Saya membaca tulisan Sdr. Miftakhur Risal “Butuhkah Kita pada Sosok (seperti) Zakir Naik?” dengan cukup antusias karena, pertama, saya punya minat besar pada aspek polemik dalam wacana keagamaan. Kedua, sosok Zakir Naik menarik perhatian karena saya berada dalam komite disertasi seorang mahasiswa di Universitas Notre Dame yang menulis tentang fenomena Naik dan lembaganya, Islamic Research Foundation.

Yang menggoda saya menulis catatan pendek ini bukan karena Naik, tapi cara Miftakh menggambarkan sarjana al-Qur’an yang cukup dihormati, John Burton. Tulisan guru besar di Universitas St. Andrews yang disinggung Miftakh ialah “Linguistic Errors in the Qur’an” (Miftakh menulis “errors” tanpa s) yang dimuat Journal of Semitic Studies 33/2 (1988).

Miftakh memulai tulisannya sebagai berikut: “John Burton, lewat tulisannya berjudul Linguistic Error in the Quran yang dipublikasikan pada tahun 1988 dalam Journal of Semitic Studies, melakukan upaya kritik terhadap Al Qur’an.” Saya membaca tulisan Burton dan bukunya yang lain berulang kali karena menjadi bacaan wajib ketika kuliah di Universitas Chicago.

Yang saya gagal paham ialah dari mana bisa dipahami bahwa penulis The Collection of the Qur’an itu “melakukan upaya kritik terhadap Al-Qur’an.” Di bagian lain, Miftakh menyejajarkan Burton dengan Naik dan bertanya retoris “perlukah kita (umat beragama) punya sosok seperti Zakir Naik, Burton, dan Abd Fadi?” seolah level kesarjanaan Burton sama dengan Naik dan Abd Fadl.

Saya tak perlu tunjukkan di sini keseriusan Burton sebagai sarjana al-Qur’an yang punya pengaruh besar dalam studi Islam. Teorinya tentang kanonisasi teks al-Qur’an kerap disejajarkan dengan John Wansbrough, yang menjadi koleganya di School of Oriental and African Studies (SOAS), London. Bedanya, kalau Wansbrough menyebut stabilisasi teks al-Qur’an berlangsung sangat lamban hingga awal abad ke-9, Burton berargumen teks al-Qur’an sudah stabil sejak zaman Nabi.

Bagi sarjana yang disebut terakhir, riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa al-Qur’an dikodifikasi pada zaman Abu Bakar atau Utsman tak lebih dari upaya untuk menutupi kenyataan adanya ayat-ayat yang tidak termuat dalam mushaf yang belakangan diterima luas. Maka, dikembangkanlah teori nasakh (abrogasi) untuk menjustifikasi hukum-hukum yang berlaku tapi tidak ditemukan rujukan ayatnya dalam mushaf al-Qur’an. Kodeks al-Qur’an, kata Burton, sudah ada sejak Muhammad masih hidup.

Sebagaimana Wansbrough menginspirasi lahirnya mazhab revisionisme dalam studi Islam, posisi Burton juga tak kalah revisionis karena “memporak-porandakan” teori pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an sebagaimana disebutkan sumber-sumber Muslim tradisional. Wansbrough sangat respek terhadap gagasan koleganya itu. Kendati punya ide berseberangan, ia mereview karya Burton dengan penuh penghormatan.

Kembali ke tulisan Miftakh, bisakah disebutkan di mana letak kritik Burton dalam tulisannya tentang “linguistic errors”? Menulis tema “linguistic errors” tidak otomatis kritik terhadap al-Qur’an karena wacana itu sudah muncul cukup awal dalam sejarah al-Qur’an.

Kalau anda baca tulisan Burton, yang dilakukannya justeru untuk menjelaskan bagaimana “kesalahan al-Qur’an” dilihat dari segi bahasa itu didiskusikan oleh para ulama Muslim. Misalnya, terkait Q. 4:162, 5:69 dan 20:63, Burton mengutip reaksi A’isyah (istri Nabi): “Para penulis wahyu salah menuliskannya.”

Menarik dicatat, Burton tidak berhenti di situ. Ia menelusuri isnad pernyataan A’isyah tersebut sebagaimana dirunut oleh Suyuthi. Singkatnya, Burton membatasi diskusinya pada ayat-ayat yang oleh ulama Muslim awal sendiri dianggap “bermasalah” dilihat dari segi tata-bahasa Arab.

Di situ terlihat ketekunannya meng-ubrek-ubrek kitab-kitab klasik yang sebagian kaum Muslim sendiri malas membacanya. Karya-karya al-Farra’, Abu ‘Ubaydah, Ibn Qutaybah, Sa’d b. Dani hingga mufasir seperti Tabari, Zamakhsyari, Razi, Tabarsi ditelisiknya untuk mengetahui bagaimana mereka menjelaskan “linguistic errors” tersebut. Tugas sarjana ialah mencoba memahami suatu masalah dari berbagai sumber yang tersedia dan mengajukan penjelasan berdasar proses penyimpulan yang masuk akal.

Hal itu terlihat jelas dalam tulisan Burton. Saya bahkan tidak tahu bagaimana sebenarnya sikap Burton sendiri, karena fokusnya semata untuk mengurai penjelasan ulama-ulama Muslim. Saya juga tidak tahu apakah fair menyejajarkan kesarjanaan Burton dengan Naik dan Abd Fadi. Walau belum baca buku Abd Fadi, saya menduga jarak perbedaannya adalah antara langit dan sumur minyak.

Jika anda sudah baca tulisan Burton, mohon baca kembali. Jika belum, mohon baca dahulu sebelum memberikan judgement atas kesarjanaannya. Salam.