Kemarin beredar video Ustaz Abdul Somad (UAS) di timeline Twitterku. Judul videonya Hukum Melihat Salib. Dalam video itu, UAS menjawab pertanyaan jemaahnya yang berbunyi: “Mengapa setiap melihat salib menggigil hati saya?”

Isi video itu: UAS menjelaskan tentang jin kafir yang ada di dalam patung salib, menanyakan ke jemaatnya kepala Yesus miring ke kiri atau kanan saat disalib, UAS bernyanyi haleluya, dan diakhiri dengan anjuran menghapus tanda salib di mobil ambulans dan diganti dengan lambang Bulan Sabit.

Apa yang aku rasakan saat menonton video itu?

Kalau aku bilang aku tidak marah atau kesal, kesannya garing banget ya? Semacam minta puji. Nggak mungkinlah keyakinan kita dilecehkan sedemikian rupa dan tak merasakan amarah walaupun sedikit, yekan?

Seharusnya aku marah dan memaki-maki UAS dan mengajak semua Kristen di Indonesia bahkan dunia untuk menghujat dan menghukum dia. Tapi semangat itu tidak pernah muncul. Aku balik nonton video itu, dan berkata dalam hati, “Ya, dia kan menilai iman Kristen lewat kacamata iman dia, ya nggak akan cocoklah. Kalau menurut dia seperti itu, ya tidak apa-apa.” Case close!

“Wah, lu cool banget ya?” Enggak juga. Memang seperti itu cara berpikir kebanyakan orang Kristen bila ada orang yang mengolok-olok iman mereka. Aku tidak sendirian berpikiran seperti itu. Kebanyakan orang Kristen akan seperti itu. Makin puritan dalam Kekeristenan makin tidak ada amarah itu.

Aku ingat tulisanku yang berjudul Tuhannya Dihina, Orang Kristen Kok Diam Saja?. Ada yang membuat tulisan tanggapan yang intinya orang Kristen terlalu santai menanggapi hinaan sedangkan orang Islam terlalu cepat meledak. Sebaiknya orang Kristen harus sedikit marah dan orang Islam harus mengurang daya ledaknya. Hahahaha… ada-ada saja!

Sambil lalu aku cek storyline Instagram Alma Sunan, putri Sunan Kalijaga, yang beberapa minggu ini heboh karena dia masuk Kristen. Setahuku Alma belum dibaptis, karena dia masih dalam tahap belajar kekeristenan. Tahap pembelajaran itu bisanya memakan waktu kurang lebih setahun.

Aku mau kasih tahu satu hal, jadi Kristen itu sulit masuknya tapi gampang keluarnya. :)

Dari membaca tulisan dan balasan terhadap komen netizen yang mahabenar, menurutku iman Kristen Alma sudah beranjak dewasa walaupun dia baru lahir (dalam Kekeristenan) bahkan belum dibaptis.

Mari saya kutip tulisannya di storyline Instagramnya. Hai Alma Sunan, mohon maaf aku mengutip tulisanmu.

“Banyak banget yang minta respond aku mengenai salah satu oknum yang bilang kalo lihat salib mengigil hatinya  itu setan atau jin kafir.

Fyi when I was a kid, aku tuh anti sekali dengan sesuatu yang berbau dengan salib dan lainnya. Lupa deh dulu kalo gak salah entah di gramed atau di mana gitu suka ada patung Jesus, aku bisa muntah2 liatnya. Benar-benar muntah saat itu juga, just ask my mom and dad I used to be like that.

Semacam gak bisa ngelihat salib, bahkan waktu di Vatican 2017 lalu aja orang2 pada masuk ke St. Peter’s Basilica aku ogah cuma diluarnya aja. Geli gitu lihatnya.

But look where I am now. I am here declaring my love for Jesus. Surrounding my life for HIM. I pray for HIM. I accept HIM ketika dia datang berbisik walaupun cuma hitungan detik di saat aku sudah sesak nafas karena percobaan bunuh diri.

Praise the Lord. How amazing HE is. HE CAN move the mountains. HE is Mighty. HE is the king of kings. 

