Diam

Diam
Diam
Diam!
Diam, ayo diam!
Diamnya diam-diam
Ini tengah malam
Alam juga punya dendam
Tapi, jangan diam-diam!
Beri perutmu salam
Diam yang dendam
Dendam yang diam
Di dalam bersemayam
Cara-cara curang
Elegi baru, untuk tanah tuan
Setumpuk stroberi, nanti malam
Kau punya! di meja makan
Untuknya, kepala raja;
Taruh di keranjang guillotine;
sekarang.


Nol

Untukmu, yang tak lagi telanjang, para sampah Taman Eden!

Angkasa luka hijau membiru. Pada angka satu, langit berpancang rupa. Aku dan kau, bisa jadi seribu Arjuna? Alih-alih pandita, yang pantas mati belaka.

Hati yang murka, menyembur dari sana api sekental darah! Tamasya merah mentah. Tanya saja si hebat Astika.

Mual, muak dan merekah! Bersuci dalam air tawa, memikul pelita di dalam gua. Sendiri, sepi dan sunyi.

Berakhir pada kelindan renjana. Pria sepele yang kecanduan masturbasi; pada malam-malam yang tak utuh lagi.

Luruh, sampai nafsu kering menjadi debu.
Kau bukan apa, hanya deret angka nol; Mengalirkan amis darah, dari tepi langit Kurusetra.


Cinta

Kau siap mencinta?
Lantas, utas pantas dia terluka!
Tertatih, merakit dusta.
Menyeka sisa, nestapa selaksa.
Opat bait—air mata.
Sedu sedan, bisik Asura;
"Sisakan aku satu siang,
bintik jingga surgaloka!"
Rupanya antah-berantah;
di punggung kaki para jalang.
Melenguh, mengeluh, di atas ranjang.
Jatuh kepala, berbantal puan.
Kamu, bukan tuan!
Liyan!


Tamasya

Dari Parthenon, sampai ke pasar rakyat ibukota Madagaskar—kelip Darwinian sampai ke ujung pena Dawkins;

Ikan merangkak jadi kecoa, manakala mati di bawah kaki Gregor Samsa, yang masih bergerak meski tanpa kepala.


Kembali

Kembalilah!
Dari segala lelah
Amarah yang tumpah.
Bergegaslah!
Menata asa
Dibawah bola lampu
Yang baru saja padam.
Melambung,
sampai ke relung jiwa;
Resah dan gelisah, kadang hanya bisa diusir rentetan masturbasi.
Tak apa, asal kau janji,
Esok—bangun lebih pagi!


Lalat-lalat

Aku lalat kecil
Sampai kau menyatakan cinta
Meleleh aku di pipi
Sampai ke sudut bibir
Lantas pecah rasa asin.
Andai kau tau
Sayapku terlampau kerdil
Saat kau datang meminta rembulan.
Sampai jumpa—saat aku, atau kau; Menjelma Ajag hitam,
Yang berpuasa ribuan purnama.


Kata-kata

Nirleka,
Spasi deret geometri,
bilangan phi, atau
Rumah Perseus,
Penjara Tartarus?
Entah.
Luruh!
Getar seribu guruh.
Empat puluh lima detik
Penuh peluh;
Saat kucumbu
Vena jugularmu,
sambil membisik rindu,
Dalam darahmu.


Bicara

Baca Juga: Potret Rasa

Sendiri;
Amadea bernyanyi
Saat katak dan bangau,
damai sejenak untuk bicara;
angin dan hujan.
Pada,
malam-malam yang menusuk.
Pagi yang gulita,
dengan beberapa titik putih di langit utara.
Amadea berhenti bernyanyi,
Saat hujan angin tiba.
Tempo hari-hari jagal
Satu peleton tentara merah.
Moncong senjata, melahirkan sastra.


Rimba

Getas paku angsana tua
Sirah gelap digagahi tabir.
Lekas kenali;
Ajak-ajak mengoyak orang,
lantaran gelap datang.
Bimbang—
mana Celeng atau tuan.
Diam
Kelip bintang.
Kelam
Bisu malam.
Perut Laksmi terbelah dua,
ada kuburan di atap rumahmu.


Tumbuh

Tumbuhlah kata-kata!
Hijau lumut, biru nadi atau coklat karat
Kilat bumantara, juga di bawah pohon Trembesi. 

Wujudlah kata-kata!
Pejal, kenyal, kasar dan pudar
Menyendiri di bawah pusar.
Sisir gapura Lantana
Aku pergi dengan kaki kaca.


Tidur

Umpama peri.

Membiru di surgaloka
Jari memagut khayal
Sinarnya jatuh pada mata kucing.

Permadani mimpi mengantar derita paling nista; amarah.

Di ujung kuku menggantung seutas dendam yang menyala-nyala; darah menetes dari sana.


Akal sehat

Pernahkah kau merasa gila?
Dalam banyak hal?
Juga tertawa tanpa sebab?

Barangkali itu bukan kegilaan.
Bisa jadi itu tanda setitik kewarasan.
Letusan emosi bawah sadar.

Seringkali kita tertawa bukan karena memang ingin; biasanya kebanyakan kita tertawa sesederhana karena orang lain tertawa.

Menertawai diri sendiri adalah puncak komedi, dan tragedi yang digabung jadi sebuah ketololan—yang bisa jadi lucu buat orang lain. Tentu dengan kedunguan yang sama.


Kota

Manakala tuan pikir
Pakai kepala dan hati
Dua batang hidup saling sikut
Tak lain manusia-manusia.
Penindas dan si tertindas
Celakanya, aku dan kau
tak lain si tertindas
Tak pelak, negara menggilas.


Ingkar

Setiap pagi, kau menyemai rindu dengan air mata. Luluh lantah dengan keluh kesah yang tiada habis-habisnya.

Nestapa samsara membuat kau amnesia, siapa gerangan dikau pada kehidupan sebelumnya.

Berkalang luka dan duka. Hanya beberapa suka dan cita yang sesaat mampir. Tipis dan getir. Lalu seorang pandita—dalam ujung rasa sakit seteguk racun tikus—berkata; dulu kau seekor lalat.


Boleh

Anganku,
tanganmu,
bercabang sepuluh.

Angin yang lambat datang,
gusur gusar, jauh-jauh.

Naif. 

Asketik.
Berisik.
Mendamba luka, yang susah sembuh.
Aku, sepuluh.


Imaji

Bolehkah aku?
Menjual jiwa
pada khayalan-khayalan;
masa-masa lima tahunan.
Saat-saat, merangkak, tersesat,
tanpa kenal khianat.
Kini, masa-masa mudaku nyaris saja lewat.
Tamat.
Penuh dengan;
omong-omong kosong,
kosong, omong-omong;
seperti singa ompong.
Lihatlah, kaus kakiku bolong!

Jakarta, 2019

— Lema Lekadana