14190_86945.jpg
www.pexels.com
Filsafat · 6 menit baca

John Armstrong dan Sebuah Upaya Memaknai Cinta
Mengapa Cinta Begitu Sulit untuk Ditemukan dan Dipertahankan

Cinta merupakan tema sentral yang sering dituliskan oleh banyak orang dalam dinding beranda atau linimasa media sosial miliknya. Tetapi tentu akan lebih sulit bila harus merefleksikannya.

Banyak anggapan bahwa cinta itu memuat kebahagiaan sebagaimana yang diutarakan oleh pujangga, semacam Sapardi dan Pabichara, tapi anehnya justru dalam hubungan percintaan sepasang kekasih, sering sekali dijumpai mereka-mereka yang tersakiti atau justru menyakiti kekasihnya sendiri, sehingga di sini memunculkan pertanyaan. 

Jika memang cinta adalah sesuatu yang kita selalu ingin dan upayakan, mengapa cinta begitu sulit untuk ditemukan dan dipertahankan?

Keberadaan cinta tentunya selalu diidam-idamkan, tapi untuk dapat menjelaskan secara tepat apa itu cinta dan bagaimana kaitannya dengan kehidupan nyata tentu bukan persoalan yang mudah. John Armstrong, seorang filsuf Inggris kontemporer menyatakan cinta perlu direalisasikan dalam tingkah laku jika memang ingin dikomunikasikan, meski terkadang fakta ini memicu timbulnya berbagai permasalahan cinta mendatang, tetapi tetap saja itu adalah satu-satunya jalan menuju harapan.

Cinta tentu menawarkan pelbagai ragam kisah, entah ia akan memiliki akhir yang bahagia atau sedih, kita sendirilah yang menentukannya, berperan andil sebagai penulis sekaligus aktor. Di mana ada cinta, di situ ada kehidupan, dan di mana ada kebencian, di sana ada kemusnahan. Kesalingan tersebut menjelaskan bahwa cinta sendiri kadang tidak berjalan mulus sebagaimana mestinya.

Tentu sungguh sayang, dalam prosesnya pun cinta terkadang menuai pengalaman pahit. Mungkin saja malam ini, sepasang kekasih sedang menikmati ranumnya buah percintaan, namun di sisi bumi yang lain mungkin saja terdapat sepasang kekasih yang sedang menikmati getirnya buah percintaan yang telah busuk dan bercampur dengan sepatnya rasa belatung-belatung amis yang menggerogoti. Hal itu terjadi ketika tidak lagi ditemukannya keselarasan di antara kedua belah pihak.

Tapi tentu sebagai manusia kita menghendaki keadaan cinta yang sampai akhir, namun bagi Armstrong, keberadaan kehendak tersebut tanpa sadar memfokuskan perhatian kita pada bagaimana hubungan tersebut dimulai dan menafikkan kedinamisan dari hubungan yang dijalin tersebut. Jika benar demikian maka yang dirasakan di sana bukanlah pada bentuk cinta sebenarnya, melainkan itu hanya suatu bentuk kekaguman belaka yang sewaktu-waktu dapat memudar dengan pasti.

Sebenarnya hubungan ini telah lama diceritakan melalui mitos Yunani kuno oleh Aristophanes, di mana awalnya setiap manusia memiliki dua wajah, dua punggung, empat tangan, dan empat kaki.

Makhluk bernama manusia ini memiliki tiga kelamin, yakni laki-laki, perempuan, dan hemaprodit. Sebab kesombongannya memiliki kekuatan dan tenaga yang luar biasa dan menyerang para dewa, akhirnya Zeus membelah mereka menjadi dua, sehingga dari mitos tersebut diyakini bahwa cinta dalah bentuk kerinduan setiap belahan untuk menemukan pasangan aslinya dan mengembalikan wujud aslinya dalam satu kesatuan yang sempurna.

Dari mitos tersebut menjelaskan bahwa adanya orang yang tepat bagi setiap orang di muka Bumi. Jadi, jika dalam hubungan yang manusia sekarang miliki mengalami masalah, maka ia telah salah berhubungan dengan orang yang salah, sehingga penekanannya di sini adalah seolah-olah kita harus mencari seseorang yang dirasa tepat dengan diri kita, dengan berbagai selera yang sesuai bagi kita.

Akan tetapi pemahaman ini tentu adalah pemahaman yang rapuh dan keliru, ia tidak bisa disandarkan pada kesulitan-kesulitan lain yang mungkin akan dihadapi kedepannya. Sebab permasalahan akan keserasian (tepat) tentu adalah hal yang tidak pernah terpuaskan, dan yang terjadi di sini adalah bukan bentuk dari cinta sejati yang kita pahami.

Permasalahan mengenai pada pencarian seseorang yang tepat sendiri juga menjadi suatu masalah yang terbilang fatal, sebab di sana mengartikan sang pencari tidak memiliki kewajiban untuk mencintai, dengan menemukan mereka yang serasi maka dalam pandangannya semua akan terjadi begitu mudah, yang dicari akan begitu saja jatuh cinta kepadanya dan cinta itu bertahan hingga akhir. Padahal kenyataannya tidak seperti itu, setiap orang memiliki kapasitas-kapasitas dan ketertarikan yang tanpa disadari ada dalam dirinya.

Lalu yang sebenarnya dibutuhkan adalah seseorang yang cukup baik untuk menjamin bahwa cinta itu akan berkembang. Armstrong meyakini pengalaman mencintai seseorang dalam waktu yang lama dapat menuntut penyesuaian diri terhadap pasangan, serta mengubah prioritas-prioritas. Pengalaman cinta membantu kita dalam melihat realitas perubahan. Lantas pada akhirnya keserasian di sini adalah prestasi dari cinta itu sendiri, bukan suatu prasyarat cinta.

