23416_95898.jpg
www.pexels.com
Filsafat · 5 menit baca

Jika Uang adalah Raja, maka Kertas adalah Dewa

Ada sebuah gurindam yang salah satu barisnya berbunyi "Uang adalah raja dunia". Kerap terdengar pula kutipan sebuah pepatah populer yang menuturkan bahwa “Uang bisa membeli segalanya”.

Barangkali ada berlimpah perumpamaan lain yang mencitrakan betapa hebatnya sebuah objek kasat mata bernama uang ini. Kata orang, uang lebih berharga daripada harga diri. Karena uang, nyawa orang bisa melayang. Bahkan, ada juga yang sengaja menghambakan dirinya pada uang. Lalu, apakah uang sudah menjadi benda paling berkuasa di muka bumi? 

Sayangnya, perumpamaan "Di atas langit masih ada langit" tetap berlaku di sini. Jika uang adalah “raja”, maka masih tersedia tempat yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan raja, yaitu “dewa”. Tak ada benda duniawi lain yang layak menduduki posisi ini selain kertas.

Memang acapkali benda ini dipandang sebagai kasta yang rendah, fisik yang rapuh, dan terkesan tak berharga. Namun, keberadaannya sangat kita butuhkan dalam melangsungkan hidup. Tidak sekedar jadi sarana baca-tulis saja. Di luar itu, kertas mengemban peranan yang krusial dalam kehidupan yang kita jalani. 

Pertama, kita tidak boleh lupa kalau uang diciptakan dalam dua bentuk, yaitu uang logam dan uang... kertas. Uang kertaslah yang memegang nilai tertinggi sebagai alat pembayaran. Benar bahwa uang logam juga sanggup membeli banyak hal, tetapi itu tidak akan efisien.

Ketika berbicara tentang uang, pasti yang terbesit dalam benak adalah gambaran uang kertas. Merujuk pada mesin pencari gambar daring dengan kata kunci uang, hampir semua gambar yang muncul pun berupa uang kertas. Jadi, yang dianggap sebagai raja dunia itu adalah kertas. Yang bisa membeli segalanya itu juga kertas. 

Kemudian untuk mendapatkan uang, kita harus bekerja. Dalam usaha mencari pekerjaan itu, kita memerlukan suatu benda yang disebut ijazah, yang mana terbuat dari kertas. Supaya memperoleh ijazah, kita pun harus berusaha dengan cara bersekolah. Dalam proses belajar di sekolah itu, kita membutuhkan buku, yang mana terbuat dari kertas. 

Kalaupun kita hanya berdiam diri di rumah, kita tetap memerlukan sesuatu yang sanggup membuktikan kepemilikan kita atas tanah yang kita tempati. Benda yang biasa disebut sertifikat tanah itu juga terbuat dari kertas. Bahkan, kita sekedar terlahir di negara ini, supaya keberadaan kita diakui oleh negara, dibutuhkan benda bernama Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga yang lagi-lagi terbuat dari kertas. 

Entah disadari atau tidak, kertas telah larut dalam kebutuhan hidup yang urgen untuk dipenuhi. Dalam skala yang lebih luas, kertas bahkan menyebar pengaruh yang besar dalam kehidupan umat manusia. Impaknya sangat hebat pula dalam kelasnya sebagai benda buatan manusia. Karena itulah, cukup setimpal bagi kertas untuk mendapat posisi yang lebih tinggi ketimbang uang. 

Misalnya, kertas mampu mengendalikan tindakan seseorang. Melalui surat perjanjian atau kontrak, kertas dapat memerintah manusia untuk melaksanakan pekerjaan yang telah termaktub di dalamnya, sepanjang itu mengikat.

Contohnya, apabila setiap hari Anda bekerja 8 jam dalam sehari selama 5 hari dalam seminggu, maka Anda telah berhasil dikendalikan oleh kertas berbentuk kontrak kerja yang sudah Anda tanda tangani sebelumnya. Bila perintah itu tidak dilaksanakan, tentu ada konsekuensi yang menanti. Dalam kasus ini bisa jadi berupa tindak pemecatan. 

