1 tahun lalu · 101 view · 4 menit baca · Lingkungan 83137.jpg
http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/11/foto-foto-orangutan-makhluk-menawan-yang-terancam-punah

Bagaimana Nasibmu Orangutan Jika Namamu Tak Sesuai

Apakah anda mengenali orangutan? Primata berkelakuan layaknya manusia berasal dari sebuah pulau yang berseberangan langsung dengan negeri Jiran. Orangutan berciri-ciri memiliki bulu bewarna merah pirang serta tangannya berukuran sama dengan kakinya.

Orangutan tinggal di hutan, kawasan yang menjadi kriteria tempat tinggalnya yaitu Kalimantan. Kalimantan memiliki hutan terluas kedua di Indonesia yang memungkinkan memiliki banyak pepohonan. Orangutan menghabiskan sebagian waktunya (ssekitar 90 persen) di pohon hutan hujan tropis. Hal inilah mengapa lengan orangutan agak panjang.

Namun, menurut International Union for Conservation Nature (IUCN) menaikan status Orangutan Borneo dari Terancam Punah (Endangered) menjadi Kritis (Critically Endangered). Hal ini disebabkan karena berkurangnya populasi orangutan beberapa dekade saat ini. 

Salah satu hal yang menyebabkan orangutan sudah memasuki level kritis ialah berkurangnya hutan di Kalimantan. Kurangnya hutan di Kalimantan terjadi disebabkan oleh banyaknya pengusaha beringin kaya menghalalkan segala cara  dengan  menyulap tempat tinggal gambar uang dahulu menjadi sebuah kebun penghasil minyak.

Luas Hektar Hutan di Kalimantan

 

Kalimantan memiliki hutan paling terluas kedua di Indonesia setelah Papua. Luas hutan Kalimantan sendiri berikisar 41 Juta hektar. Dari data tersebut, hutan di Kalimantan merupakan inti dari bagian paru-paru bumi di Indonesia.

Sayangnya, hutan yang menjadi inti dari paru-paru bumi harus mengalami deforestasi setiap tahunnya. Menurut data Forest Watch Indonesia pada tahun 2013 luas hutan Kalimantan hanya bersisa 26,6 juta hektare. Jika hal tersebut terus berlanjut, maka ditahun 2020 luas hutan berkurang menjadi 32 persen.

Sementara itu, Indonesia pernah mendapat penganugerahan rekor dari Guiness Book of The Record sebagai negara memiliki laju deforestasi tercepat di dunia dengan angka 1,8 juta per tahun. Dari angka tersebut, dapat diperkirakan Kalimantan memiliki angka deforestasi sebanyak 52 ribu per tahun.

International Union for Conservation Nature (IUCN) menyatakan bahwa kerusakan hutan di kalimantan sudah mencapai 75 persen. Itu berarti terdapat 25 persen hutan di Kalimantan belum tersentuh oleh kerusakan. Hal ini membuktikan bahwa Kalimantan turut menyumbangkan deforestasi kepada Indonesia. Indonesia menanggung deforestasi sebesar 1,13 juta per tahunnya.

Penyebab terjadiya deforestasi pada hutan kalimantan ialah banyaknya pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk membuka lahan. Tanah tersebut akan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Tindakan tersebut bukan mendapatkan untung namun buntung yang diterima Kalimantan bahkan Indonesia.

Keterkaitan Populasi Hutan dengan Populasi Orangutan


Berdasarkan luas hektar hutan di Kalimantan. Kita dapat simpulkan bahwa luas lahan hutan kalimantan saat ini semakin menipis. Luas hutan dahulunya sebanyak 41 juta hektar turun drastis hingga 26,6 juta hektar.

Dampak dari menipisnya hutan di Kalimantan berdampak pada primata khasnya. Primata dari kalimantan merupakan bagian dari kekayaan Indonesia. Namun, sebanyak 73 persen primata di Asia terancam punah. Hal tersebut membuktikan bahwa primata di Indonesia hampir telah tiada.

Salah satu primata Indonesia tersebut ialah orangutan. Seperti yang dilansir International Union for Conservation Nature (IUCN) orangutan merupakan satu dari tiga primata di Indonesia yang telah terancam punah. Orangutan pula sudah masuk ke kategori “krisis”.

