Kertas, sebuah lembaran tipis yang terbentuk dari sebagian besar selulosa untuk berbagai keperluan umat manusia. Dia adalah medium tulis menulis, hanya itu. Jika dia berwujud sebagai kardus, bungkus nasi, tisu, dan yang lainnya, dia hanya sedang berperan menjadi fungsi sekunder lainnya saja. Utamanya dia tetap sebagai ladang tulis menulis.

Sedari lahir, kita sudah menggunakan kertas sebagai pengkuan telah tibanya kita di muka bumi, bukti itu berupa akta lahir. Seiring bertambangnya usia, kertas semakin melekat dengan hidup kita. Ke pasar, minimarket, bahkan sampai membeli gorenganpun kita masih selalu akan berjumpa dengannya. 

Menginjak bangku sekolah tingkat dasar sampai dengan jenjang perguruan tinggipun kita benar-benar tidak bisa lepas dari kertas yang entah sudah berapa banyak lembarannya kita nodai dengan pena, kita baca kandungannya, dan mungkin kita juga telantarkan, habis manis sepah dibuang.

Adanya Gadget dan teknologi lainnya sempat membuat umat manusia berpaling dari kertas untuk beberapa saat, konsep paperless yang ramah lingkungan katanya, tapi itu tidak bertahan lama. Awalnya mereka sesumbar dengan mengatakan “sudah bukan zamannya lagi menjadikan kertas sebagai media bertukar informasi”.

Akhirnya, sebagian dari mereka sadar bahwa sulit menerima pengganti kertas, dia selalu memiliki tempat dihati pecandu setianya. Mereka adalah golongan orang yang kekeuh pada kertas, menurut mereka kertas tak pernah bisa terganti untuk membantu mengingat, membantu belajar, dan membantu memahami untaian kata dalam sebuah tulisan.

Saya sendiri contohnya, lebih suka saja membaca buku cetak biasa setebal seratus halaman ketimbang membaca buku elektronik (e-book) dengan jumlah halaman dan judul yang sama. 

Pada titik ini saya meyakini bahwa ada banyak orang diluaran sana yang juga memiliki kecenderungan yang sama dengan saya, merasa lebih mood dan betah saja ketika dapat menyentuhnya, mencium aromanya, membacanya, melipatnya, membacanya lagi, sampai dia tertelungkup diwajah saat kantuk tak tertahankan lagi. Karena satu dan lain hal itu, saya merasa lebih kerasan saja dalam membersamainya.

Kertas telah menjadi sahabat baik manusia yang keduanya sulit untuk dipisahkan. Bila menengok sejarah saat perang kemerdekaanpun, kertas mengiringi perjuangan para pahlawan bangsa. 

Tidak sedikit kertas itu menjadi mahakarya yang terakumulasi menjadi buku, kitab, dan lainnnya yang terlahir dari keterkungkungan jiwa dibalik jeruji, namun tetap merdekanya akal dan pikiran. 

Terlepas dari perannya yang telah turut serta mengantarkan indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan, kertas dewasa ini banyak memicu polemik dan kontroversi, kertas menjelma buah simalakama. Perannya teramat penting dalam membangun peradaban manusia menjadi paripurna, tetapi dalam waktu bersamaan menjadi ancaman yang menakutkan jika dibenturkan dengan isu lingkungan dan masa depan umat manusia.

Persoalannya bukan lagi berapa banyak pohon yang ditebang untuk membuat kertas saja, tetapi sudah sejauh mana industri kertas berdaya upaya mengatasi limbah kertas sebagai misi menyelamatkan lingkungan untuk keberlangsungan bumi beserta isinya. 

Apa gerangan yang sudah dilakukan institusi berkepentingan macam pemerintah? industri tidak bisa mengontrol kemana perginya produk mereka setelah habis masa pakainya, satu hal yang pasti bahwa produk-produk tersebut akan bermuara menjadi limbah dan berakhir ditempat penampungan sampah ketika nilai gunanya telah purna. Sementara pemerintah, membuat regulasi yang hanya terkesan menyelesaikan masalah sesaat saja, tidak tuntas sampai ke akar masalahnya.

