Wahana super spektakuler milik mendiang Micheal Jackson, Neverland, konon menjadi tesis bagaimana trauma masa kecil bisa merampas nalar seorang dewasa. Namun benarkah trauma masa kecil menjadi sebuah bom waktu saat dewasa beranjak?

Erik Erikson sang pengajar medik pada universitas Harvard punya teori tentang perkembangan jiwa anak. Trauma pada masa anak-anak justru ladang untuk menumbuhkan kematangan diri secara psikologis. Lingkungan turut menjadi lakmus bagaimana trauma tersebut kelak mewujud.

Maka jika teori psikologi yang berkembang selama ini menyatakan bahwa di dalam tubuh dewasa bersemayam jiwa anak-anak, trauma masa anak-anak itulah yang mendekam dalam ruang kedewasaan.

Micheal Jackson pun mengalami hal yang sama, namun trauma secara libidal yang subur dalam jiwa sang King of Pop tersebut.

Ada status menarik di akun fb sang komisioner HAM Kurniasari Novita Dewi atau yang akrab dipanggil Ibu Upik, pada 13 Februari 2016 tentang Menyuburkan imajinasi anak. Beliau mendukung imajinasi anaknya dengan limpahan perhatian. Ini seolah menjadi sebuah jalan perkembangan psikologi sang anak yang saat ini menjadi ketua kurikuler seni serta menjabat ketua OSIS.

Maka jiwa anak yg terperangkap dalam tubuh dewasa bukanlah sebuah premis negatif. Menguapkan sifat tersebut saat tubuh telah tumbuh dewasa adalah sebuah kemustahilan. Yang terbaik adalah mengembangkannya secara positif. Dengan begitu, justru akan menjadikan kita sebagai jiwa-jiwa dewasa yang dasyat!!