Orangutan sudah dicap sebagai oleh CITES sebagai hewan yang sangat rentan untuk punah. Orangutan biasa bereproduksi selama enam hingga delapan tahun sekali. Reproduksi primata tersebut ialah sangat lamban. Hal inilah mengapa orangutan sangat rentan menyentuh kepunahan.

Populasi orangutan dari tahun ke tahun terus berkurang. Bayangkan saja, pada tahun 1970-an populasi orangutan mulai berkurang dan menurun menjadi sekitar 47.000 orangutan pada tahun 2025. Setiap tahunnya, orangutan harus kehilangan keluarganya sebanyak 55 persen. Apabila hal tersebut terus terjadi, bisa jadi orangutan akan dikenanng namanya oleh anak cucu kita nanti.

Hidup orangutan dihabiskan sekitar 90 persen di pohon. Hutan merupakan singgasana bagi orangutan. Namun singgana tersebut tiap tahunnya sering dibongkar oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Bayangkan saja, sekitar 75 persen hutan di Kalimantan telah rusak. Dari persentase di atas, bisa jadi populasi orangutan terikut dengan pengerusakan hutan tersebut.

Tak hanya itu akibat kerusakan hutan, orangutan yang dahulunya sebagai permata emas menjadi parasit di tengah masyarakat. Akibat hal tersebut, banyak masyarakat yang membunuh orangutan dikarenakan primata tersebut mengacaukan kebun mereka. Hal ini sangat tidak diketahui oleh para pengusaha rakus yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan primata yang telah terancam punah.

Upaya Pemerintah Dalam Perlindungan Hutan

Dari keterkaitan populasi hutan dengan Populasi orangutan, dapat disimpulkan bahwa orangutan sangat bergantung kepada hutan. Sebanyak 55 persen orangutan yang punah setiap tahunnya. Jika dikaitkan dengan persentase kerusakan hutan di Kalimantan bisa jadi, apabila hutan di Kalimantan gundul maka otomatis orangutan ikut lenyap pula.

Pemerintah sudah berupaya melindungi orangutan dengan membangun suaka margasatwa yang terletak di pulau samama, Kalimantan Timur. Namun, pemerintah masih menemukan sedikit jalan pintas terkait perlindungan hutan di Indonesia. Pemerintah terus berupaya untuk melindungi hutan di Kalimantan.

Upaya pertama yang dilakukan pemerintah ialah bekerja sama dengan luar negeri. Pemerintah Amerika bekerja sama dengan Pelestarian Hutan Tropis Kalimantan (TFCA Kalimantan) dan WWF Indonesia yaitu pengurangan hutang. Pemgurangan hutang tersebut digunakan untuk melindungi hutan secara berkesinambungan.

Pemerintah Amerika memberikan dana hibah kepada TFCA Kalimantan dan WWF Indonesia sebanyak 3,3 juta yang diberikan kepada organisasi non pemerintahan. Hal ini dilakukan untuk perlindungan hutan. Jika kerjasama pembawa keselamatan berjalan dengan baik, maka hutan dan primata didalamnya tetap terjaga.

Upaya kedua dan harus dilakukan pertama yaitu memberikan kesempatan kepada masyarakat adat untuk menjaga hutan. Presiden Joko Widodo telah mengesahkan sembilan hutan adat. Dari sembilan Masyarakat Hukum Adat (MHA) tersebut belum ada dari Kalimantan. 

Padahal, banyak hutan adat di Kalimantan yang belum diakui misalnya di Dayak Agabag dan Tidung di Nunukan. Jika dinas kehutanan setempat berusaha mengakui hutan adat ke pemeritahan pusat, maka orangutan yang berada di hutan Kalimantan akan terjaga populasinya.

Tak hanya pemerintah yang meski berupaya untuk melindungi hutan. Masyarakat juga harus bertindak dalam upaya pencegahan kerusakan hutan. Apabila pemerintah bekerjasama dengan masyrakat, maka orangutan yang hidup di hutan kalimantan akan terjaga populasinya.Serta dapat dilihat oleh anak dan cucu kita nantinya.