Mihaly Csikszentmihalyi (baca: mi-hai cik-sent-mi-hai-i) lahir pada tahun 1934 di Fiume, sebuah kota di Italia (sekarang Kroasia) yang berbatasan dengan Yugoslavia. Dia tumbuh pada saat negaranya sedang berkecamuk dilanda perang. “Saya tidak pernah menemukan dunia yang aman di mana saya bisa hidup”, kenangnya. Keluarganya terpaksa harus membawa Mihaly ke satu pengungsian ke pengungsian yang lain. Sebagai seorang belia, dia meyakini bahwa orang dewasa tidak tahu bagaimana menjalani kehidupan yang baik.

Saat usianya menginjak 15 tahun, Mihaly berkesempatan untuk berguru pada Carl Jung, seorang psikoanalis terkenal dari Swiss. Saat dirinya tidak begitu tertarik dengan kuliah-kuliah yang diberikan Jung, Mihaly memilih untuk mempelajari bagaimana pikiran manusia bekerja dengan cara yang ilmiah. Oleh karenanya, psikologi adalah disiplin ilmu yang dipilihnya. Meskipun dia menyadari bahwa subjek itu hanya ada di negara yang jauh yang hanya dia lihat di film-film: Amerika Serikat.

Setelah bertahun-tahun menabung, dia berhasil sampai di sana —hanya untuk mendapatkan kejutan yang tidak menyenangkan ketika dia tiba. Psikologi Amerika didominasi oleh suatu ide besar, yang dicontohkan oleh seorang ilmuwan terkenal. Seorang Profesor Harvard bernama B.F. Skinner telah menjadi selebriti intelektual dengan menemukan sesuatu yang ironis.

Seperti halnya hewan-hewan yang dia uji coba, Skinner yakin bahwa manusia tidak sepenuhnya memiliki kebebasan. Manusia adalah makhluk yang dapat diprogram ulang dengan cara apa pun yang diinginkan oleh perancang yang cerdas.

Bertahun-tahun kemudian, para desainer media sosial mempertanyakan apa yang akan terjadi jika mereka mendorong para penggunanya untuk mengambil foto narsis dan memberikan mereka bentuk “hati” dan “suka”. Apakah mereka akan melakukannya secara obsesif, seobsesif merpati Skinner yang menjulurkan sayapnya ketika diberikanbiji-bijian sebagai penghargaan?

Itulah teknik inti Skinner yang diterapkan pada setidaknya 1 milyar orang saat ini. Mihaly mengetahui bahwa ide-ide ini menguasai psikologi Amerika. Karena gagasannya, Skinner menjadi seorang bintang. Wajahnya dipampang di sampul majalah Time. Hingga pada tahun 1981, 82 persen dari masyarakat berpendidikan di Amerika dapat mengidentifikasi siapa dia.

 

Aspek Psikologi Manusia

Bagi Mihaly, temuan Skinner seperti pandangan psikologi yang suram dan penuh keterbatasan. Terlepas dari hasil dan gagasan besar yang diperoleh, teori ini meniscayakan bahwa kita telah kehilangan bagian terbesar dari apa artinya menjadi manusia. Mihaly ingin menjelajahi aspek psikologi manusia yang positif dan mencerahkan. Menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekedar respons mekanis yang hampa.

Untuk memulainya, dia memutuskan untuk mempelajari sesuatu yang menurutnya merupakan salah satu pencapaian besar manusia—penciptaan karya seni. Mihaly mengajak sekelompok pelukis untuk membiarkannya menyaksikan proses mereka selama berbulan-bulan. Dia menemukan ada sejenis fokus yang tidak biasa yang mereka pilih untuk mendedikasikan hidup mereka.

Mihaly dikejutkan oleh suatu hal yang sangat berharga. Bagi sang seniman, ketika mereka sedang dalam proses penciptaan, waktu seolah menghilang. Mereka hampir tampak seperti terhipnotis, sebuah bentuk perhatian mendalam yang jarang kita temukan di tempat lain.

Ketika mereka selesai dalam menciptakan lukisan mereka, para seniman tidak memandang dengan penuh kemenangan pada apa yang telah mereka buat atau memamerkannya dan mencari pujian untuk itu. Hampir semua dari mereka hanya menyimpan lukisan itu dan mulai mengerjakan yang lain.

Jika Skinner benar—bahwa manusia melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan imbalan dan menghindari hukuman— bagi Mihaly ini tidak masuk akal. Dia menemukan bahwa kebanyakan orang-orang kreatif tampaknya tidak tertarik pada hadiah. “Ketika mereka selesai,” kata Mihaly kepada seorang pewawancara kemudian, “mereka memikirkan objeknya, hasilnya tidak begitu penting.”

