Salah satu penghambat jika ingin menulis adalah persepsi negatif terhadap tulisan yang ingin kita tuangkan. Munculnya persepsi yang belum tentu jelas kebenarannya seakan memberikan ulasan bahwa tulisan tidak layak dan mengalami banyak kesalahan.

Mungkin saja kita sering mengatakan, "Saya tidak tahu menulis, dan ketika saya menulis justru tulisan saya jelek dan pasti tidak ada yang membaca." Ya, bagi saya pribadi, hal itu hanya menodai pikiran kita, seakan kita bertindak bahwa sudah mengetahui apa yang terjadi ke depan. "Emangnya lo Tuhan, tahu sesuatu yang belum terjadi?"  

Kondisi seperti ini memang salah satu problem besar bagi seorang penulis. Terutama bagi penulis pemula, mandeknya kita menulis karena ada banyak pikiran yang bermunculan. Maunya seperti itu dan maunya seperti ini, sehingga ujung-ujungnya tidak ada tulisan yang dapat diselesaikan. Seperti perkataan, "Jangan sampai tulisan yang dibuat salah atau jelek, yang ada hanya menguras pikiran saja."

Ya, memang betul menulis akan menguras banyak pikiran, tenaga, dan waktu. Tetapi, itulah risiko bagi seorang penulis. Penulis harus dapat menyisakan waktu dalam menuangkan pikirannya pada naskah tulisan. Dengan menulis berarti mengeluarkan segala keresahan atas problem yang terjadi sesuai sudut pandang dari penulis itu sendiri.

Walaupun tidak bisa dimungkiri bahwa berhasilnya sebuah tulisan dapat dilihat seberapa banyak pembacanya. Akan tetapi, menurut saya, terutama bagi penulis pemula, bukan mesti harus banyak pembacanya, melainkan bagaimana kita melatih diri agar terbiasa dalam kegiatan menulis. Karena hukum mengatakan bahwa sesuatu yang terus dibiasakan dapat mempermudah nantinya dalam mencapai keberhasilan.

Mengenai penilaian dari orang lain tentang hasil tulisan kita, tentu memiliki banyak macam karakter. Ada memuji dan bahkan ada juga yang mencaci. Salah satu yang dapat membuat down jika tulisan kita langsung mendapatkan komentar pedas. 

Seperti halnya, "tulisanmu sangat jelek, tulisanmu terlalu datar." Atau singgungan pada pribadi seseorang, "kamu tidak pantas jadi seorang penulis, mendingan tidak usah menulis." Jelas problem-problem seperti ini akan menurunkan semangat kita dalam menulis, apalagi kita sebagai penulis pemula.

Mestinya kondisi demikian kita hadapi dengan santai. Katakan saja "bodoh amat, ini tulisan saya, terserah saya mau menulis tentang apa". Bukan berarti tidak menerima kritikan ya, melainkan mengabaikan hal-hal yang dapat menghambat kita menulis. Selagi tulisan itu tidak mengandung unsur SARA, mencaci, dan mengundang permusuhan, saya rasa boleh-boleh saja.

Sejatinya seorang penulis adalah mereka yang merdeka. Menulis sesuai cara pandang penulis adalah hak bagi dirinya sebagai manusia. Tidak ada yang dapat mengintervensi penulis kecuali penulisnya sendiri yang mempunyai kepentingan tertentu.

Hal inilah yang mesti kita musnahkan. Persepsi negatif terhadap diri sendiri justru hanya dapat menghambat proses tujuan kita. Bukan hanya dalam hal kegiatan tulis-menulis, tetapi segala yang ingin kita capai mestinya dilandasi dengan prasangka positif. Fokus pada tujuan, bukan malah terlena dengan hambatan yang ada.

Memulai menulis harus dilandasi dengan sifat percaya diri. Walaupun kondisi zaman hari ini penulis makin bertambah dan ide seakan sudah ada semua yang menulisnya, bukan berarti tidak ada yang bisa ditulis, justru seharusnya bagi penulis-penulis muda mencari kekurangan dari tulisan yang sudah ada. Dari kekurangan itulah dapat dijadikan sebagai kelebihan kita dan menjadi sebuah tulisan yang baru.

Begitulah kodrat kehidupan pasti akan ada kritik-autokritik. Proses dialektika antara tesis dan antitesis sehingga menjadi sintesis. Dari sintesis ini dapat menjadi tesis baru dan pasti ada lagi antitesis baru. Begitulah pertentangan akan terus terjadi sampai kapan pun, hanya saja yang membedakan adalah kondisi dan jenis pertentangannya.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda yang memiliki semangat untuk menulis. Ayo mari kita menulis, belajar mengasah tulisan dengan terus membiasakan menulis setiap harinya. Karena menulis akan dapat memicu dalam menumbuhkan semangat literasi. Ketika sudah menulis, otomatis kegiatan membaca pun juga terjadi.

Menulislah dengan menggunakan hati agar dapat lebih mudah. Suasana nyaman dan pembawaan yang santai dalam berkata-kata. Menulis berarti bercerita, membiarkan ke mana arah pikiran kita, sampai pikiran tersebut dapat terbuang semua dari apa yang kita rasakan.

Dengan menulis, maka akan memunculkan imajinasi dan kreativitas. Namun, ada yang perlu diperhatikan dalam menulis , yakni jangan menulis sambil mengedit. Karena membaca, menulis, dan mengedit memiliki waktu yang berbeda dalam kepenulisan.

Menulis adalah proses kerja dua otak dari otak kanan dan otak kiri. Otak kanan bekerja untuk berimajinasi, berkreativitas sehingga otak kananlah yang bekerja untuk menuangkan segala ide dan gagasan. Sedangkan otak kiri bisa diidentikkan pada hal-hal tersusun dan rapi, sehingga ia bekerja pada proses pengeditan. 

Makanya, tidaklah boleh menulis sambil mengedit. Apabila itu terjadi, justru tumpang tindih antara kerja otak kanan dan otak kiri. Sehingga dapat membuat tulisan tidak jadi-jadi, karena bolak-balik antara penulisan dan pengeditan, akhirnya mengalami kebuntuan dan kehabisan ide.