Zaman semakin maju berbading lurus dengan kebutuhan kertas yang juga semakin banyak. Penggunaan kertas akan bertambah seiring dengan pertambahan umat manusia di muka bumi. Tidak hanya untuk perkara menulis saja, tapi juga untuk keperluan lainnya yang lebih besar. 

Jika hal ini tidak menjadi perhatian kita, maka limbah kertas dan limbah lainnya akan mengancam keberlangsungan umat manusia. Dari sinilah pentingnya peran serta setiap steakholder untuk dapat memberikan kontribusi terbaiknya melalui sebuah gerakan bersama.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan sampah yang telah menggurita ini, salah satunya adalah JOint COmunication With Institution (JOCOWI). Konsep JOCOWI pada dasarnya menjadi cara penyelesaian masalah sampah kertas yang diakomodasi melalui diskusi antar institusi. 

Kita merasa sebal bukan? ketika melihat persoalan sampah yang tersaji di layar televisi seolah menjadi bola api yang tak pernah siapapun mau menyentuhnya, hanya saling lempar tanggung jawab sana dan sini, tanpa sebuah upaya penyelesaian yang berarti. Mereka seperti main kucing-kucingan. 

Selama upaya yang dilakukan hanya bersifat ‘mengobati’ tetapi tidak ‘mencegah’ maka selama itu pula persoalan sampah akan selalu menjadi agenda rutin tahunan yang tanpa kita sadari menjadi bom waktu yang siap menghancurkan umat manusia dikemudian hari.

Masyarakat yang memiliki kebiasaan baik dan alat canggih untuk mengolah sampah  sekalipun tidak akan cukup untuk mengentaskan persoalan sampah jika tidak disertai dengan dukungan pemerintah dan steakholder terkait untuk turut serta urug rembug. 

Dukungan itu dapat berupa regulasi yang dibuat dan disepakati industri, pemerintah, dan masyarakat secara bersamaan sebagai upaya memutus kemelut persoalan sampah. JOCOWI adalah kerangka besar dalam penyelesaian sampah secara nasional, bentuk operasionalnya yaitu berupa langkah-langkah strategis melalui komunikasi antar institusi yang berkepentingan.

Kita ketahui bersama bahwa industri kertas atau industri lainnya memiliki dana Coporate Social Responsibility (CSR) yang dapat digunakan untuk memperbaiki lingkungan dari aktivitas industri, melalui JOCOWI para pejuang lingkungan semisal tukang sampah kertas dan limbah lainnya mendapat tunjangan dari perusahaan dan ini tentu harus di fasilitasi oleh pihak pemerintah sebagai pembuat kebijakan. 

Memberikan tunjangan kepada pejuang kebersihan tentu cukup beralasan, selain mereka menjadi pahlawan lingkungan, mereka juga menjadi akumulator hidup limbah-limbah industri yang mengotori kota dan segala isinya. 

Melalui cara ini upaya untuk memanusiakan manusia dapat terwujud yaitu dengan merubah stigma ‘pemulung’ yang berada jauh dari garis kemiskinan menjadi pejuang kebersihan dengan kualitas hidupnya menjadi semakin baik.

Konsep JOCOWI memberikan kesempatan kepada setiap pejuang kebersihan untuk hidup selayaknya manusia Indonesia, kendati pekerjaan mereka sebagai pengumpul barang-barang bersumber dari kertas dan limbah lainnya. Tidak terbayangkan jika mereka tak ada, betapa semrawutnya tiap sudut kota yang kita temui, penuh sampah berserakan. Bagaimana mungkin mengaharapkan Indonesia sehat dimasa yang akan datang, jika pejuang kebersihannya loyo. 

Perusahaan dapat membeli kembali produk atau barang yang mereka produksi yang telah dikumpulkan oleh para pejuang kebersihan dengan harga yang disepakati, atau menyerahkan kepada pihak ketiga untuk mengelolanya dengan bantuan suntikan dana CSR yang sudah disetujui.

Cara ini harus benar-benar dikelola dengan baik, misalnya dengan pemutakhiran data identitas setiap individu dari pejuang kebersihan yang terlibat dalam project, jumlah sampah yang mereka dapatkan disesuaikan dengan kisaran harga yang telah ditentukan, sehingga upah yang dibayarkan benar-benar sesuai dengan jerih payah yang telah dilakukan. Penanganan yang tidak optimal dari upaya ini hanya akan memunculkan polemik serius yang akan terjadi dalam pelaksanaanya.

