Seniman
5 bulan lalu · 1240 view · 7 menit baca · Cerpen 63603_88127.jpg
Pexels

Jin yang Tak Mampu Mengabulkan Permintaan

Lakon Si Ma'owa dan Si Uceng Manu

Jika hidup adalah seks, maka filsafat adalah masturbasi,” begitulah kata-kata yang tadi menggema di dalam mimpiku. Kata-kata yang aku tak tahu diucapkan oleh siapa. Kata-kata itu memantul-mantul begitu saja di alam bawah sadarku.

“Ma’owa, bangunlah! Ma’owa ... bangun!,” terdengar suara seorang laki-laki yang menarikku paksa keluar dari dalam lubang mimpi, dengan lutut kananku yang tengah diguncang-guncang perlahan olehnya.

Yo, iyo, iyo, aku sudah bangun,” dengan suara yang amat kering, kupindahkan lengan kanan dari atas jidat ke atas pasir putih. Seketika itu pula, pori-pori pada kulit wajahku langsung disambut oleh semprotan cahaya putih kekuningan mentari. Silau.

“Coba kau lihat, ada apa di atas pohon kelapa itu?,” tanya Uceng Manu. Ia masih jongkok di samping kanan tubuhku, sambil telunjuknya yang sedang mengarah ke belakang.

Aku memutar leher, lalu setengah mendongkrak tubuhku sendiri dengan kedua siku yang lagi menopang di atas pasir.

“Semalam tidak tampak lantaran terlalu gelap,” ujar Uceng Manu. “Sekarang, lekaslah kau panjat pohon itu!”

“Mengapa harus aku?,” tanyaku dengan nyawa yang masih terhimpun seperempat.

“Pertama, kau lebih tinggi dan lebih besar dariku,” kata Uceng Manu. “Kedua, aku belum lagi tidur dari semalam, jadi tenagaku tak sesegar tenagamu yang baru bangun tidur. Ketiga, aku lebih pin–"

“Ayolah! Janganlah lagi kau gunakan premis-premis logikamu itu!,” kupotong perkataan Uceng Manu.

“Lantas? Kira-kira dengan apa lagi harus kupecahkan masalah-masalah seperti ini? Hidup ini dipenuhi oleh persoalan-persoalan pelik, dan hanya bisa dihadapi dengan satu senjata, yaitu: logika,” tutur Uceng Manu melanjutkan ocehannya.

“Tapi hanya ada satu buah yang tergantung di atas sana,” seruku sambil mengangkat punggung dari atas pasir, lalu duduk bersila menatap ke arah pohon kelapa itu.

“Tidak apa-apa. Nanti akan kita bagi rata,” ujar Uceng Manu. “Sudah, jangan buang-buang waktu lagi. Cepatlah kau panjat dan jatuhkan buah itu!”

Yo, iyo, iyo,” balasku malas seraya bangkit dari atas pasir, lantas berjalan ke arah satu-satunya pohon kelapa yang ada di pulau ini.

Pulau ini begitu kecil. Sebuah pohon kelapa yang akan kupanjati ini, tumbuh sebatang kara di pertengahan punggung pulau. Di sekeliling pulau, tergelar pasir berwarna putih semacam tepung terigu. Bak sebuah tempurung, pulau ini terapung-apung di atas samudera yang super luas lagi tak bertepi. Tak ada penampakan pulau lain sejauh mata berkelana. Hanya ada hamparan air laut yang tengah melemparkan balik sinar matahari pagi menjelang siang, yang begitu menyilaukan mata.

Pohon kelapa ini adalah sebuah pohon yang masih perawan, dengan tak ada satu pun nahatel (pijakan kaki yang dibuat dengan cara melukai kulit batang pohon menggunakan parang) pada batangnya yang lurus. Tapi tak apalah. Lagipula, pohon ini tak terlalu tinggi-tinggi amat. Lumayan pendek. Dari atas permukaan pasir, tingginya hanya sekitar lima meter. Ini terlalu enteng bagiku. Aku sudah terbiasa memanjat pohon kelapa saat dulu masih menetap di kampung.

Dengan segera, langsung kurangkul batang pohon dan mulai merangkak naik. Gerakanku sangat cepat, semacam kera. Tak perlu waktu lama bagiku untuk tiba di pucuk pohon. Dan kini aku sedang berhadap-hadapan dengan buah berkulit hijau yang sebesar bola sepak.