Klaim Astrong tadi menjadi kuat jika memang cinta didasarkan pada apa yang dikatakan Aristophanes, maka konsekuensinya adalah perlu dan butuhnya timbal balik dalam prosesi cinta. Tapi sayangnya, cinta masa kanak-kanak sebagaimana yang dipahami oleh Sigmund Freud dan Simone de Beauvoir berbeda dengan cinta yang orang dewasa rasakan, sebab dalam cinta dewasa, kita tidak mungkin untuk betul-betul kembali pada situasi yang telah diciptakan seperti dahulu kecil, bayangan-bayangan seperti itu tidak akan mungkin berhasil.

Kuncinya adalah pada prosesi timbal balik, bahwa orang yang terpisah itu akan kembali menjadi satu dalam satu kesatuan yang saling melengkapi. Dalam cinta masa kanak-kanak prosesi timbal balik itu tidak mungkin terjadi, kecintaan tulus sebagaimana sang anak tidak akan pernah sama dengan kecintaan sang ibu.

Ilusi yang ditampilkan adalah seolah-olah sang anak adalah segalanya bagi sang ibu, begitu pun dengan sang ibu yang segalanya bagi sang anak. Padahal bagi sang ibu, kecintaan pada sang anak adalah sementara, jika semuanya berjalan dengan baik maka sang anak akan tumbuh dewasa dan menjalani kehidupannya. Sedangkan anak yang tidak pernah menjadi dewasa akan mimpi buruk bagi sang ibu.

Pun tidak ada yang dapat memberikan rasa kenyamanan seutuhnya pada orang dewasa, sebab menjadi dewasa berarti menyadari bahwa kenyamanan itu tidak lah abadi dan tidak akan pernah menjadi benteng yang sempurna dari penderitaan dan kehilangan. Jika pada akhirnya kita mengatakan bahwa hasrat cinta yang dikejar adalah upaya diam-diam untuk dapat kembali pada kondisi dicintai sewaktu anak-anak, maka cinta yang dialami saat dewasa seperti sekarang ini adalah mustahil adanya.

Lantas sebenarnya apa yang kita cari dari pasangan kita?

Armstrong menunjukkan kesetujuan pada argumentasi Sokrates yang ia kutip dalam bukunya yang bertajuk Conditions of Love: The Philosophy of Intimacy (2002), bahwa mencintai seseorang berarti kita menikmati kualitas-kualitas yang ada dalam diri mereka yang dirasa tepat dan kita anggap kurang dalam diri kita sendiri, namun perlu ditegaskan, menikmati kualitas-kualitas di sini bukanlah mengacu pada kepemilikan, atau merasa bahwa kualitas-kualitas tersebut sama sekali tidak dimiliki, melainkan belum banyak dari kualitas-kualitas itu yang masuk dan meresap dalam diri kita, sehingga kita meneguhkannya sebagai suatu dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Untuk memeroleh kualitas-kualitas tersebut kita harus menumbuhkannya dalam diri kita sendiri, dan nantinya secara teratur kita terus berkembang dari cinta yang individu menjadi kebaikan yang ada pada mereka.

Bagi Sokrates sendiri cinta memang melulu bermula dari ketidakcukupan, dan cinta bekerja dengan imajinasi yang ideal. Kerinduan untuk hidup bersama dengan yang kita cintai mungkin akan menyembuhkan kekurangan kita, sebagaimana yang diajukan dalam kisah Aristophanes, namun sebaiknya kita juga mengarahkan kerinduan ini pada kesadaran tertentu.

Sebab hal tersebut dapat menjatuhkan kita pada rasa ketidaksungguhan dalam mencintai, dan dengan memelihara ketertarikan secara baik dengan orang lain, kita dapat mengurangi kecenderungan untuk memenuhi kepuasan diri secara berlebihan. Ketika sesuatu berjalan dengan baik, berdekatan dengan orang lain dapat memperbaiki bias-bias kepribadian yang dimiliki seseorang. Kerinduan akan cinta pun akan jauh menjadi lebih baik.

Sehingga pertanyaan mengapa cinta begitu sulit untuk ditemukan dan dipertahankan dapat dijawab oleh pandangan Armstrong. Bahwa untuk dapat bertahan cinta memerlukan keterbukaan suatu relasi, sebab tidak ada yang dituntut dari cinta selain kesadaran hati atas sebuah perasaan, dan hal tersebut dapat membawa masing-masing pada kebahagiaan.

Selain daripada itu hasrat kita untuk menemukan seseorang yang dirasa tepat dan sempurna sebagai dasar sebuah hubungan merupakan penghambat nyata. Sedang untuk dapat bertahan cinta memerlukan sebuah penerimaan atas kedinamisan perkembangan cinta yang kian berkembang bersama masa.

Menemukan perbedaan gambaran dari permulaan cinta atau momen pertama adalah hal yang wajar, sehingga cinta sejati yang dipahami adalah suatu relasi yang tangguh menghadapi persoalan yang mungkin tak terelakkan dalam sebuah hubungan yang lebih panjang dengan penyesuaian-penyesuaian terhadap pasangan. Sebab tidak ada kecocokan yang dirasa sempurna, maka hubungan cinta mesti lah dapat mengakomodasi hal-hal seperti perbedaan.

“Dalam cinta, semusim, dan semusim lagi aku mengenalmu.”


Sumber Pokok

Armstrong, John. 2005. Kata Cinta, Diterjemahkan oleh Heri Bernung, Jakarta, Fresh Book.