Sebuah peradaban akan dikatakan maju, jika telah mampu melampaui peradaban yang sebelumnya. Hal demikian dijadikan sebagai tolok ukur dari sebuah perkembangan zaman yang mampu dilihat secara jelas. 

Misalnya peradaban Yunani Kuno yang menganggap kejadian meletusnya gunung sebagai aktivitas sang Dewa yang sedang marah. Proses terjadinya gerhana Matahari, bagi masyarakat Tiongkok kuno diartikan seekor naga yang menelan matahari. 

Sedangkan bagi masyarakat Afrika kejadian gerhana matahari diartikan sebagai pertengkaran yang terjadi antara matahari dan bulan, sehingga bulan menang dan menjadikan kegelapan.

Dahulu banyak manusia yang tinggal di Goa-Goa, gunung, hutan dan sebagainya. Hanya menggunakan rerumputan, kulit hewan dan kayu untuk dijadikan pakaian agar terhindar dari dingin atau sebagainya. Itu disebabkan dahulu belum adanya kemajuan teknologi, apalagi daya pikir yang masih belum digunakan untuk keperluan selain dari mendapatkan makanan (berburu). 

Kemajuan sebuah peradaban menurut Hungtington bahwa hasil dari akumulasi unsur-unsur yang umum dalam kehidupan manusia seperti Bahasa, agama, sejarah, kebiasaan atau adat istiadat dan sebagainya.

Tentunya mitos dan tingkah laku tersebut, di zamannya dijadikan sebagai perkembangan peradaban umat manusia. Dari peradaban itulah kian hadir kemajuan yang membuat manusia semakin cerdas dan mampu memikirkan segala sesuatu akan kemajuan peradaban manusia sampai saat ini. 

Kemajuan saat ini, tentunya berkat manusia yang mampu mengelola sebuah kebenaran dengan begitu baik, sehingga melahirkan kemajuan zaman yang hampir banyak orang tidak memikirkannya. Kebenaran-kebenaran yang hadir, baik dari agama maupun dari luar agama telah memberikan sumbangsi begitu besar terhadap kemajuan manusia sampai saat ini.

Peradaban Islam

Dalam Islam berpikir rasional dan tidak mempercayai mitos atau kepercayaan nenek moyang dan bergerak menuju kemajuan menjadi factor penting dalam sebuah kemajuan peradaban. 

Sejak Nabi Muhammad Saw di utus kehidupan di zamannya mulai diubah dengan menggunakan pendekatan agama sebagai norma untuk mengatur kehidupan manusia. Bahkan seseorang akan cenderung tidak melakukan sebuah kesalahan jika sudah di dasari oleh nilai keimanan yang terdapat dalam sebuah kepercayaan.

Dahulu, Wanita dizaman jahiliyah tidak mendapatkan tempat sebagai seorang manusia. sebab Wanita dahulu di simbolkan sebagai sumber petakan bagi keluarga yang memiliki seorang anak perempuan. Banyak yang juga yang dijadikan sebagai budak, alat pemuas hawa nafsu dan sebagainya. 

Justru itu, peradaban Islam mencoba mengubah perspektif yang keliru tersebut sehingga sampai saat ini Wanita dijadikan sebagai manusia yang memiliki kebabasan berekspresi di muka umum.

Termasuk sejak dahulu, pelarangan untuk memakai Jilbab bagi Wanita muslim merupakan satu kemunduran yang telah dilakukan banyak orang. Dilain sisi hal demikian merupakan perintah agama dalam Islam. Tentunya penggunaan tersebut memberikan banyak manfaat kepada Wanita muslim untuk menjaganya dan membedakannya dengan Wanita lainnya. 

Sebagaimana dalam kita Al-Qur’an dijelaskan “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab: 59).

Menurut tafsir Al-Azhar Buya Hamka mengatakan bahwa turunya ayat ini ialah untuk memberikan perintah kepada Nabi untuk menyuruh istri, anak, dan istri orang beriman untuk menggunakan kain yang Panjang yang menutup badan (jilbab) yang itu memberikan perbedaan terhadap budak dan perempuan yang lainnya. 

Sebab menurut Buya Hamka, dahulu perempuan atau budak saat itu, yang sering keluar rumah tidak menggunakan jilbab sering diganggu oleh para pemuda yang jahil.

Begitupun apa yang dijelaskan oleh As-Suddi bahwa tujuan jilbab digunakan dalam Islam ialah bahwa mereka merupakan perempuan yang terhormat dan merdeka bukan budak dan bukan pula perempuan yang melacurkan dirinya. 

Maka ini juga menjadi catatan bagi kita semua bahwa, pada dasarnya jilbab ialah symbol kemajuan peradaban dan symbol keimanan seseorang. Seseorang menggunakan jilbab berarti ia sudah memiliki kesadaran iman kepada Allah atas perintahnya.

Jahiliyah Modern

Jelas bahwa, sejarah panjang bangs aini telah menghadirkan berbagai persoalan mengenai penggunaan jilbab. Sebut saja, dahulu anak-anak sekolah dilarang menggunakan jilbab atau simbol-simbol agama di dunia pendidikan. Bahkan diruang-ruang publik pun perempuan yang berhijab mendapatkan diskriminatif. 

Tercatat misalnya dalam ajang pertandingan Judo di Asian Para Games 2018 didiskualifikasi dari pertandingan tersebut hanya karena menggunakan jilbab. Yang paling menghawatirkan seseorang yang berintelektual berani mengatakan bahwa Wanita berjilbab mirip orang gurun, yang menandakan bahwa tidak memiliki kemajuan atas diri seorang perempuan.

 Tentunya hal demikian mengundang banyak reaksi, pasalnya kejadian seperti ini hanya terjadi di zaman jahiliyah yang telah kita jelaskan di atas. Ada beberapa spekulasi orang yang melarang penggunaan jilbab tersebut. 

Pertama pola pikirnya yang belum menyentuh kemajuan zaman dan norma agama yang berlaku (bagi Islam). Kedua keilmuan dan pengetahuannya yang belum sampai pada titik tersebut. 

Sebab Jilbab merupakan kemajuan zaman, di mana perempuan menggunakan pakaian yang menutup seluruh badan, bukan malah sebaliknya menggunakan pakaian yang tidak cukup bahan.