Jika ingin mengetahui masalah apa yang semenjak masa Nabi Adam as hingga masa kini yang terus-terusan menjerat ummat manusia, maka ketahuilah bahwa masalah itu tidak lain dan tidak bukan tentang perkara duniawi. 

Untuk membuktikannya salah satunya Anda bisa menemukannya di banyak media pemberitaan, baik yang konvensional maupun yang digital. Bahkan bisa dibilang, isu yang paling dominan yang diangkat di hampir seluruh media yang ada adalah tentang masalah kehidupan duniawi.

Jika Anda suka baca koran, maka pastinya berita-berita seputar kriminal atau tindak kejahatan sering Anda jumpai di sana. Sama halnya juga kalau Anda suka nonton berita di TV atau tidak ingin ketinggalan update terbaru berita dari sejumlah situs yang Anda anggap terpercaya, isu-isu seperti pencopetan, pemerkosaan, perebutan kekuasaan, pengganggu keharmonisan rumah tangga orang (baca: pelakor) dan sebagainya, tentunya bukan sesuatu yang asing lagi bagi Anda. 

Dan Anda pun mestinya juga harus tahu bahwa yang melatarbelakangi dari semua perbuatan yang melanggar tersebut adalah apa lagi kalau bukan karena adanya sikap berlebihan dalam mencintai dunia.

Dunia dengan segala isinya bagi kita layaknya pisau yang bermata dua. Di satu sisi membawa manfaat, namun di sisi lain bisa menjadi malapetaka. 

Manfaatnya, kita tidak akan mungkin bisa melanjutkan hidup di dunia ini sehingga akan mati sia-sia jika tanpa satupun fasilitas dunia yang ingin kita pakai. Misalnya uang yang merupakan salah satu fasilitas dunia yang mau tidak mau harus kita gunakan. Dengan uang lah sehingga kebutuhan perut kita bisa terpenuhi, keinginan untuk memiliki rumah yang layak huni bisa terwujud, aurat kita jadi tertutupi, serta berbagai macam manfaat lainnya.

Dan bahayanya, jika semua fasilitas dunia kita sikapi dengan cara yang berlebihan sehingga membuat kita jadi lalai, maka bersiap-siaplah untuk menjadi seorang yang disebut Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra yang tidak pernah puas dan selalu merasa kurang dengan apa yang dimiliki lantaran mencintai dunia secara berlebihan.

"Dunia ini serupa air laut yang jika diminum maka akan semakin merasa haus. Jika dikejar maka akan semakin merasa tidak puas." Ali bin Abi Thalib ra

Dunia memang menampilkan daya pikat yang sangat luar biasa, bagi siapapun! Tak peduli seberapa banyak deretan gelar yang mengikut di belakang nama kita dan seberapa tinggi jabatan yang kita punya, semuanya bergantung pada setebal apa dinding keimanan yang kita miliki. 

Buktinya, tidak sedikit dari para tokoh agama kita ataupun dari kalangan orang-orang yang selama ini kita anggap terpelajar, nyatanya juga termasuk dalam salah satu korban janji-janji manis tapi semu yang ditawarkan oleh dunia.

Ironisnya, meski mata kita yang tidak buram ini sudah sangat sering menyaksikan banyaknya orang yang dirugikan karena terpengaruh oleh segala kesenangan semu yang dijanjikan oleh dunia, pun demikian halnya dengan telinga kita yang masih bisa mendengar dengan jelas wejangan-wejangan yang mengingatkan kita untuk tidak terperdaya dengan dunia, tetap saja kita belum mampu secara penuh untuk mengendalikan diri sehingga seolah-olah apa yang kita saksikan dan kita dengarkan itu tidak ada nilai apa-apanya bagi kita.

Parahnya lagi, kesempatan untuk menjadi budak dunia seakan semakin terbuka lebar di masa seperti sekarang ini, zaman di mana segala hal yang menggiurkan nafsu kita bermunculan di mana-mana.

