Seperti biasa, Robbie Lyle mewawancarai beberapa fans Arsenal setelah pertandingan selesai. Ia adalah pendiri AFTV (dulu bernama Arsenal Fans TV), sebuah kanal YouTube bagi para pendukung Arsenal. Saat itu Arsenal baru saja melibas Blackpool di ajang FA Cup dengan skor 3-0, sebuah kompetisi sepak bola yang diklaim sebagai kompetisi tertua di dunia. 

Untuk sebuah pertandingan yang melibatkan dua tim berbeda kasta, pertandingan ini cukup menggemaskan, terutama bagi pendukung Arsenal. Pemain mereka terlalu banyak melakukan kesalahan yang membuahkan peluang mencetak gol bagi Blackpool, hanya saja para pemain Blackpool selalu gagal memanfaatkan peluang tersebut. Saat-saat seperti inilah Robbie banyak mendapatkan maki-makian untuk para pemain dari para pendukung Arsenal yang diwawancarainya.

Joseph George Willock atau biasa dipanggil Joe Willock menjadi pahlawan kemenangan Arsenal dengan mencetak dua gol. Ia tidak sendirian berangkat dari akademi Arsenal, nama lain yang menemaninya adalah Nketiah, Maitland Niles, Iwobi, Saka, dan Medley. 

Walaupun usia mereka masih belasan, tetapi dalam ajang seperti ini, sebagian dari mereka telah mendapatkan tempat di tim utama pada masa Arsene Wenger melatih. Iwobi bahkan belakangan sering bermain di tim utama di Premier League.

AFTV berperan besar dalam gerakan #WengerOut dan menjadi salah satu penyebab Wenger mundur dari kursi pelatih setelah dua dekade berada di Arsenal. Mereka mewadahi suara para pendukung Arsenal yang mampu menyebabkan pro dan kontra. 

Dalam kasus #WengerOut, AFTV bisa menampilkan pendukung yang Wenger in lalu membuat dialektika yang menarik di kalangan para pendukung. Begitu pula saat Joe Willock mengantarkan Arsenal melaju ke babak selanjutnya di FA Cup, seorang pendukung mengatakan bahwa Willock tidak pantas di Arsenal. 

Pernyataan ini lantas mengundang legenda Arsenal Ian Wright bersuara menyatakan ketidaksukaannya terhadap pendukung tersebut. Lalu terjadi perdebatan; ada yang bilang sah-sah saja seorang pendukung menyuarakan opininya, tetapi ada juga yang bilang ia tidak melihat perjuangan Willock masuk skuad utama dan pernyataan itu membebaninya karena ia masih sangat muda.

Mengambil momentum ini, Arsenal mewadahi Willock untuk bercerita masa-masa pendidikannya di Akademi Arsenal. Seperti yang banyak dilakukan oleh institusi pendidikan lainnya, Arsenal ingin menunjukkan hal baik saat muridnya diserang. 

Menariknya, Joe Willock menulis sendiri kisahnya di laman resmi Arsenal dengan judul Joe Willock : in My Own Words pada 7 Januari lalu. Sebelumnya ia juga mengunggah foto saat melawan Blackpool dengan caption ucapan selamat ulang tahun kepada ibunya. Ia mempersembahkan kemenangan Arsenal kepada ibunya yang telah bekerja keras dan berkorban untuk perkembangan kariernya.

Unggahan Willock di Instagram setelah FA Cup, Arsenal menang melawan Blackpool, sumber: Akun Instagram Joe Willock

Pada suatu ketika Charles ayah Willock mengukur tinggi badannya, Ia mendapati hal aneh karena melihat lutut anaknya tidak sejajar. Mereka baru menyadari bahwa kaki Willock panjang sebelah. 

Bahkan sebelum pengukuran itu Willock sama sekali tidak menyadari bahwa kakinya panjang sebelah. Justru setelah itu Willock menjadi terganggu dalam menjalankan aktivitasnya, terutama ketika bermain sepak bola. 

Mengetahui sesuatu yang janggal dalam tubuhnya, menjadikan ia bermasalah dalam keseimbangan dan melakukan teknik bermain sepak bola yang selama itu tidak ia rasakan. Namun ia tidak menceritakan masalah itu ke siapa pun dan hanya fokus beradaptasi kembali dengan kondisi tubuh yang tidak sempurna dalam permainannya di lapangan.

Willock beruntung memiliki orangtua yang menginginkan anak-anaknya berkembang dalam industri sepak bola. Chris kakak Willock dan Matty adiknya juga mengikuti pendidikan di Akademi Arsenal, namun mereka telah meninggalkan Willock untuk mengembangkan kariernya, Chris ke Benfica dan Matty ke Manchester United. 

Ketiganya pernah bermain dalam satu lapangan namun berbeda klub, Willock dan Chris berseragam Arsenal dan Matty berseragam Setan Merah dalam pertandingan Premier Leauge 2, kompetisi Liga Inggris usia muda. Perhatian orangtua dan dukungan dari saudaranya membuat Willock terus berlatih dan akhirnya bisa masuk tim utama walaupun punya fisik yang tidak sempurna.

Orangtua Willock sampai kehabisan uang demi membiayai anak-anak mereka bermain sepak bola, saat itu menjadi masa yang sulit untuk mereka. Namun hal itu menandakan bahwa kerja keras mereka dapat terbayar karena semua anaknya telah menjadi pemain profesional di klub masing-masing. 

Chris bahkan menggunakan jasa dari platform bernama Wyscout yang menyediakan informasi dan analisis pertandingan sepak bola yang mewadahi 1000 klub lebih. Hal ini seperti yang dilaporkan The Telegraph 6 Januari lalu. Di sana ia memasukkan ketiga anaknya untuk dianalisis kemampuan bermainnya oleh Wyscout

Selain memperhatikan detail fisik anaknya dan menganalisis setiap pertandingan, Chris juga menjadi orang tua yang melindungi anaknya dari pernyataan negatif. Bukan untuk menunjukkan kalau anaknya tidak memiliki kekurangan, tetapi untuk memotivasi anaknya agar terus berkembang, seperti yang seharusnya dilakukan oleh orang tua kebanyakan.

Joe, Matt, dan Chris, sumber : arsenal.com

Untuk membuat kualitas sepak bola yang baik, seharusnya banyak orangtua melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orangtua Willock. Mereka penuh totalitas dalam mengembangkan bakat anaknya. Mereka juga mampu melengkapi kekurangan anaknya untuk berprestasi dalam sepak bola. 

Mereka bukan orangtua yang memaksakan anaknya bermain tanpa tahu sepak bola itu sendiri. Bisa dibilang, sepak bola yang baik di sebuah negara harus dimulai dari keseriusan orangtua dalam membina anaknya.