Aku amat menyukai dongeng sejak kecil, sejak usiaku tujuh tahun—terutama dongeng teka-teki harta karun. Ada satu alasan mengapa aku menyukainya, sebut saja karena aku punya seorang sahabat keturunan Belanda yang amat menyukai dongeng tersebut. Tapi, semua itu tinggal kenangan semata—menyakitkan bila dikenang, dia sudah meninggal bertahun-tahun lalu karena sebuah tragedi mengerikan. 

Ya, mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi sama menyakitkannya menunggu kapal besar singgah di sungai desa untuk membawaku pergi bersama sahabatku itu demi mencari harta karun lautan.

“Hanya jiwa sang pemberani yang selalu punya harapan, walau itu mustahil terjadi ia akan selalu berharap, ia berani untuk mengejar harapan itu bahkan jika harus berkorban nyawa.” Begitu kira-kira kalimat yang selalu diucapkannya—sahabat dekatku.

Biasanya setiap pagi ia akan dengan riangnya melintasi jembatan penghubung antara desa kami, berlari-lari penuh semangat datang ke rumahku untuk kemudian bermain bersama teman-teman kami yang lain.

Selain itu aku juga suka dongeng-dongeng persahabatan anak-anak di negeri dongeng yang sering diceritakan ibu setiap kali hendak tidur, menenangkan Relung hati yang hendak tertidur—karenanya, selalu saja aku bermimpi bahwa hal-hal fantasi itu benar-benar ada, bukan hanya angan kosong yang biasa dipikirkan anak-anak.

Sore, pada suatu hari aku berjalan di sekitar sungai di desa, sungai indah dengan lebar lima meter terlihat dari dekat, terdapat banyak ikan, dan bahkan hewan lain yang mungkin belum pernah ditemukan orang—sungai ini memang surganya hewan langka. 

Termenung sejenak melihat keheningan dataran seberang, pikiranku berasa terbang bersama awan-awan putih ditas langit. Membayangkan betapa enaknya jika menjadi salah satu tokoh dunia fantasi, bisa terbang ke mana pun, berjalan di atas awan indah mencari harta paling berharga.

Di daratan hening di seberang sana itu dulunya adalah tempat tinggal sahabatku, tapi sejak dia pergi entah ke mana bersama orang tuanya, hanya warga keturunan belanda lain yang tinggal di sana

Diriku memang suka sekali berjalan-jalan sore di dekat sungai ini, suasananya begitu tenang, pemandangan yang indah, siapa yang tidak terpukau dengan keindahan ini? Tentu bukan aku, karena aku sangat mencintai tempat ini.

Tiba-tiba, mataku menangkap sesuatu yang menarik, sebuah botol cantik dengan hiasan bunga di bagian luar. Sistem pengiriman ini sudah lama dipraktikkan, mungkin sejak ibuku kecil hingga sekarang. 

Bukan surat dengan tujuan yang jelas, melainkan hanya tulisan-tulisan berupa harapan seperti halnya surat botol lainnya, jadi tidak heran banyak yang mengumpulkan botol-botol itu agar tidak menjadi sampah.

Dengan cepat berlari mengambil botol itu sebelum ada yang melihatnya. kubuka tutupnya lalu membacanya:

Temukan aku, maka duniamu akan berubah

“Surat apa ini?” pikirku. Ini bukan harapan yang mungkin ditulis anak, pasti ada orang yang mengirim surat dengan kalimat aneh seperti teka-teki. Eh, tunggu, kalau benar ini teka-teki, itu artinya ada seseorang yang ingin bermain denganku.

Keesokan harinya kuputuskan kembali ke sungai itu di jam berbeda, kali ini pagi hari dingin dengan ditemani sebotol teh manis—bekal dari rumah. Duduk pada sebuah kursi yang terbuat dari kayu jadi di dekat pohon kelapa tidak pernah membuatku bosan, selalu menciptakan efek relaksasi saat duduk di atasnya. 

Kursi yang bergoyang saat diduduki, bukan karena kursi goyang, tapi karena sudah rusak dimakan usia. Kurebahkan badan, dan mulai bertanya-tanya dalam alam bawah sadar—pengirim surat misterius itu benar-benar membuat penasaran.

Ketika menatap seberang sungai, sekilas bayang-bayang itu muncul,  seorang perempuan berambut panjang  sedang berdiri menatapku. Ibu selalu bilang bahwa tidak ada satu pun hal tentang daratan seberang itu, ibu bilang bahwa daratan seberang sudah ditinggalkan sejak 10 tahun silam.

