Pada pertengahan tahun 2014, tepatnya beberapa minggu sebelum masuk bulan ramadhan tahun itu saya datang ke kota Jogja ini. Saya datang dari daerah yang cukup jauh, tepatnya provinsi Lampung, salah satu provinsi di pulau Sumatera yang paling dekat dengan pulau Jawa. Dari Lampung, pada saat itu dengan menggunakan mobil travel, saya menempuh kurang lebih 24 jam perjalanan untuk tiba di kota Jogja ini. Praktis hingga pertengahan tahun nanti akan genap 4 tahun saya  tinggal di kota ini.

Pada saat itulah saya memutuskan untuk melanjutkan tholabul ilmi (belajar) di kota ini. Kota ini bagi orang yang datang dari luar Jogja memang mempunyai daya tarik tersendiri, terutama terkenalnya kota ini sebagai kota pelajar. Bagi orang yang datang dari luar kota ini, tawaran banyaknya jumlah pilihan perguruan tinggi sungguhlah begitu memikat. Bahkan kampus-kampus negeri maupun swasta yang ada di kota ini setiap tahun tak pernah absen masuk dalam pucuk ranking perguruan tinggi terbaik di negeri ini.

Yang tak kalah memikat bagi saya adalah istimewanya pariwisata di kota ini. Bagi orang yang datang dari luar kota ini, siapa yang tidak terpikat dengan keramaiannya di jalan Malioboro dan Tugu Jogja yang sering nonggol dalam layar televisi di rumah saya di kampung. Dalam layar televisi tersebut tervisualisasikan bagaimana banyaknya wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berjalan-jalan untuk menikmati pariwisata disekitaran jalan Malioboro dan Tugu. Dan di antara mereka ada juga yang naik andong dengan kusirnya yang memakai pakaian khas Mataraman. Siapa yang tak tertarik untuk tinggal di kota yang seperti itu.

****

Saat awal-awal saya tinggal di kota ini, saat itu di sekitar pedukuhan daerah yang saya tinggali, saya terheran-heran dengan banyaknya motor yang setiap malam hanya di tinggalkan oleh pemiliknya di depan rumah bahkan hanya di gang-gang jalan saja. Saya heran kok bisa-bisanya sepeda motor tidak dimasukkan rumah tetapi kok bisa aman. Saya yang dari kecil tinggal di Sumatera, seringkali diwanti-wanti oleh orang tua untuk selalu memasukkan motor kedalam rumah setelah selesai digunakan. Karena di daerah saya, kalau motor berlama-lama di tinggalkan di luar rumah, seringkali akan lenyap dicuri oleh kawanan maling motor yang sering meresahkan di daerah saya.

Pada awal-awal tahun saya kuliah, masih banyaknya kawan-kawan kampus saya yang menggunakan piet (sebutan untuk sepeda bagi orang Jogja). Awal-awal kuliah saat itu masih umum kalau mahasiswa itu ngepiet (bersepeda) sebagai alat transportasi ke kampus. Tapi belakangan ini, sudah semakin terlihat banyak perbedaan, kota ini sangat terik pada siang hari dan macet minta ampun di setiap simpul-simpul lampu merahnya. Dan piet sudah banyak tergantikan motor dan mobil.

Kendaraan bermotor dan mobil berhimpitan mencari celah di jalanan kota Jogja. Tidak kebayang bagi mahasiswa yang sering disibukkan pulang-pergi ke kampus ikut menjadi bagian yang bersesakan di jalanan Jogja saat ini. Walaupun belum separah ibu kota Jakarta yang setiap hari pengendara harus antri berjam-jam macet di jalanan ibu kota yang sangat terik itu. Akan tetapi tetaplah menjemukan dan seringkali membikin kesal di hati.

Seiring dengan berjalannya waktu dalam perjalanan saya tinggal dan terbenam dalam aktivitas perkuliahan mapun kemahasiswaan di kampus. Suatu waktu ada kejadian yang cukup membikin resah saya, yaitu ketika kawan-kawan mahasiswa saya di kampus UIN Sunan Kalijaga membikin kegiatan diskusi dan nonton film “Senyap” di kampus. Saat itu terjadi kehebohan. Ketika acaranya akan dimualai, ada banyak orang-orang bersorban yang jumlahnya banyak sedang berkerumun disekitaran pintu gerbang masuk kampus. Kelompok massa itu ternyata hendak membubarkan kegiatan diskusi dan nonton film tersebut.

