Belakangan ini sedang ramai orang membincangkan tentang aplikasi baru membuat avatar diri di sosmed FB. Setiap orang sekarang bisa membuat avatar diri yang menggambarkan karakter dirinya. Dari warna kulit, model rambut, bentuk tubuh dan sebagainya bisa dikreasikan sesuai keinginan pembuatnya.

Setelah dipelajari, ternyata pembuatan avatar ini bisa lebih kompleks lagi, tidak hanya warna kulit, rambut dan bentuk tubuh saja, sampai hal detail pun bisa dibuat, seperti bentuk mata, hidung, bibir, alis, bahkan kelentikan bulu mata pun bisa diatur. Gaya, baju yang dikenakan, dan kerlingan mata tidak luput adalah bagian yang bisa diotak-atik dalam aplikasi ini.

Beberapa kali saya mencoba membuat avatar dari aplikasi tersebut. Mencoba mengganti beberapa warna kulit, pasang model rambut yang paling sesuai, juga bentuk tubuh yang saya rasakan paling mirip. Setelah jadi, ternyata tidak sesuai dengan aslinya. Mencoba mengulang lagi dengan lebih serius, bongkar-pasang elemen yang tersedia, ganti lagi setelah dirasa kurang sesuai. Tapi tetap tidak ada satupun yang sreg di hati. Pada akhirnya memutuskan tidak usah bikin avatar.

Saya cukup memperhatikan avatar teman-teman yang silih berganti menghiasi lini masa di laman FB saya. Saya cukup terhibur dengan hasil kreasi teman-teman di dunia maya yang saya miliki, mereka sangat bersemangat membuat avatar-avatar mereka, dan yang pasti saya rasa mereka senang melakukannya, terbukti dari caption-caption yang mereka tulis di avatar tersebut

Seharusnya aplikasi ini bisa menjadi penghibur dan ajang silaturahmi dengan teman-teman di dunia maya. Terkadang ada avatar yang menurut kita tidak sesuai dengan karakter asli pemilik akun, maka kita bisa "protes" dengan cara yang sesuai dengan tingkat kedekatan dengan pemilik akun. Lucunya ada seorang kawan yang memang gapteknya sudah pada level akut, justru kesal sendiri melihat di lini masanya dipenuhi avatar teman-temannya dan dia tidak bisa membuatnya.

Di masa pandemi Covid-19, di mana banyak orang dihinggapi rasa bosan luar biasa karena harus WFH (work from home), tidak bisa kemana-mana, menemani anak PJJ (pembelajaran jarak jauh) selayaknya merasa terhibur dengan adanya aplikasi baru ini. Kita layak berterima kasih kepada FB atas aplikasi yang menyenangkan dan membahagiakan ini.

Sangat disayangkan, ada pihak yang justru menjadikan maraknya aplikasi ini digunakan di FB sebagai ajang pem-bully-an bagi wanita yang membuat avatar diri tanpa menggunakan jilbab. Sungguh receh sekali apa yang dilakukan. Mereka mempermasalahkan wanita muslim berjilbab yang membuat karakter avatar tanpa jilbab.

Saya tidak bisa memahami kenapa harus dilihat dari kacamata seperti itu? Ini kan dunia maya, dan avatar yang dibuat pun berkarakter kartun, tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Kalaupun ada yang mengatakan ada hubungannya, so what? Orang-orang seperti ini justru memperlihatkan kalau dirinya termasuk kalangan intoleran dan tidak bisa melihat segala sesuatu dari sisi positif.

Jilbab itu adalah pakaian, dan setiap orang seharusnya merdeka memilih pakaian seperti apa yang ingin dipakainya. Jilbab tidak berbeda dengan pakaian lainnya, ada kemeja, baju koko, gamis, kaos, sarung dan sebagainya. Kalau Anda berpikir jilbab itu wajib, maka pakailah sesuai dengan apa yang Anda yakini, itu adalah hak Anda.

Memaksakan apa yang Anda yakini kepada orang lain, itu yang sama sekali bukan hak Anda. Apa yang Anda pahami dan yakini belum tentu sama dengan apa yang orang lain pahami dan yakini, jadi cukuplah sampai di Anda saja. Hargai perbedaan. Apa yang Anda yakini mengenai pakaian itu belum tentu benar juga, demikian pula dengan yang diyakini orang lain, belum tentu benar juga. Jadi, ya sebaiknya masing-masing saja.

Apalagi yang dipermasalahkan adalah jilbab, di mana masalah ini pun pemahamannya masih menjadi khilafiah (perbedaan) di kalangan ulama sekalipun. Sebagian ulama mengatakan jilbab itu wajib bagi muslimah tapi tidak sedikit juga ulama yang mengatakan jilbab itu tidak wajib. Setiap orang juga bebas mau mengikuti pendapat ulama yang mana untuk kenyamanannya

Hargai saja saudara muslim yang tidak mengenakan jilbab, itu adalah pilihannya yang sangat mungkin disebabkan karena dia meyakini ulama yang mengatakan pemakaian jilbab itu tidak wajib. Daripada pusing memikirkan kenapa ada muslimah tidak pakai jilbab, lebih baik sibuk memperbaiki kualitas diri sendiri saja.

Seperti yang sudah disampaikan tadi, lebih baik kita mengurusi perbaikan diri kita saja yang pastinya masih penuh dengan ketidaksempurnaan, daripada sibuk mengurusi apa yang dilakukan orang lain terhadap hidup mereka sendiri. Percayalah bahwa nasehat yang kita berikan tidak ada harganya, karena sejatinya nasehat yang berharga itu adalah nasehat yang diminta.

Sekarang ini, lebih baik kita nikmati saja avatar-avatar lucu yang lalu-lalang di lini masa kita. Syukuri kita masih bisa tersenyum karenanya. Ucapkan terima kasih kepada developer aplikasi ini yang bersusah payah menyenangkan penggunanya.