Kertas juga sanggup mengatur kehidupan penduduk suatu negara. Dalam rangka mencapai tujuan bersama, diperlukan suatu peraturan yang membatasi perilaku penduduknya. Peraturan itu ditulis dalam lembaran kertas yang disusun menjadi sebuah kitab perundang-undangan. Di Indonesia sendiri, kitab ini bisa berupa KUHP, KUHAP, KUHPdt, maupun kitab perundang-undangan yang lain. 

Kertas dapat pula menuntun manusia pada kebaikan. Kertas terpilih sebagai media untuk memuat ayat-ayat perintah agama yang terwujud sebagai sebuah kitab suci. Dengan begitu, manusia memiliki landasan yang jelas tatkala mengamalkan kebaikan, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, maupun kebaikan pada sesama manusia. Bahkan, karena perannya ini, kertas yang menyusun lembaran kitab suci pun turut dianggap suci dan wajib dijaga. 

Kertas pun bisa mengubah wajah satu negara, bahkan dunia. Seperti yang telah ditunaikan oleh selembar kertas ukuran 126 x 55 cm berisi ketikan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang berhasil membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajahan selama lebih dari 3,5 abad lamanya. Ataupun kertas yang membentuk sebuah buku yang berjudul Wealth of Nation karya Adam Smith yang menjadi cikal bakal sistem kapitalisme di dunia. 

Tak perlu diragukan lagi, kertas memang lebih unggul dari uang dalam segi fungsionalitas. Di sisi kemanusiaan pun, uang tak bisa lagi memperbaiki reputasi. Uang cenderung kejam terhadap kaum yang lemah. Kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, semua didapat dengan uang.

Namun, kertas memiliki belas kasih yang sedikit lebih besar. Dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), kertas bisa membantu keluarga miskin mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, dan keperluan hidup lain dengan harga yang murah atau cuma-cuma. 

Uang juga menyebabkan manusia jadi serakah. Kekuatannya yang besar bisa membutakan manusia dalam menggapai keberadaannya. Hingga tindakan tak terpuji pun mereka biasakan. Mulai dari mencuri, pencucian uang, sampai korupsi sudah menjadi mata pencaharian utama.

Tidak seperti kertas. Justru mengumpulkan kertas bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Manusia mengumpulkan buku, maka akan luas wawasannya. Manusia mengumpulkan ijazah, maka akan bertambah pengetahuan dan gelarnya. Manusia mengumpulkan sertifikat pelatihan, maka akan bertambah keahliannya. 

Uang pun cenderung congak atas kehebatannya dan enggan turun dari tahtanya. Senantiasa bertengger dalam dompet dan saku manusia yang hangat, atau dalam kotak kas dan brankas bank yang aman.

Di lain sisi, kertas lebih low profile dan tidak sungkan melakukan pekerjaan yang rendah sekalipun. Dengan senang hati, ia menjadi pembungkus makanan untuk jualan pedagang miskin bermodal kecil. Terkadang ia jadi alas tidur para tuna wisma yang mencegah dinginnya sentuhan bumi. Tak jarang pula ia membiarkan dirinya dipenuhi coretan para pencari inspirasi. 

Kita patut belajar pada kertas tentang kerendahan hati. Walau sehebat apapun kekuatan yang dimiliki, tetap ada yang lebih hebat, Yang Maha Kuasa. Tidak pantas kita mengagung-agungkan uang, atau bahkan menuhankannya. Baik uang ataupun kertas hanyalah sebuah produk hasil rekayasa manusia semata. Satu benda artifisial yang tak akan bernilai tanpa jasa manusia juga. 

Selain itu, tinggal menunggu waktu bagi uang untuk turun tahta dan digantikan oleh bentuk non tunai yang mulai mengambil alih dunia pembayaran. Disusul oleh kertas yang juga tengah digempur kampanye-kampanye paperless society yang bernaung di bawah i’tikad cinta lingkungan.

Mungkin akan tiba masanya nanti ketika kekuasaan uang dan kertas diambil alih oleh kekuatan digital yang saat ini tengah dielu-elukan. Jadi, mari kita gunakan waktu yang tersisa ini untuk memanfaatkan uang maupun kertas dengan sebijak mungkin.