pahlawan Absurd dalam Mitos Sisyphus, ia bermaksud untuk mengilustrasikan bahwa meskipun upaya Sisyphus pada akhirnya tidak ada artinya, itu adalah tujuan sebenarnya dari Pahlawan Absurd untuk menemukan pencerahan dalam kesia-siaan perjuangannya.

Sama seperti Sisyphus, perlahan-lahan Arthur juga menyadari tujuan ini ketika tragedi demi tragedi terus menimpanya di sepanjang film, lalu mulai menyadari kalau dunia tempatnya tinggal hanyalah sebuah arena kekacauan dan ketidakberartian. Seperti kata Camus, absurdisme adalah "perceraian” antara hal yang diinginkan oleh pikiran dengan realita yang mengecewakan.

Ketika Joker memasuki third act, Arthur merangkul filosofi ini sepenuhnya dengan menari, yang secara literal dan metaforis sesuai dengan gagasan absurdisme; karena dunia itu sendiri tidak masuk akal, Arthur bereaksi terhadapnya dengan cara yang tidak masuk akal juga: dengan menari. Saat ia mengakui absurditas—di akhir film, Arthur akhirnya menemukan kebahagiaan sejati sebagai Pahlawan Absurd. 

Apa yang sangat selaras dengan filosofi Camus adalah bagaimana karakter Arthur berhasil menangkap esensi kondisi manusia pada umumnya. Sedangkan alasan mengapa khalayak dan kritikus sangat tertarik pada penggambaran Phoenix sebagai Joker adalah karena ia berhasil menanamkan esensi ini secara fantastis, yang menusuk di setiap langkahnya dengan tawa absurd yang “mencibir” tatanan masyarakat.

Di saat penonton bersimpati dengan Arthur, terutama ketika dia susah payah melakukan perjalanan eksistensial untuk menemukan dirinya sendiri, dia juga berhasil menggambarkan krisis eksistensial, kecemasan, dan kesedihan yang dapat ditemui dalam diri semua manusia yang mewakili bentuk ekstrem dari absurdisme—nihilisme.

Terlepas dari absurdisme Arthur, Joker adalah film yang memungkinkan penontonnya untuk merasakan nihilisme, disasosiasi, dan proses pemisahan Arthur Fleck dari masyarakat selama dua jam berturut-turut. Nihilisme dalam Joker sendiri diwakilkan melalui pembunuhan dan revolusi yang dipicu oleh Arthur.

Nihilisme dalam Joker juga terlihat saat Murray bertanya apakah Arthur memakai make-up badut karena alasan politik atau tidak. Sambil setengah tersenyum ia mengatakan, “Tidak, aku tidak percaya pada semua itu [politik]. Aku tidak percaya pada apa pun.”

Lalu saat Murray bertanya mengapa audiens harus percaya pada klaimnya atas pembunuhan yang ia lakukan terhadap tiga pria kelas menengah di subway, Arthur berkata, “Aku tidak akan kehilangan apa pun, tidak ada yang bisa menyakitiku lagi. Hidupku tidak lebih dari komedi."

Namun alih-alih menjadi nihilis seperti Joker versi Heath Ledger, Arthur Fleck justru menjadi sosok yang absurd, karena meskipun ia dibesarkan, diperlakukan dengan buruk, dan mengalami berbagai kejadian yang menyedihkan, ia menolak untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dan malah menari sambil tersenyum.

Tentu saja, Arthur mengalami revolusi besar di dalam jiwanya dalam waktu singkat untuk menemukan dirinya kembali sebagai “manusia baru,” atau dalam hal ini adalah Pahlawan Absurd atau Joker. Kita semua tahu bahwa ketika dia telah menjadi Joker, dia tidak akan pernah melihat ke belakang lagi.

Seperti yang dikatakan Camus, “Dari saat absurditas diakui, itu akan menjadi gairah yang paling mengerikan dari semuanya.” Jelas sekali kalau absurdisme dalam Joker menertawakan pencarian manusia akan makna di alam semesta yang sama sekali tidak memiliki makna objektif.

Ya, seseorang harus membayangkan Arthur bahagia; tapi tidak perlu membayangkan Joker bahagia pula.