Aneh juga. Bagaimana bisa sebuah pohon kelapa hanya mampu menghasilkan satu buah saja? Apakah sudah pernah ada orang lain yang menaiki pohon ini sebelumnya? Bentuk tangkai tempat buah ini menggantung pun begitu janggal. Sangat tipis, setipis tali kasut.

“Ma'owa! Cepatlah!,” teriak Uceng Manu dari bawah pohon, seraya menggerakkan tangan serupa tukang parkir yang sedang memberi instruksi.

Yo, iyo, iyo,” balasku separuh jengkel. Rasa-rasanya ingin sekali kujatuhkan buah ini ke atas ubun-ubunnya.

Kupegang pantat buah, lalu mulai memutarnya searah jarum jam. Tangkainya pun ikut-ikutan terpelintir, hingga akhirnya putus jua. Buah itu jatuh menaati gravitasi dan kemudian menghantam pasir putih. Selepas itu, aku langsung meluncur ke bawah seraya berpelukan dengan batang pohon.

“Karena kau telah memanjat pohon, jadi sekarang tugasku untuk mengupas buah ini bagi kita berdua,” Uceng Manu mengeluarkan pisau lipat dari saku celana jeans, lalu mulai menusuk-nusuk buah kelapa menggunakannya. “Pertama-tama, kita cicipi dahulu air segar yang ada di dalam sini.”

Dari lubang tempat Uceng Manu menancapkan ujung pisau lipatnya, sekonyong-konyong muncullah sebentuk asap putih yang menerobos keluar bersama cipratan air kelapa. Asap itu makin lama makin tebal, hingga akhirnya menjelma menjadi sesosok makhluk telanjang bulat berkulit putih susu dengan tinggi sekitar tiga meter. 

Makhluk itu memiliki tubuh layaknya manusia laki-laki, dengan otot-otot perut dan dada yang kencang lagi berisi. Kepalanya plontos. Hanya ada sejumput rambut di dagunya yang juga berwarna putih; serupa janggut kambing. Namun, di bawah perut makhluk itu tak terdapat benjolan atau bulu sedikit pun. Rata dan licin. Ia tak punyai alat kelamin.

“Aku adalah seorang Jin Kelapa yang maha segala kuat juga maha mengabulkan,” kata makhluk putih kekar itu. “Kuberi kau tiga permintaan. Silakan.”

Aku dan Uceng Manu saling bertatap-tatapan, dengan ekspresi wajahnya yang tak bisa kuterjemahkan maksudnya apa. Barangkali terkejut. Bisa jadi girang. Atau mungkin juga ketakutan.

“Silakan ajukan tiga permintaan. Jangan sungkan-sungkan,” seru makhluk putih itu. Atau sekarang bisa kusebut sebagai Jin Kelapa.

Dengan segera, langsung kuacungkan jari telunjuk ke udara.

“Aku ingin uang satu miliar rupiah!,” pintaku.

“Maaf. Aku hanya akan mengabulkan permintaan orang ini, karena dialah yang telah membebaskanku” kata Jin Kelapa sambil mengarahkan telunjuk tangan kanan ke arah Uceng Manu.

Aku menatap wajah Uceng Manu. Ia pun balik menatap wajahku, sambil mengeluarkan sebuah senyuman menjijikan.

“Baiklah,” ujar Uceng Manu. “Permintaanku yang pertama adalah: jika kau memang maha segala kuat, kuingin kau untuk menciptakan sebuah batu yang sedemikan beratnya, hingga kau sendiri pun tak bisa untuk mengangkatnya.”

“Apa yang sedang kau lakukan?,” kutarik lengan tangan kanan Uceng Manu seraya menatap matanya lekat-lekat.

“Kau tenanglah di situ, Ma'owa” bisik Uceng Manu padaku. “Aku tahu apa yang sedang kulakukan,” lanjutnya sembari memberiku sebuah kedipan satu mata yang begitu menggelikan.

Jin Kelapa mengernyitkan kening berwarna putihnya. Tampaknya ia sedang mencoba untuk mencerna kata-kata yang tadi keluar dari mulut Uceng Manu. Ia tengah berpikir keras. Sangat keras.