Mereka menuduh acara tersebut sebagai penyebaran ajaran komunisme yang mereka klaim sedang bangkit menghantui umat Islam setelah puluhan tahun terkubur setelah dibunuh secara massal oleh rejim otoriter Suharto. Saya saat itu sangat merasa heran dan sekaligus tersadarkan; ternyata di Jogja itu ada kelompok massa model-model begituan tho. Kelompok massa yang mengatasnamakan agama dan main serang begitu saja tanpa mengikuti prosedur yang ada. Bahkan, pada saat itu yang mereka serang adalah kampus, sebuah komuitas akademis, yang menjunjung tinggi kebebasan akademik dan menghargai segala perdebatan sebagai bagian dari kultur ilmiah di kampus.

Berlambat laun, saya semakin memahami dinamika yang banyak terjadi di kota ini. Banyak kegiatan-kegiatan diskusi, pameran kesenian, HAM, kelompok minoritas, LGBT, hingga peribadatan keagamaan banyak dibubarkan oleh kelompok massa bersorban ini. Kota ini belakanagan berubah menjadi semakin padat, terik dan terusik kedamaiannya.

Dalam sebuah laporan tahunan The Wahid Institute tahun 2014 terkait dengan kebebasan beragama dan berekspresi, kota Jogja menjadi kota kedua setelah Jawa Barat yang menempati sebagai kota paling intoleran di Indonesia. Seperti juga yang dipaparkan dalam buku hasil penelitian Mohammad Iqbal Ahnaf dan Hairus Salim (2017) tentang kekerasan terhadap minoritas di Jogja, banyak menjelaskan aksi-aksi vigilantisme beberapa ormas Islam yang sering melakukan pembubaran bahkan kekerasan terhadap kegiatan diskusi maupun kelompok minoritas.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari minggu pagi, terjadi penyerangan yang dilakukan seorang anak muda terhadap umat nasrani yang sedang melakukan peribadatan di Gereja Sta. Lidwina di Sleman. Dalam penyerangan tersebut berhasil melukai beberapa jemaat umat Nasrani, bahkan salah satu korbannya adalah seorang pasturnya.

Dan juga, pada akhir bulan yang lalu, tepatnya tanggal 29 Januari terjadi pembubaran kegiatan bakti sosial yang sedang dilakukan oleh salah satu Gereja Katoik di Bantul. Pembubaran tersebut lagi-lagi dilakukan oleh kelompok massa yang mengatasnamakan Islam.

****

Banyaknya aksi intoleransi tersebut membuat tingkat kenyamanan dan kedamaian kota ini semakin merosot. Ditambah lagi beberapa tahun belakangan ini juga banyaknya aksi klitih di jalanan Jogja pada malam hari. Sudah banyak korban yang berjatuhan. Hal itu semakin membuat jargon Jogja yang selama ini digadang-gadang sebagai “The City of Telerance” dan “Jogja Berhati Nyaman” sedang menuai ujian beratnya.

Banyak warga yang tinggal di Jogja yang berharap bahwa Jogja lekas kembali seperti sedia kala, tetap menjadi kota yang nyaman untuk belajar. Tempat yang damai dan berkebudayaan untuk seluruh penduduknya. Dan tentunya kota yang ramah dan menyenangkan untuk para wisatawan yang datang ke kota ini.

Kita semua merindukan Jogja yang berhati nyaman. Dimana kota dengan penuh kedamaian dan toleransi. Kota yang penduduknya yang sangat ramah dan menjunjung tinggi kebudayaan Jawa Mataramannya yang lemah lembut. Antar penduduk yang murah senyum dan saling tegur menyapa. Juga kota yang tidak dipenuhi kemacetan yang membosankan di jalan raya. Damailah Jogjaku dan tetap menjadi istimewa.