Peneliti
1 tahun lalu · 152 view · 4 menit baca · Budaya 46024_63032.jpg

Jojorong-Bintul Pendongkrak Ekonomi Umat

Banten, selain dikenal sebagai bumi para jawara, ia juga sangat dikenal sebagai tempat tumbuh suburnya pesantren. Sebut saja Pandeglang, Lebak dan Serang. Belum lagi jika kita memotret Tangerang dan Cilegon, banyak pesantren yang bertengger di beberapa kabupaten tersebut. Mulai dari pesantren tradisional, salafi, hingga modern dan ekstra modern. Semuanya ada di sana.

Wajar dan rasional jika Banten disebut sebagai kota santri yang religius, meski  parameter “religius” bisa didiskusikan dan diperdebatkan lebih lanjut. Tapi itu soal lain. Yang jelas, jika kita membaca sejarah, Banten mempunyai akar kultur keagamaan yang kuat semenjak dahulu kala.

Suasana keagamaan sangat jelas terlihat di sana ketika masuk bulan ramadan. Mayoritas penduduknya yang Muslim membuat ramadan lebih sumringah dan bercahaya. Lantunan ayat suci Alquran menjelang magrib dan subuh berkumandang di seluruh pelosok kampong, desa dan kota. Ditambah senandung salawat dan puji-pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW saling bergantian dan menimpali dari sumber pengeras suara masjid dan musala, menambah spirit ibadah puasa warga Banten.

Selain dihiasi kegiatan keagamaan, ada pemandangan menarik yang hanya terjadi pada bulan puasa ini. Biasanya terlihat kentara menjelang sore hari. Banyak pedagang dadakan berjejer di pinggir jalan menjajakan panganan (kuliner) khas berbuka hingga makanan berat untuk berbuka puasa. Mulai dari bintul, jojorong, apem putih, kolak, gorengan, timun suri, minuman segar hingga nasi uduk, nasi padang dan sejenisnya.

Karena dadakan, tempat penyajian dagangan mereka pun seadanya saja. Terlihat meja kecil yang dilapisi plastik sebagai alas ditambah penutup makanan seadanya untuk menghindarkan makanan dan minuman yang disajikan dari debu dan lalat, bahkan kadang ada juga yang tak ditutupi, dibiarkan telanjang begitu saja.

Tengok saja jalan-jalan di tempat Anda tinggal, terutama jalan utama yang dilalui warga. Berapa jumlah pedagang dadakan yang Anda lihat. Belum lagi sejumlah pedagang dadakan yang mendiami tempat khusus yang sudah disediakan sebagai tempat mangkal untuk berjualan, semacam pujasera atau food court dan sejenisnya. Jika kita hitung, ratusan bahkan ribuan jumlahnya di wilayah Banten ini. 

 

Dongkrak Ekonomi

Sealanjutnya, coba Anda hitung berapa kira-kira jumlah perputaran uang yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi warga Banten tersebut? Ditambah perputaran uang yang beroperasi di kafe, mal, restoran dan hotel di wilayah Banten tersebut. Belum lagi perputaran uang di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Menurut data yang diperoleh dari Bank Indonesia, perputaran uang di Indonesia selama bulan Ramadhan 2017 mencapai Rp 700 triliun. Tahun 2018 kini, bisa jadi angkanya bergerak naik signifikan. Angka yang disebutkan tadi, tentu sebagian dari kontribusi para pedagang dadakan di atas.

Alhasil, jika itu terjadi berarti secara otomatis mereka telah menyumbang pada produk domestik bruto (PDB). Mereka juga telah ikut serta menumbuhkan industri makanan dan minuman yang menurut data Kementerian Perindustrian jumlahnya mencapai 9,64% di triwulan III. Capaian tersebut naik dari triwulan sebelumnya, yakni 7,9% (kemenperin.go.id, 2017)

Data kedua diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan industri makanan dan minuman memiliki kontribusi terhadap PDB sektor nonmigas sebesar 34,95%. Sebuah angka capaian tertinggi dibanding sektor-sektor lainnya seperti industri komputer dan logam (bps.go.id, 2017)

Dengan demikian kita harus mengapreseasi kegiatan ekonomi para pedagang dadakan tersebut karena tanpa mereka ekonomi negeri ini rapuh. Kekuatan ekonomi negeri ini ada di tangan mereka. Persoalan kemudian yang harus dibenahi adalah bagaimana mengangkat mereka menjadi pedagang dadakan yang kreatif dan inovatif dalam mengemas atau menyajikan produknya, sehingga bisa bersaing karena memiliki nilai mutu yang tinggi dan akhirnya bisa diekspor ke luar negeri.

Sebut saja, nasib mujur teh thailand yang dikenal sebutan “thai tea”. Kini ia sudah “menjajah” negara-negara di belahan dunia dengan keunikan dan kekhasan minuman tersebut, tentu didukung juga dengan kemasan yang menarik konsumen, pula didukung oleh teknologi dalam promosi dan distribusinya.

Bisa jadi “bintul”, ketan khas Banten atau “jojorong”, kue yang berbahan dasar tepung kanji atau tepung beras serta gula merah dalam daun itu, bisa senasib dengan thai tea. Ia bisa “menginvasi” kota-kota besar di Indonesia bahkan dunia sekali pun, jika para pedagang bintul dan jojorong lebih kreatif dan inovatif. Tentu dukungan modal dan teknologi menjadi faktor utama selain keterampilan (skill) yang terasah juga.

Sinergitas antara pedagang, penyedia modal, pusat keterampilan serta promosi diperlukan untuk menumbuhkan ekonomi umat. Pemerintah, melalui lembaga perkreditan negara, harusnya lebih memberi kemudahan bagi pengusaha kecil dan menengah untuk mengembangkan sayap usaha mereka. Dinas tenaga kerja juga harus lebih aktif memberikan pelatihan bagi mereka agar mental serta instink  entrepreneurship mereka bisa terangsang dan terasah.    

Banten selain kota santri, juga merupakan kota wisata kuliner. Sate bandeng, rabeg, nasi bakar, apem putih, bintul dan jojorong adalah bagian kecil dari beberapa kuliner lainnya yang bisa dijadikan produk khas unggulan untuk mengangkat ekonomi umat. Kemasan dan promosi menjadi pekerjaan rumah bagi para pengusaha untuk meningkatkan “derajat” kuliner tersebut di kancah nasional dan dunia.

Sesuatu yang besar pasti berawal dari yang kecil, sebagaimana disebutkan dalam adagium Arab “Qotrun qotrun shooro bahrun”. Setetes demi seteses lama lama menjadi laut. Tak ada yang tak mustahil di dunia ini. Usaha dan kreatifitas adalah modal awal menjadi sukses membangun ekonomi umat. Pedagang besar awalnya pasti dari pedagang kecil. Proses, waktu dan pengalaman yang menempanya. Pedagang kecil sangat berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi global. Ekonomi umat insya Allah membawa berkat. Amien.  

Artikel Terkait