Bayangan wanita yang kulihat itu benar-benar membuat penasaran, mungkin saja aku sudah berlari mengejarnya andai ada jembatan penghubung di antara sungai itu. Tapi ah, persetan. Aku seberangi sungai ini dengan cara berenang bebas, mencoba melawan arus deras membahayakan demi menuntaskan rasa penasaran.

Satu meter, dua meter, tiga meter, terus kuhitung meter demi meter sebelum akhirnya sampai di ujung. Aku menatap ke arah barat—tempat suara misterius itu berasal, burung-burung dan para penghuni hutan menyambutku dengan tidak ramah, pekikan layaknya sedang mengusir predator yang memasuki teritorialnya. 

Aku tak akan tersinggung karena itu, sejak berjuta-juta tahun manusia hidup, memang kami adalah predator pemangsa paling keji di planet ini. Tak terbesit sedikit pun di pikiran untuk memburu hewan asli di sini, bukan masalah mau atau tidak, tapi soal kebiasaan tidak boleh dielakkan. 

Larangan agar tidak melakukan hal ceroboh saat pertama kali memasuki wilayah asing adalah keharusan, tidak bisa dipungkiri larangan ini benar-benar berguna untuk kelestarian lingkungan juga. Aku ingat nasihat ini ada dalam dongeng berjudul “ Burung di Langit “ yang pernah didengungkan ibu.

Aku mendekat pada sebuah pohon tua. Tanaman perdu berdaun hijau tua, kelihatan nyaman untuk berteduh.

“Tapi aku tak bisa melakukannya, itu terlalu berat untuk dilakukan. Walau pun kau bilang aku bisa, bukan berarti lantas masalahnya langsung selesai,” seorang perempuan tengah bicara pada sesuatu, atau entah apa itu—berada di dalam air sungai?.

Aku mengernyitkan dahi. Sedang apa dia bicara dengan air? Ataukah dia sedang bicara dengan orang yang kulihat barusan?

“Halo!” aku menyapanya setelah berjalan beberapa langkah mendekat demi melihat dia sedang bicara dengan siapa.

“Oh, halo juga.” Ia sedikit terkejut melihat kedatanganku.

“Kamila, kamu sedang bicara dengan siapa? Bukankah ibu sudah melarangmu untuk pergi ke sini?” tanyaku penasaran, setelah melihat sekeliling dan memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitar sini.

“Tidak ada, aku cuma sedang mengobrol dengan diri sendiri.” Ia tersenyum ramah, kemudian melangkah maju.

“Apa kecapi itu milikmu?” tanyaku, usai melihat sebuah kecapi usang terduduk di bawah pohon kelapa.

“Oh, tentu. Kecapi itu pemberian mendiang nenekku. Dahulu ia dikenal sebagai pemain kecapi ... .  Eh, omong-omong kau juga sedang apa di sini?” tanyanya, seperti sama penasarannya denganku.

“Aku selalu ke sana setiap sore untuk sekadar mencari udara segar, tapi tadi aku melihat bayangan seseorang yang terlihat di seberang sini.” Kataku, kembali melihat seberang—tempat desaku berada.

“Kalau ada waktu kau boleh mampir ke rumahku, nanti kutunjukkan hal-hal menarik yang terjadi di sana.” Ia menjelaskan dengan semangat, berjalan pelan ke sana ke mari dengan gestur tangan menjelaskan.

“Sepertinya itu sangat menarik. Kebetulan sekarang aku sekarang tidak sibuk, tapi bisakah aku mendengar alunan musikmu sebelum kita pergi?”

“Tentu,” Ia tersenyum, mengambil kecapi kemudian duduk di tepian sungai sambil matanya menatap ke dalamnya.

Satu dua senar mulai dipetik, hingga terdengar nada indah menenangkan pikiran keluar dari alat musik tersebut. Hatiku begitu damai mendengarnya, seolah sedang berada dalam ruang harmoni.

Aku tak bisa menahan diri untuk memejamkan mata mendengar kelembutannya. Ia sangat mahir memainkan alat itu, mungkin memang bakatnya. Luar biasa, aku seperti melihat negeri ajaib saat mendengar musiknya.

Kemudian, setelah selesai memainkan lagu indahnya, kami langsung beranjak pergi dari tempat tadi menuju ke desa tempat tinggal Kamila. Konon, desa tersebut adalah tempat pemukiman warga misterius yang sudah menetap sejak era Orde Baru. Aku tidak terlalu ingat dengan sejarahnya, fisik mereka memang kelihatan sangat berbeda. Kamila bahkan memiliki mata berwarna biru, sangat berbeda dengan orang Indonesia yang biasanya bermata cokelat.