Konsep JOCOWI memfasilitasi setiap pejuang kebersihan untuk juga dapat mengolah sampah yang mereka hasilkan menjadi produk lain yang memiliki nilai ekonomis. Produk yang mereka buat dapat berupa surat undangan, amplop, kartu ucapan, label kemasan dan lain sebagainya yang bersumber dari kertas daur ulang dengan harga yang kompetitif. 

Upaya ini perlu pembekalan keterampilan, karenanya  perlu ada pelatihan oleh perusahaan terkait atau dinas Pemerintah mulai dari pembimbingan cara pembuatan produk hingga tahap akhir yaitu penjualan.

Pengawasan dan pendampingan seperti ini penting sehingga para pejuang kebersihan dan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan limbah kertas memiliki bekal yang baik dari hulu hingga hilir tahapan proses yang harus mereka lalui sampai mereka akhirnya siap berdikari. Penjualan produknya sendiri dapat memanfaatkan media daring seperti Instagram, Facebook, Bukalapak dan media lainnya yang dapat mereka kelola secara mandiri.

Konsep JOCOWI memberikan kesempatan kepada para peneliti dari berbagai institusi untuk ikut serta berontribusi menyelesaikan persoalan sampah dengan kapasitas keilmuan yang mereka miliki, misalnya dengan mengembangkan bakteri yang dapat mendegradasi limbah kertas dan pulp melalui aktivitas enzim dengan metode lumpur aktif. 

Cara biodegradasi ini lebih baik untuk memperbaiki kualitas lingkungan untuk sampah yang sudah terlanjur dibuang ke lingkungan sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga. Penerapan konsep JOCOWI dapat memangkas kerugian materi yang tidak sedikit, menyudahi terjadinya kerusakan lingkungan yang parah, serta mencegah hilangnya spesies-spesies penting dimuka bumi.

Melibatkan keluarga, sekolah dan masyarakat penting juga dalam pelaksanaan konsep JOCOWI, mengingat ketiganya merupakan tempat pembentukan karakter manusia. Keluarga menjadi madrasah utama manusia untuk bijak dalam menggunakan kertas, sekolah menjadi lingkungan pembelajar dalam mengembangkan konsep penyelesaian masalah lingkungan bersumber dari limbah kertas, dan masyarakat menjadi laboratorium untuk melaksanakan teori dan praktik secara secara langsung. 

Perusahan yang bergerak dalam industri kertas dapat melakukan Join Communication With Institution (JOCOWI) dengan sekolah untuk mengedukasi anak-anak perihal pentingnya kertas untuk hidup dan kehidupan, dibumbui dengan pentingnya upaya penanganan limbah industri yang juga dihasilkan. 

Semakin baik upaya ini dilakukan dengan membentuk masyarakat binaan yang bersentuhan langsung dengan limbah kertas yang dihasilkan. Upaya ini dilakukan agar adanya industri memberikan dampak baik bagi masyarakat sekitar berupa keberlangungan ekonomi mereka menjadi semakin kuat.

Pada akhirnya, konsep JOCOWI dapat menyelesaikan persoalan sampah bergantung kepada usaha kita bersama yang dibuat sebagai langkah operasional penyelesaian masalah. Hasilnya akan paripurna ketika dilakukan dengan keseriusan dan kerja bersama. Peran serta setiap institusi sangat penting, karenanya tidak ada yang punya peran setengah-setengah saja, semuanya harus berkontribusi seratus persen. 

Indonesia adalah Negara yang kental dengan budaya gotong royong, JOCOWI adalah upaya gotong royong kita sebagai sebuah bangsa dalam mengatasi persoalan lingkungan, menyudahi persoalan sampah yang tidak kunjung usai. 

Sebesar apapun masalah jika dilakukan bersama-sama tentu akan semakin mudah diselesaikan, karena bumi buka hanya tempat tinggal kamu, dia, atau mereka saja, tapi rumah kita bersama untuk meneruskan hidup dan kehidupan yang lebih baik.