Keep in your mind Allah itu kasih sedangkan kasih itu sabar. Bila dia yang hebat sabar menghadapi penghinaan ajaran-Nya dengan tidak bereaksi apa pun kepada yang menghina anaran-Nya. 

Trus ngapain kita antar sesama repot2 debat? Manusia harusnya saling sabar agar mampu mengendalikan diri untuk tidak melakukan aksi balasan terlebih jangan sampai melakukan kekerasan. Lagi-lagi ajaran Dia adalah ajaran kasih. 

That’s my input. Sekian terima kasih, mohon maaf apabila salah. God bless you.”

Kemudian tadi aku membaca tulisan Aan Anshori yang di-share oleh teman FB-ku, tulisannya berjudul Salib Somad: Menjadi Drakula atau Manusia?.

Dalam tulisan ini Aan berkata, “Namun aku harus berkata jujur kepada kalian (umat Kristen-red). Apa yang UAS sampaikan merupakan doktrin mainstream di kalangan Islam Indonesia, setidaknya yang beraliran Sunni. Sangat banyak orang Islam yang mengikuti doktrin tersebut.”

Kejujuran Aan ini menjawab pertanyaanku: kenapa Alma Sunan merasa anti dan mual tiap kali melihat salib? Jadi terjawab sudah mengapa selama ini banyak yang takut sekali terhadap salib. Aku tidak akan mengkritik cara pandang kalian. Bila Anda merasa itu kebenaran, silakan!

Okay, kalian mau tahu apa yang aku pelajari saat kanak-kanak di Sekolah Minggu? Setiap minggu kami bernyanyi dan mendengar cerita-cerita tentang Jesus, para Raja, para Hakim, para Rasul dan doktrin-doktrin Kristen lainnya yang terdapat dalam Alkitab.

Tentang neraka pun cuma sekilas dikasih tahu Guru Sekolah Minggu. Karena kami adalah anak-anak Tuhan yang akan bersama Sang Bapa kelak di Surga. Jadi kami jarang sekali dihantui oleh cerita mengerikan tentang neraka.

Di Sekolah Minggu dapat cerita tentang Islam? Tidak ada. Pun saat masuk kelompok remaja dan pemuda hingga dewasa. Tentang Islam aku dapatkan dari pergaulan dengan teman-teman di luar gereja. Dan lebih banyak lagi tahu dari internet.

Membaca komen di sebuah twit atau postingan yang sensitif tentang agama, sering aku membaca beberapa akun berprasangka bahwa orang Kristen juga memburuk-burukkan Islam saat mereka berkumpul di gereja. What?

Teorinya seperti ini: Si A berprasangka bahwa si B menjelek-jelekkannya karena si A sering menjelek-jelekkan dan berprasangka buruk terhadap B.

Mungkin saja ada pendeta yang khotbah negatif tentang Islam di mimbar gereja, tapi itu sangat-sangat sedikit. Karena Alkitab tidak berbicara tentang Islam dan kebanyakan pendeta tidak belajar secara mendalam tentang Islam. Jadi apa yang harus dikhotbahkan tentang Islam?

Tahukah kalian bahwa kami sebagai Kristen sering kali canggung harus bersikap terhadap muslim? Kami takut perkataan atau tindakan kami menyinggung perasaan. Sungkan menawarakan makanan yang kami masak karena takut dicurigai tidak halal. Sungkan bersalaman atau memasuki rumah tetangga muslim karena takut nanti rumahnya menjadi najis.

Bagaimanakah orang Kristen harus bersikap terhadap muslim?

Pertanyaan ini sudah lama menjadi pergumulanku. Buruk sangka beberapa muslim kadang tampak jelas mereka tunjukkan padaku, terutama saat aku membawa Cibi, anjing kesayanganku jenis shih tzu, jalan keliling kompleks perumahan. FYI, aku selalu membawa pulang kotoran anjingku.

Pernah ada bapak tua yang dibantu cucu lelakinya yang berusia sekitar 20-an mengusirku dari dekat rumah mereka dan berujar supaya tidak melewati depan rumah mereka lagi karena bau kencing anjing itu tercium bagi mereka walau dari jarak 50 meter. Sensitif sekali penciumannya, bukan? Bagaimana dengan tai kucing yang banyak di pinggiran jalan? Kasihan, mereka pasti tersiksa bau.

