“Bunda, aku petak umpetnya pakai mukena ya,“ anak ragil saya yang berusia 6 tahun saat itu menghampiri saya di saf salat di masjid perumahan.

“Nggak usah, nak, nanti kesrimpet; kan mainnya lari-lari,“ larang saya.

“Tapi kata temanku aku harus menutup aurat karena aku nggak pakai kerudung, kaos kaki,  jadi aku pakai mukena aja ya,” jawabnya sedikit memohon.

Saya merasa geram sekali. Ini sudah yang kesekian kalinya dia mendapatkan tekanan dari teman sebayanya untuk berjilbab saat bermain.

Sebagai orang tua, saya memiliki pandangan dia belum wajib berjilbab karena belum balig. Tapi tekanan sosial membuat dia tidak cukup percaya diri menjadi berbeda dengan temannya.

Kali lain, dia mengeluhkan kalau ibu gurunya juga menyampaikan kalau siswanya harus mengenakan jilbab kalau di rumah ada tamu laki-laki. Saya sampai merasa perlu menghubungi gurunya secara pribadi untuk menyampaikan nilai yang saya anut.

Sebagai orang tua, saya paham dan menerima sekolah Islam yang saya pilih memang memiliki aturan seragam berjilbab di sekolah. Saya memahami itu sebagai konsekuensi yang harus saya terima karena mengharapkan anak saya memperoleh materi agama dasar yang lebih lengkap dibandingkan sekolah dasar negeri. Tapi mewajibkannya di rumah, menurut saya, sudah melampaui kewajiban sekolah.

Apakah saya menentang jilbab? Tentu saja tidak, bahkan saya memilih mengenakannya sejak remaja, saat duduk di bangku SMA negeri, dengan kesadaran saya sendiri. Mengambil risiko menjadi berbeda karena zaman itu siswi yang mengenakannya hanya dua orang termasuk saya dalam satu kelas. Saat itu, pilihan mengenakannya saya ambil setelah membaca cukup banyak tafsir, berkonsultasi dengan ustaz dan orang tua saya.

Jadi saya punya alasan sendiri mengapa menginginkan anak saya tidak berjilbab saat anak-anak. Sebagai orang yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi, bukan porsi saya untuk menyampaikan ayat-ayat terkait wajib dan tidaknya jilbab berikut perbedaan pendapat yang ada. Saya cukup memegang pandangan agama bahwa anak-anak belum dikenai kewajiban mengenakannya.

Selebihnya, saya tentu saja menggunakan landasan psikologi perkembangan. Anak adalah usia mengeksplorasi diri, secara kognitif, emosi, psikomotor, demikian juga perlu berproses dalam membangun kesadaran beragamanya.

Alasan pembiasaan itu juga kurang dapat saya terima. Saya memandang jilbab adalah bagian dari ajaran agama, dan karenanya ingin mengajarkan pada anak mengenakannya karena kesadaran daripada ukuran kepantasan sosial. 

Bukankah perjalanan setiap perempuan berjilbab sangat personal, pribadi, dan berubah seiring perjalanan spiritualnya? Bukankah ibu-ibu yang sekarang mengenakannya juga saat anak-anak tidak mengenakannya?

Bagi saya, kesadaran dalam menjalankan praktik beragama akan menghasilkan penghayatan yang lebih baik, bertahan lama, daripada motif mengikuti tekanan sosial. Selain itu, saya merasa perlu mengajarkan anak saya untuk menjadi pribadi yang autentik, dan paham apa yang diinginkannya, serta mampu menghadapi tekanan sosial dalam beragam bentuk yang bahkan akan tetap dialaminya sebagai perempuan sampai ia dewasa.

Ataukah saya yang terlalu ndakik-ndakik dan berlebihan?

Beberapa teman menyatakan kalau tak usahlah berpikir muluk-muluk mengaitkan menggunakan jilbab dengan pencarian spiritual, karena saat ini jilbab lebih bernilai gaya hidup, bagian dari fashion. 

Duh, rasanya saya kok nggak terima. Saya masih menyimpan pemikiran bahwa idealnya jilbab dipakai dengan penuh kesadaran, setelah setiap muslimah telah membaca dan mempelajari dengan cukup tentang tafsir terkait hukum mengenakannya. Memahami perdebatan pro dan kontra, sehingga saat mengenakan juga dengan pemaknaan yang lebih bernuansa batin daripada sekadar lahir.

Tapi ternyata cerita sehari-hari dari teman-teman yang berjilbab pasca punya anak atau bahkan saat lansia mengonfirmasi pendapat teman saya. Cukup banyak teman saya, ibu-ibu yang mengaku berjilbab karena anaknya yang sekolah di sekolah Islam malu jika orang tuanya tak berjilbab karena ditegur gurunya. 

Bahkan ada ibu-ibu di sekolah tertentu yang di grup WhatsApp orang tua dan guru memang diberikan “arahan” untuk berjilbab. Demikian juga cukup banyak ibu-ibu yang mengenakan karena lingkungannya dan sekadar daripada “rame”. Termasuk juga alasan perubahan bentuk badan yang akan tertutupi jika bergamis, lebih praktis dengan berjilbab, dan alasan-alasan penampilan yang lain.

Mungkin akan banyak yang menyatakan mengenakan jilbab secara sukarela, sebagai bentuk keinginan untuk menjadi lebih taat, wujud hijrah, atau alasan yang lainnya. Silakan saja, itu juga bagian dari fakta. Tapi pengalaman yang saya alami secara pribadi dengan anak saya, pengakuan sebagian perempuan yang merasa hanya mengikuti tekanan sosial juga sah untuk didengarkan. 

Siapa pun orang dewasa di sekeliling anak kecil, kalaupun memiliki pandangan tentang kewajiban mengenakan jilbab, cukuplah itu Anda terapkan pada orang yang berada dalam otoritas Anda. Tidak perlu melangkah lebih jauh dengan mewajibkan bagi anak orang lain, teman Anda, atau saudara Anda. Percayalah, upaya Anda untuk syiar Islam dengan cara menasihati tanpa diminta dapat menjadi bumerang bagi tujuan syiar itu sendiri.