“Permintaanku yang selanjutnya adalah: aku ingin memiliki segalanya, yang mana hanya bisa kudapatkan tanpa melalui permintaan kepadamu,” kata Uceng Manu.

Sama seperti Jin Kelapa, aku pun kebingungan hebat mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Uceng Manu. Sebuah kebingungan yang sangat lucu. Apalagi ditambah saat kupelototi air muka Jin Kelapa yang serupa air kobokan. Kulit pada wajah makhluk putih itu melipat-lipat dengan pola-pola tak karuan. Ulu hatiku terasa begitu geli. Hampir saja kumuncratkan sebuah gelak tawa; menertawai janggut kambingnya.

“Dan untuk permintaan yang terakhir,” lanjut Uceng Manu. “Aku ingin agar kau tak mengabulkan segala permintaan yang tadi telah kuajukan. Termasuk juga permintaan yang satu ini.”

“Buahahahahaha!”

Terlambat. Tak bisa lagi kutahan gelombang tawa yang menggelegar dari dalam dinding-dinding perut. Aku ngakak sambil berguling-guling di atas pasir, serupa cacing yang lagi ditaburi kapur.

Well, karena kau telah menghabiskan semua permintaanmu menggunakan paradoks-paradoks yang mustahil, maka kuputuskan untuk masuk kembali ke dalam pohon kelapa, lalu menunggu untuk dibangunkan lagi seribu tahun kemudian,” keluh Jin Kelapa lantas membalikkan badan, dan kemudian hilang dikunyah batang pohon kelapa.

Sesaat sebelum ia raib–setelah ia membalikkan badan–kulihat di antara jepitan kedua pipi pantatnya, mencuatlah sebuah batang kemaluan hitam dengan bulu-bulunya yang juga tak kalah hitam. Sebuah penis hitam yang begitu kecil, yang hampir hilang ditelan oleh pantat putihnya. Sungguh sebuah kontras warna yang teramat jenaka.

Dan kini aku benar-benar tak tertolong lagi. Aku meninggal dalam tawa.

Yes, aku berhasil!,” teriak Uceng Manu kegirangan sambil mengangkat kedua tinju ke udara.

Yo, iyo, iyo,” aku bangkit dari atas pasir, lalu kuberikan sebuah tos ke arah telapak tangan kanan Uceng Manu. Tangan kiriku masih sibuk mengusap-usap kedua mata yang melembab karena ketawa tadi. “Harus kuakui, kau memang seorang master logika. Hebat!”

“Tentu saja. Logika adalah nama tengahku,” ujar Uceng Manu bangga seraya berkacak pinggang, sambil memandang jauh ke arah samudera yang sedang diterpa panas cahaya matahari.

Angkasa yang miskin akan awan, membuat angin semakin membara menampar kulit kami berdua; aku dan Uceng Manu. Apalagi ditambah dengan uap-uap mendidih tak kasat mata yang sedang berdesakan naik dari atas permukaan air asin, yang membikin tenggorokan kami kian kerontang tak tertahan lagi. 

Udara sangat panas. Dan belum juga tampak sebentuk perahu ataupun kapal bantuan yang muncul dari kejauhan. Sialan.

“Seharusnya tadi kita minta untuk diteleportasi ke kota saja,” ujarku kesal.

“Ya. Atau setidaknya sebotol air mineral,” sungut Uceng Manu sambil melemparkan buah kelapa yang telah ia belah. Tak ada daging atau air sedikit pun di dalamnya. Kosong melompong.

“Menurutmu, apakah Jin tadi bisa mengabulkan, jika kita meminta untuk mendapatkan permintaan yang lebih banyak?,” tanyaku pada Uceng Manu sambil duduk bergabung bersamanya di atas pasir putih. "Maksudku, kita gunakan permintaan terakhir untuk meminta tiga permintaan yang baru."

Selagi memandang samudera yang ada di depan, Uceng Manu pun membalas, “Mmm ... kupikir trik yang lebih baik ialah: meminta untuk dapatkan Jin yang lebih banyak."

Yo, iyo, iyo,” kurebahkan punggung ke atas pasir, lantas kutelan ludahku sendiri.


Artikel Terkait