Saat berada sudah dekat, terlihat banyak rumah berdaun aren berjejer rapi, berjarak 1 meter setiap rumahnya. Sederhana, namun ada yang aneh sejak kedatanganku ke desa ini. Atau jangan-jalan kamilah yang aneh hingga dilihat oleh semua warga desa?

“Ayo masuk, kita sudah sampai.” Ucapnya dengan nada lembut, sambil meletakkan kecapinya di teras.

“Ini berat, jadi kutaruh di sini,” lanjutnya.

“Apa kau tinggal sendiri?” tanyaku.

Baca Juga: Jiwa yang Lapar

“Iya, beberapa orang tua di sini sering kali menghilang secara misterius, dan orang tuaku sedang pergi ke kota untuk menjual hasil kebun.”

“Wah, kau sangat berani tinggal sendiri.” Aku melihat ekspresi Kamila yang berubah secara tiba-tiba. Mungkinkah aku mengucapkan kata yang salah tadi?.

“Atma, maukah kau membantuku?” ia duduk, diam sejenak untuk menghela nafas lalu kembali bicara.

Aku ikut duduk di teras demi menjaga sopan santun.

Kecapi itu kembali dimainkan dengan, sambil ia membuka mulutnya ...

“Dahulu kami hidup berdampingan dengan warga asli. Anak-anak bermain dengan riang dengan tanpa memandang perbedaan sedikit pun, orang tua berdagang berdampingan di pasar tradisional dengan menawarkan semua keramahan, remaja-remaja memadu kasih mencipta semua seni bersama. 

Namun, bertahun-tahun lalu ada sesuatu yang mengusik kehidupan bertetangga kami, sesuatu yang jahat, misterius, dan berbahaya.  Mereka menyebutnya dengan sebutan Hantu Penyamun.”

Kamila memberi jeda sedikit di sela-sela senandungnya “Dia menggentayangi, menakut-nakuti hingga menculik semua warga. Warga kami dituduh sebagai dalang di balik semua serangan, mereka mengira bahwa karena hidup kami berkecukupan berarti kami sudah melakukan perjanjian dengan setan, mereka menuduh kami menumbalkan orang-orang dari desa sebelah, hingga mereka mengusir kami dari tempat tinggal kami sendiri. 

Kini kami hidup dalam keterbatasan di tepi hutan, walau pun jarak antara desa tempat tinggal kami sebelumnya, orang-orang desa tidak terlalu jauh, mereka tak akan berani masuk ke hutan yang mereka pikir adalah tempat tinggal hantu tersebut. Dan sekarang kami semua mengalami masalah yang sama dengan mereka, sekarang orang-orang kami diculik. 

Bahkan beberapa di antara kami berpikir bahwa sebenarnya ini hanya konspirasi orang-orang dari desa sebelah agar bisa menguasai harta kami. Semua ini tidak benar, aku yakin ada penjelasan logis mengenai semua ini. Atma, aku sering melihatmu bergumam soal memecahkan misteri saat kau duduk di bawah pohon itu, jadi maukah kau membantuku memecahkan masalah ini?”

Aku sedikit terkejut, jelas ini bukan masalah biasa yang bisa kutangani sendiri. Masih terlalu dini bagiku untuk menghadapi hal semacam ini.

“Maaf, tapi aku tidak bisa, aku tidak mungkin bisa memecahkannya sendiri,” sesalku, diam sejenak untuk menunduk—menyesal.

“Tapi aku tidak memintamu mengerjakannya sendiri, kita akan menyelesaikannya bersama. Kau mau jadi temanku kan, Atma?” katanya manis, madu saja mungkin kalah manis dengan kata-katanya.

“Tentu saja,” aku membalas senyumnya, lantas menatap ke arah hutan kosong di depan dari balik jendela. Sejak pertama kali menatapnya, ada sesuatu yang membuatku ingin pergi ke sana, seperti sebuah hutan penyihir di negeri dongeng.

Aku yakin ada sesuatu di hutan itu, sesuatu yang membuat tempat itu harus tetap rahasia dan terlindung dari aktivitas warga. Layaknya seekor harimau, menakuti untuk melindungi teritorialnya.

“Kau melihat apa?” Kamila tiba-tiba bertanya, ikut melirik dengan pandangan sejajar denganku.

“Aku pikir kita harus datang ke sana,”

“Kau yakin? Di sana banyak hewan buas,”

“Aku yakin, Firasatku mengatakan ada sesuatu di hutan itu.”

“Itu cukup masuk akal. Baiklah, kita ke sana.”

Gelap, seram, sunyi, dan dingin. Sebuah kesan tercipta begitu tubuh kurusku masuk ke dalam pedalaman hutan, semilir angin menyambut kedatangan, bulu kuduk merinding tak karuan. Namun penyelidikan ini harus tetap dilanjutkan, aku meyakinkan diri, melihat ke arah Kamila di belakang.

