"Strong women aren’t simply born. We are forged through the challenges of life. With each challenge we grow mentally and emotionally. We move forward with our head held high and a strength that can not be denied. A woman who’s been through the storm and survived. We are warriors.”

Jangan pernah berkata bahwa seorang perempuan itu adalah makhluk yang lemah. Jika Anda berpikir demikian, maka Anda salah besar. 

Perempuan adalah makhluk kuat dan pemberani, bahkan bisa lebih pemberani dari laki-laki. Buktinya, perempuan itu berani bertarung dengan maut dan rasa sakit yang amat sangat saat melahirkan.

Demikian pun dengan perempuan ini. Joanna Palani namanya. Mungkin dia tidak terlalu terkenal di Indonesia, tetapi tidak di Suriah. 

Kalau kita melihat kecantikan dan keseksiannya, kita tidak akan percaya bahwa dia adalah seorang sniper atau penembak jitu jarak jauh. Jika Anda pergi ke Suriah dan menyebut nama perempuan blasteran Denmark dan Kurdi ini, pasti wajah orang-orang langsung berubah dan merinding ketakutan. 

Joanna Palani adalah sosok yang paling dikenal di Suriah karena keberaniannya terhadap Pasukan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) atau Negara Islam Irak dan Suriah. Keberadaannya bahkan telah menjadi "mimpi buruk" bagi setiap pasukan ISIS yang bertempur di Suriah.

Mengapa pasukan ISIS sangat takut pada perempuan cantik berambut panjang ini? Hal itu disebabkan karena Joanna Palani diklaim telah menembak kurang lebih seratus orang pasukan ISIS ketika dia menjadi tentara tidak resmi pada Unit Perlindungan Wanita Kurdi di Suriah.

Perempuan berusia 26 tahun ini sampai memutuskan untuk berhenti kuliah demi bergabung dengan tentara Kurdi karena darah Kurdi yang mengalir di dirinya. Dia tidak rela warga Kurdi, terutama perempuan dan anak-anak, mendapat perlakuan tidak adil dan ditindas oleh ISIS. 

Saking bencinya ISIS pada perempuan pemberani ini, ISIS sampai menawarkan hadiah 14 miliar bagi siapa saja yang berhasil membunuh Joanna atau menangkapnya hidup-hidup. Jika Joanna berhasil ditangkap hidup-hidup, ISIS mengancam akan menjadikannya budak seks ISIS. 

Apakah Joanna takut? Ternyata dia tidak gentar sedikit pun.

Joanna Palani lahir di sebuah kamp pengungsian di Gurun Ramadi, Irak, selama Perang Teluk pada tahun 1993. Dia memiliki garis keturunan Denmark-Kurdi dan bermigrasi ke Denmark saat masih berusia tiga tahun.

Dia dan keluarganya saat itu diberangkatkan menuju Denmark sebagai bagian dari program kuota untuk para pengungsi. Keluarga Palani harus meninggalkan Iran Kurdistan karena alasan politik.

Perempuan ini bahkan tidak takut, dan dengan baik menjalankan hukuman sembilan bulan penjara di negaranya Denmark akibat tindakan nekatnya bergabung dengan tentara asing. Paspor Joanna pun akhirnya juga dicabut oleh pemerintah Denmark, dan kepadanya diberlakukan larangan untuk pergi ke luar negeri.

Seperti Joanna Palani, kita pun tidak boleh takut akan bahaya ISIS. Hal itu dikarenakan pejuang Negara Islam Irak dan Suriah yang dikenal sadis dan kejam ternyata juga punya rasa takut. Mereka takut apabila dalam melakukan peperangan tewas di tangan perempuan.

Menurut kepercayaan mereka, pejuang yang mati di tangan perempuan tidak akan masuk surga dan mendapatkan 72 bidadari perawan di surga.  

Selain Joanna Palani, pasukan ISIS juga paling takut dengan Pasukan Batalyon ke-2 wanita Kurdi. Pasukan tentara yang seluruhnya beranggotakan para wanita Kurdi Irak kini menjadi salah satu pasukan yang paling ditakuti oleh pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Batalyon ke-2 yang berbasis di kota Sulaymaniyah, Kurdistan, ini beranggotakan 500 orang wanita di bawah komando Kolonel Nahida Ahmad Rashid.

Prajurit pada Batalyon ke-2 ini mempunyai ciri khas, yaitu selalu menyisakan paling tidak satu peluru saat mereka berperang dengan tentara ISIS. Peluru ini mereka sisakan untuk bunuh diri apabila mereka tertangkap oleh pasukan ISIS. 

Mereka melakukan bunuh diri adalah karena mereka tidak rela disiksa dan dijadikan budak seks tentara ISIS hinggs kemudian akhirnya dipancung. Oleh karena itulah mereka selalu menyisakan satu peluru untuk bunuh diri.

Jadi berbahagialah perempuan pemberani seperti Joanna Palani. Karena pasukan ISIS paling takut meninggal di tangan perempuan pemberani.