Dia ingin memahami apa yang sebenarnya mendorong mereka. Apa yang memungkinkan mereka untuk fokus hanya pada satu hal yang begitu lama? Untuk mencoba memahami hal ini dengan lebih baik, Mihaly mulai mempelajari orang dewasa yang terlibat dalam aktivitas lain, terdapat di antaranya perenang jarak jauh, pemanjat tebing, atau pemain catur.

Pada awalnya mereka adalah non-profesional. Sering kali mereka melakukan hal-hal yang secara fisik tidak nyaman, melelahkan dan bahkan berbahaya, tanpa imbalan yang jelas—namun mereka menyukainya. Mihaly menyebut fenomena ini dengan “flowstate”. Sebuah bentuk fokus dan perhatian terdalam yang mereka perlukan untuk melakukan semua itu.

Dalam buku Stolen Focus: Why You Can’t Pay Attention and How To Think DeeplyAgain, penulisnya Johann Hari, akan memberikan kita jawaban secara gamblang tentang bagaimana caranya agar kita bisa berada pada kondisi “flowstate” milik Mihaly, seorang ahli psikologi yang ia wawancarai langsung di usia senjanya saat ini (ketika tulisan ini dibuat, Mihaly sudah meninggal dunia—pen). Tidak hanya Mihaly, Hari mewawancarai ratusan ilmuwan lainnya di berbagai negara sebagai riset penulisan buku ini.

Fokus yang Tercerabut

Saat Johann Hari melakukan penelitian untuk menulis buku ini, dia menemukan bahwa ada berbagai macam faktor yang telah terbukti secara ilmiah mengurangi kemampuan orang untuk fokus—berbagai faktor tersebut dia uraikan secara rinci dalam setiap babnya. Johann meyakini bahwa faktor-faktor ini telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, sehingga dia menganggap bahwa kurangnya fokus dan perhatian merupakan krisis yang nyata dan mendesak.

Dalam satu penelitian, ditemukan bahwa rata-rata seorang siswa akan berganti tugas setiap 65 detik sekali. Jumlah rata-rata waktu yang mereka fokuskan pada suatu hal hanyalah 19 detik saja. Hal serupa terjadi pada orang-orang dewasa.

Sebuah studi berbeda oleh Gloria Mark, profesor informatika dari Universitas California, mengamati berapa lama rata-rata orang dewasa yang bekerja di kantor memusatkan perhatian untuk mengerjakan tugas mereka. Jawabannya adalah 3 menit!

Dari ratusan ilmuwan yang diwawancarai, Johann menemukan bahwa ambruknya kemampuan kita untuk fokus bukanlah kegagalan personal. Ia terjadi pada kita semua tanpa terkecuali, seakan-akan dipicu oleh kekuatan yang sangat kuat. Kekuatan sistemik yang melampau kekuatan BigTech sekalipun.

Dalam buku ini, Johann merumuskannya menjadi 12 kekuatan dalam diri kita yang berperan merusak fokus dan kemampuan memperhatikan.

Buku ini adalah sintesis dari 48.000 KM lebih perjalanan Johann Hari ke berbagai belahan dunia, untuk mencari tahu bagaimana kita bisa mendapatkan kembali fokus dan perhatian kita. Di Denmark, Johann mewawancarai tim ilmuwan pertama yang menunjukkan bahwa kemampuan kolektif kita untuk fokus dan memperhatikan benar-benar menyusut dengan cepat. Kemudian dia bertemu dengan para ilmuwan lain di seluruh dunia yang telah menemukan alasannya.

Dalam buku ini kita akan berbincang-bincang dengan lebih dari 250 pakar—dari Miami hingga Moskow, dari Montreal hingga Melbourne. Pencarian gila dari penulisnya untuk mendapatkan jawaban tentang masalah ini, membawanya ke tempat-tempat tak terduga. Dari Rio de Janeiro, di mana perhatian telah hancur dengan cara yang sangat buruk, hingga ke sebuah kota terpencil di Selandia Baru, di mana mereka telah menemukan cara untuk mengembalikan fokus dan perhatian secara radikal.

Stolen Focus adalah buku yang sangat bergizi dan Anda direkomendasikan untuk membacanya.

Judul Buku; Stolen Focus: Why You Can’t Pay Attention

Pengarang/Penulis; Johann Hari

Penerbit; Bloomsbury Publishing PLC

Tahun Terbit: Januari 2022

Ukuran Buku (Dimensi); 153 x 234 x 30mm | 530g

Ketebalan/Jumlah Halaman; 352 Halaman

ISBN; 9781526620163

Harga Buku; Rp. 315.000,-