Masa sekarang, jika ingin menemukan pemuda-pemuda Jogja yang ramah dan lemah lembut, sepertinya kita perlu main ke pinggiran Jogja. Sebab, di pusat perkotaan Jogja, pemuda-pemuda Jogja yang ramah dan lemah lembut sudah mulai langka.

Setiap kali saya main ke daerah Seyegan (Sleman), Kasihan (Bantul), Pathuk (Gunungkidul), Wates (Kulonprogo), dan banyak daerah pinggiran Jogja lainnya, saya merasakan suasana yang sangat berbeda dari daerah perkotaan Jogja. Di tempat-tempat inilah saya merasa benar-benar menemukan Jogja seperti yang diceritakan orang-orang sebelum saya datang ke sini.

Jogja yang ramah dan lemah lembut; Jogja yang makanannya benar-benar murah dan enak-enak; Jogja yang syahdu dan menenangkan. Bukan cuma orang-orang tuanya saja, tetapi pemuda-pemudanya juga ramah dan sangat santun. Beda halnya dengan di kawasan perkotaan Jogja.

Alkisah, hari Minggu lalu, terjadi kegaduhan hebat di kos-kosan tempat saya tinggal. Kos-kosan saya berada di Kelurahan Sinduadi, Mlati, Sleman. Jaraknya ke UGM cuma tujuh menit bila tak macet. Belakangan, hampir mustahil bisa ke UGM secepat itu semenjak pembangunan proyek underpass di perempatan Kentungan, Jakal.

Sekitar sepuluh warga menggedor-gedor kos-kosan kami. Saya bilang menggedor karena mereka memang bukan sekadar mengetuk. Tak cuma itu, mereka juga melempar jendela salah satu anak kos dengan batu kerikil kecil. Ketika saya dan kawan-kawan samperi, ternyata mereka marah karena ada sebuah mobil Toyota Innova yang parkir di tepi jalan. Mereka tahu, mobil itu pastilah milik salah satu dari kami.

“Itu mobil siapa? Ini jalan kampung. Itu mobil bikin susah orang lewat!” kata seorang pemuda dengan nada yang sama sekali tidak menunjukkan watak ke-Jogja-an, yang dari gayanya sepertinya dia Ketua Karang Taruna setempat.

“Jangan parkir di sini. Kalau mau bawa mobil, jangan ngekos di sini. Cari kos yang ada tempat parkir mobilnya!” katanya lagi sebelum kami sempat menjawab pertanyaannya.

Mobil itu ternyata memang punya salah satu penghuni kos kami, yang sebut saja namanya Boni. Saat keributan itu terjadi, Boni masih tidur.

Karena warga makin mengamuk dan hendak menggembosi mobil Innova tersebut, kami akhirnya membangunkan Boni. Boni lantas cepat-cepat meminta maaf kepada semua bapak-bapak yang mengamuk tadi, minta maaf semerunduk-merunduknya layaknya maling yang ketahuan, terutama pada sang pemuda.

Namun, pemuda yang satu ini tampaknya tak menurunkan tensinya. Ia mengamuk dan mengajak duel salah seorang penghuni kos gara-gara menyahutnya dari atas balkon lantai dua.

“Sini turun, Woi! Turun!” Benar-benar bukan seperti orang Jogja yang kita kenal, bukan?

Bahkan saat ditenangkan oleh bapak-bapak kampung, pemuda satu itu tetap marah sejadi-jadinya.

Kegaduhan itu akhirnya reda setelah si Boni memindahkan mobilnya, dan berakhir dengan peringatan bahwa ia tidak boleh lagi memarkirkan mobil di situ.

Sebenarnya saya maklum dengan sikap warga yang demikian. Seandainya hal semacam itu terjadi di kampung saya, warga kampung saya mungkin juga akan bereaksi serupa. Tetapi persoalannya, ini di Jogja. 

Sebagai pendatang yang sudah tiga tahun tinggal di Jogja, jujur, saya sering kaget dengan sikap pemuda-pemuda di Jogja. Mereka berbeda nyaris 180 derajat dari orang-orang tuanya. Puncak kekagetan saya adalah ketika mereka melempar batu kerikil ke jendela salah satu kamar teman kos kami.

Kejadian yang saya ceritakan ini cuma satu dan mungkin ini termasuk yang jarang terjadi. Selama di Jogja, saya sering menghadapi pemuda-pemuda Jogja yang kurang ramah, bahkan tidak ramah sama sekali. Sering pula sapaan saya ketika bertemu mereka tidak berbalas. Entah karena tidak dengar, atau karena mungkin tidak senang dengan kedatangan pendatang seperti saya. 

Untungnya masih ada orang-orang tua mereka yang ramahnya bikin hati sejuk. Tiap kali saya sapa, mereka bukan hanya membalas, “Monggo, Mas e…”, tetapi juga senyum serenyah-renyahnya.

Ini bukan berarti saya ingin menggeneralisasi semua pemuda di kawasan perkotaan Jogja. Tidak. Bagaimanapun, pemuda-pemuda Jogja yang ramah dan lemah lembut masih ada, dan masih banyak. Hanya saja, jumlah mereka yang tidak ramah dan tidak lemah lembut tidak bisa dibilang sedikit.

Apakah ini karena kehidupan pemuda-pemuda di Jogja sudah sangat “terkontaminasi” oleh pendatang seperti kami? Katakanlah bahwa sifat-sifat kasar dan sifat buruk lainnya yang mulai melekat pada generasi muda Jogja memang dibawa oleh pendatang yang nista seperti kami? Tetapi kenapa orang Jogja mau mengadopsi sifat buruk?

Ya, banyak orang Jogja sering berdalih demikian. Tiap kali ada kelakuan-kelakuan orang Jogja yang tidak menyenangkan, mereka akan bilang, “Dulu orang Jogja tidak seperti itu, Mas. Tetapi semenjak pendatang makin banyak di sini, ya gitu…”

Contohnya ketika ada yang ugalan-ugalan di jalan raya. Sering saya mendengar alasan, “Itu bukan orang Jogja, Mas. Itu pendatang.” 

Oke, betulkah semua yang ugal-ugalan itu pendatang? Saya yakin kok tidak. Paling tidak, menurut perhitungan saya, dari 10 orang yang ugal-ugalan, 3 di antaranya pastilah orang Jogja asli. Masih mau membantah? Tengoklah pelaku-pelaku klitih di Jogja. Apa mereka juga pendatang?

Saya sering heran, orang Jawa, khususnya orang Jogja, katanya ramah-ramah dan lemah lembut, tetapi kok ada yang beringas, ya? Setiap kali mendengarkan orang Jogja bicara dalam bahasa Jawa yang halusnya bukan main, saya sulit percaya bahwa ada juga di antara mereka tega membacok manusia. Nggak selaras gimana gitu rasanya.

Kalau di tempat saya sana, di Medan, saya nggak akan heran kalau ada perampokan atau begal. Apalagi kalau cuma memaki-maki dan melempar kos-kosan orang. Karena tindakan-tindakan semacam itu memang sebelanga dengan watak orang-orang di sana yang memang keras.

Inilah salah satu ancaman bagi masa depan Jogja, kota yang dikenal dengan keramah-tamahan orang-orangnya. Ancaman ini tidak laten, tetapi nyata senyata-nyatanya. Bila ini tidak ditanggapi, bukan tidak mungkin, lima atau sepuluh tahun lagi, Jogja akan tidak ada bedanya dari Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, Makassar, dan kota-kota lainnya.