Aku pernah berpapasan dengan seorang nenek yang berjalan dengan anak cucunya. Saat melewati kami (aku dan anjingku), dia berucap, “Jangan bawa anjing lewat depan rumah saya.” Aku ternganga saat melihat mereka menjauh. Aku tidak tahu rumahnya yang mana!

Aku lebih sering membawa Cibi berjalan sekitar jam 5 sore. Sering kali banyak anak-anak yang sedang bermain mendekati kami saat melintas. 

Saat ada anak yang ingin memegang Cibi, ada saja anak lain yang nyeletuk, “Jangan! Nazis itu.” Atau, “Lu akan jadi Kristen kalo sentuh anjing.” WOW, auto Kristen! Awal dengar kalimat sejenis aku kesal, tapi lama-lama senyumin saja.

Sama seperti pada saat awal teman yang biasanya mengucapkan selamat Natal akhirnya berhenti memberi selamat, dan karena merasa tidak enak dia menjelaskan, “Sorry ya, kami dilarang memberi ucapan selamat.” Baiklah! Makin ke sini aku menjadi kebal perasaan.

Dulu pertama kali mendengar sebutan kafir ditujukan pada kami orang Kristen, rasanya sakit, karena kami dilarang menuduh orang lain kafir. Itu tuduhan berat, hukumannya dalam Alkitab adalah dibawa ke depan persidangan. Sekarang perasaanku jadi kebal. Tidak marah, malah dibawa bercanda, “Proud to be Kafir!”

Saat heboh kasus penistaan agama oleh Ahok, sempat ada pegumulan dalam hati saya, bagaimana saya harus bersikap terhadap muslim? Sampai saya pernah menulis artikel di Qureta yang berjudul Ketidaknyamanan Umat Kristen Atas Al-Maidah 51.

Terjemahan Al-Maidah 51 edisi lama Depag RI: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin (mu).

Terjemahan Al-Maidah 51 edisi baru Depag RI: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia (mu).

Saat itu yang berdebat hebat adalah sesama muslim. Satu pihak bilang artinya pemimpin dan yang berseberangan mengatakan artinya teman setia. Tentu kami umat Kristen yang dipertaruhkan posisinya antara tidak bisa jadi pemimpin atau tidak bisa jadi teman setia. Apa pun keputusannya, sama-sama menyayat hati kami. 

Bagi teman-teman muslim mungkin tidak terpikir efek kalimat itu terhadap kami, tapi kami yang Kristen, saling bertukar pandang tidak percaya mendengar arti ayat tersebut. Dalam batinku, “Apakah sahabatku si anu itu tidak menganggapku sahabat karena dia diperingatkan untuk tidak menjadikan kaum Nasrani jadi teman setia?”

Pernah terdengar juga ajakan supaya jangan memakan makanan yang sediakan orang Kristen karena bisa saja ditaruh ini-itu supaya murtad. Ya Tuhan Allah!

Di tengah derasnya arus prasangka ini, aku jadi teringat nasihat Bunda Teresa yang berbunyi:

Apabila engkau berbuat baik, orang mungkin akan berprasangka buruk kepadamu.
Bertanya-tanya ada maksud apa di baliknya. Namun, tetaplah berbuat baik.

Apa pun yang mereka perbuat dan katakan, tetaplah berbuat jujur. Karena semua hanya antara engkau dengan Tuhan

Prasangka hanya akan mengantarkan kita pada perpecahan dan ketidaknyamanan. Memelihara prasangka sama dengan mengalami sakit; tapi meminum racun tiap hari dan berharap kesembuhan, hasilnya adalah penderitaan yang makin dalam.

Akhir kata, aku mau menyampaikan, “Ustaz Somad, kami mengasihimu dan berharap berkat dan kebahagiaan berlimpah atasmu!”

Lucunya, aku bisa berkata seperti itu karena diajarkan oleh jin kafir yang bikin Anda merinding itu. :) :) :)