Matanya fokus memandang ke depan, seperti tak merasa ketakutan sedikit pun, padahal akulah yang mengajaknya ke kumpulan tumbuhan hijau menyeramkan ini.

Semakin jauh kami melangkah, aku merasa ada yang sedang mengikuti. Suara aneh seperti nafas tersengal kudengar dari belakang.

“Kau dengar itu, Kamila?”

“Kedengarannya seperti ada orang yang mengikuti kita.” Sedikit-sedikit kepalanya diputar seratus delapan puluh derajat. Namun ketika matanya memandang ke sana ke mari mencari sesuatu apa pun di sana, kami tak menemukannya.

Mungkin hanya tupai melompat dari pohon, lagi pula kami harus melanjutkan perjalanan.

Langkah kaki sedikit demi sedikit membawa pada hutan menyeramkan yang lebih jauh, sebuah gubuk tua dengan atap masih terbuat dari daun kelapa kering yang tentu saja dindingnya juga masih sangat tradisional.

“Permisi, apa ada orang di sini?” tanyaku, seraya mengetuk pintu gubuk yang terbuat dari kayu.

Seorang pun tak menjawab—sepi sekali seperti rumah ini sudah tak pernah ditinggali lebih dari lima tahun lamanya, tetapi asap mengepul dari rumah tadi cukup untuk membantah bayanganku itu.

“Mungkin pemiliknya tidak mendengarku. Mungkin saja ia berada di dapur makanya tidak kunjung datang,”

Baca Juga: Jiwa yang Rapuh

Beberapa hal di rumah ini mengingatkanku pada sebuah cerita horor tentang kedua anak yang tersesat di hutan kemudian menemukan sebuah gubuk tua yang ternyata—ah, aku tak mau mengingatnya, terlalu mengerikan. Omong-omong, hei! Di mana Kamila?.

Aku melamun selama beberapa detik demi mencari Kamila yang tiba-tiba menghilang, aku berani menjamin beberapa detik lalu ia masih di dekatku, tapi sekarang sudah menghilang seperti hantu. Apakah ini kebiasaannya? Atau aku memang kurang awas saat bersamanya tadi. 

Demi apa pun juga! Hutan ini lebih menyeramkan dari tempat mana pun yang ada di dunia! Apakah tidak ada yang mengurusnya? Polisi hutan—misalnya—atau apalah mereka menyebutnya.

“Atma, kemarilah! Aku menemukan sesuatu. Ya Tuhan, sebaiknya kau lihat ini, aku—“

“Kamila, bertahanlah! Aku segera datang.” Aku berteriak kencang demi melihat Kamila yang sepertinya sedang dalam kesulitan.

Aku langsung berlari sekuat tenaga ke arah suara Kamila, di sana ia sedang berdiri mematung memandang ke hutan lebih dalam lagi.

“Kamila, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanyaku, setelah memeluknya. Kulihat dia sangat ketakutan.

“Aku melihat sesuatu di sana.” Ia menunjuk ke arah sebuah pohon besar.

Tiba-tiba keheningan berganti menjadi kengerian saat aku mendapati seseorang tengah menepuk bahuku, mungkin kah itu—

“Atma, Nak!”

“Atma sayang, ibu datang ke sini karena Ibu lihat kamu melamun lagi.” Ibu merebahkanku pada pahanya. Ia sendiri bersandar pada pohon kelapa desa.

“Kamu melihat Kamila lagi? Nak, dia sudah tenang di alam sana, begitu pun dengan keluarga dan semua tetangganya. Ayo minum obatmu dulu, setelah itu kita jalan-jalan ke taman. Dr. Heri kan sudah memintamu untuk tidak melamun, Tragedi itu sudah berlalu, jiwa sang Pemberani harus bisa melupakan masa lalu sesakit apa pun itu. Ibu yakin Kamila tidak ingin kamu terus begini, dia pasti ingin sahabatnya sembuh.”

“Baik, Bu.” Aku bangun dan mulai melangkah beriringan dengan ibu.

Sebelum pergi, aku melihat kembali ke arah belakang. Sosok Kamila yang paling kurindukan memainkan nada sedih perpisahan dengan kecapi usang pemberian neneknya, dengan riang ia melambai ke arahku. 

Aku hanya bisa tersenyum sambil terus berjalan meninggalkan semua kenangan itu. Aku tidak pernah berhenti berharap bahwa Kamila masih hidup, tidak peduli mereka menganggapku apa—hanya jiwa sang pemberani yang tidak pernah berhenti berharap.

Karena penyakit ini membuatku melihat semuanya.