Seperti mulai dari lahirnya berbagai macam bentuk teknologi yang semakin menampakkan kecanggihannya, banyaknya jenis model pakaian yang semakin berupa-rupa beserta dengan merknya yang kedengarannya begitu sangat keren, hingga semakin banyaknya bermunculan produk kecantikan yang sekaligus semakin menegaskan bahwa cantik itu seolah-olah hanya urusan fisik semata. 

Hal-hal seperti demikianlah yang sebetulnya menjadi salah satu sebab yang bisa mendorong jiwa kita yang masih sangat lemah ini untuk terikat kuat dengan kehidupan duniawi. 

Padahal asalkan kita tahu, dengan terikatnya pikiran, hati dan jiwa kita dengan dunia, tanpa kita sadari ada ancaman yang sejatinya sedang mengintai kita.

Peringatan itu salah satunya dapat kita temukan dengan membaca sebuah perumpamaan yang dibuat oleh Plato, seorang filsuf terkemuka asal Athena Yunani, perihal jiwa manusia, yang secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa manusia yang jiwanya selalu mengarah pada hal-hal yang sifatnya duniawi akan terpenjara di alam yang disebut Plato sebagai "dunia gejala" yang olehnya didefinisikan sebagai tempat yang "gelap" dan berkumpulnya segala kepalsuan.

Secara singkat perumpamaan Plato tentang jiwa manusia tersebut digambarkan seperti sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda bersayap yang terbang saling berlawanan arah. 

Kuda yang pertama disebut sebagai "kuda kebenaran" yang mana posisinya tepat berada di bagian kanan. Sementara yang kedua disebut sebagai "kuda keinginan" yang berposisi di bagian kiri. 

"Kuda kebenaran" menarik kereta dengan terbang ke arah atas yang oleh Plato ia sebut sebagai "dunia ide" atau tempat hadirnya segala kebaikan dan kebenaran. Sedangkan "kuda keinginan" menarik kereta dengan terbang ke arah bawah menuju ke "dunia gejala". 

Menurut Plato, manusia yang jiwanya ditaklukkan oleh dunia serupa kereta yang ditarik "kuda keinginan" ke arah bawah tempat "dunia gejala" berada. Dan sebaliknya, ia yang mampu menguasai jiwanya sehingga selamat dari tipu daya dunia bagaikan kereta yang terbang ke arah "dunia ide" yang dibawa oleh "kuda kebenaran".

Tentunya tidak ada satupun dari kita yang menginginkan akan adanya sebuah ancaman yang bisa mencelakai diri kita sendiri. Oleh karenanya, keinginan untuk memiliki jiwa yang ditarik oleh "kuda keinginan" tidak akan pernah timbul dalam diri kita. 

Dan satu-satunya yang kita harapkan hanyalah bagaimana agar jiwa kita bisa sampai kepada "dunia ide". Namun sayangnya, yang terjadi justru malah sebaliknya. Kita malah membiarkan jiwa kita untuk diterbangkan "kuda keinginan" menuju ke curam yang gelap.

Meski kita tahu akan adanya "dunia ide", tapi kita malah lebih memilih untuk menuju ke "dunia gejala". Meski kita tahu akan adanya nilai-nilai kebaikan yang jika kita lakukan akan menjadikan jiwa kita bahagia, tapi kita malah lebih memilih untuk membiarkannya lenyap secara perlahan-lahan.

Proses itu terjadi tatkala kita lebih sibuk memikirkan dan hanya mementingkan diri sendiri meski di sekitar kita ada derita yang keberadaannya tak dapat dielakkan. Saat kita siang dan malamnya pikiran kita sepenuhnya hanya kita fokuskan pada uang untuk kita nikmati sendiri meski saudara-saudara kita, tetangga-tetangga kita banyak yang sedang didera lapar dan dahaga. 

Maka benarlah suatu pernyataan yang berbunyi "kita sejatinya hanyalah mayat hidup. Sekalipun dari segi fisik kita nampak sehat, namun dari sisi jiwa kita sebenarnya sudah mati."

Arne Naess, pencetus paradigma baru "deep ecology", pernah mengungkapkan bahwa manusia yang selama hidupnya terus-terusan bergantung pada materi, akan menjadikan kehidupannya tidak akan bernila apa-apa alias nir-makna. Dan, kita adalah calon-calonnya!