Sama seperti perlakuan saya terhadap film-film bagus lainnya yang tersimpan di laptop, saya baru saja menonton How to Train Your Dragon 3 untuk ketiga kalinya. Imam Syafi’i pernah berkata tentang kitab al-Muwwatha karangan gurunya, yaitu Imam Malik, “Aku berkali-kali membaca kitab al-Muwwatha dan sebanyak itu pula aku menemukan pemikiran baru.”

Maka begitu juga saya yang menonton How to Train Your Dragon 3 untuk ketiga kalinya pun mendapat gagasan yang menggelitik (terlepas dari sepertinya menyandingkan kitab al-Muwwatha dengan film How to Train Your Dragon 3 tidaklah apple to apple) selain kegemasan melihat tingkah laku lucu Toothless.

Di film itu, Hiccup memutuskan untuk memindahkan seluruh penduduk Berk beserta para naga ke tempat lain. Sebenarnya, bagi Viking adalah hal biasa untuk hidup berpindah tempat karena mereka pada galibnya adalah bangsa petualang. 

Tentu saja ada seorang warga yang tidak setuju dan mengatakan, “Apa yang akan dikatakan oleh Stoick (kepala suku pendahulu sekaligus mendiang ayah Hiccup) tentang ini?”

Dan yang menarik adalah jawaban dari Hiccupp, “Berk bukan hanya sebuah tempat; Berk adalah kita semua di mana pun kita berada.” 

Cukup beralasan untuk sang kepala suku berkeputusan ekstrem seperti itu karena memang keadaan yang sudah sangat memojokkan, yaitu dengan terus-menerusnya musuh berdatangan untuk merebut naga-naga mereka.

Sebagai penikmat film, mungkin apa yang warga Berk lakukan bukan sesuatu yang perlu dipikirkan. Tetapi bagi mereka yang gandrung dengan wacana, ideologi, dan politik mungkin sekali akan mempertanyakan, “Di mana rasa nasionalisme dan patriotisme warga Berk yang pemberani itu? Terutama sang pengagas utama: Hiccup sang Kepala Suku?”

Memang tak diperlihatkan dalam film itu para warga menangis dan meratapi kepergian mereka dari tanah air tempat mereka dilahirkan dan tumbuh—pendek kata mereka seperti pergi begitu saja dengan para naga mereka.

Tentu ideologi nasionalisme dan patriotisme tidaklah jadi pedoman di film animasi tersebut. Tetapi irisan di antara ideologi itu dengan warga Berk jelas terlihat, yaitu perasaan menghargai warisan nenek moyang. Bahwa tanah air yang mereka tempati tidak serta-merta diberikan.

Irisan kedua adalah kesamaan nasib, bahwa warga Berk selalu berjuang bersama sejak zaman dulu hingga kala mereka sudah hidup bersama dengan naga.

Padahal Berk adalah tempat yang indah dan sejahtera ditambah dengan pemimpinnya yang bijaksana dan tidak terjadi kesenjangan sosial di sana, entah itu dalam hal ekonomi ataupun pemilikan luas tanah. Melihat kondisi kesetaraan ekonomi dan pemilikan tanah itu, Berk lebih dari pantas untuk dipertahankan.

Dan secara kebetulan saya di hari yang sama menyelesaikan novel Perempuan di Titik Nol karya Nawaal el-Sadaawi. Tokoh utama, yaitu Firdaus, ditanya tentang rasa patriotisme dan membela negara. Dia menjawab dengan sinis, namun masuk akal, “patriotisme dan membela negara di sini berarti membela hak tanah milik orang-orang kaya, karena orang-orang miskin tidak memiliki tanah.”

Latar tempat novel berdasar kisah nyata ini adalah negara Mesir, dan semua pembaca pastilah maklum bahwa keadaan pertanahan di Indonesia saat ini tidaklah jauh berbeda dengan Mesir dalam novel karya Sadaawi tersebut.

Karena dengan jelas bahwa 10 orang terkaya di Indonesia menguasai 70% aset Indonesia. Catatan YLBHI menyebutkan banyak data ketimpangan. Ada Riau Andalan Pulp and Paper (PT.RAPP) bersama 35 unit izin hutan tanaman industri (HTI) yang bernaung di bawah APRIL Group menguasai lahan 1,33 juta hektare. Angkanya menjadi 1,96 juta hektare bila digabung dengan 42 unit HTI pemasok industri bubur kertas mereka.

Bisa menjadi 2,1 hektare jika ditambah perkebunan sawit Asian Agri yang juga bisnis keluarga Tanoto. Luasnya 3,7 kali pulau Bali. Bahkan setara gabungan luas 3 pulau, yaitu Flosres (1.355.000 ha), Belitung (488.300 ha), dan Pulau Alor (286.000 ha). 

Dibandingkan dengan fakta di Jawa saja, di mana tiap petani hanya menguasai tanah kurang dai 0,5 hektare. Jadi, 2,1 hektare itu setara dengan tanah yang digarap oleh 4,4 juta petani miskin!

Lalu kita ingat bukankah negara telah mencanangkan program Redistribusi Tanah? Betul, namun luas lahan yang diperuntukkan bagi Redistribusi Tanah sangatlah kecil, hanya 400 ribuan hektare dari 10.368 Hak Guna Usaha seluas 33,5 juta hektare!

Dan hari ini kita terus didorong untuk membicarakan dan memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme, kepada para pemuda, para pekerja, para petani, oleh para pembesar lewat arah mana pun dengan media yang sepenuhnya dikuasai para orang-orang yang terlewat kaya.

Memang jika melihat angka-angka di atas, dengan melestarikan rasa nasionalisme dan patriotisme hitung-hitungannya sangat menguntungkan bagi para pemilik modal—kondisi yang begitu lain dengan kala penggunaan nasionalisme dan patriotisme untuk melawan penjajah dari negeri asing dahulu.

Kemudian ada yang menyanggah, “nasionalisme dan patriotisme bukan tentang untung rugi, melainkan cinta yang suci.” 

Mungkin betul, karena mereka para pemuda, pekerja, dan petani tak memiliki apa-apa selain 0,4 hektare lahan. Sedangkan bagi 10 orang terkaya itu, presentase antara cinta pada negara dibanding dengan keuntungan materil mengingat 70% aset negeri ini adalah miliknya tentu sudah jelas terlihat.

Bagaimana dengan para pahlawan yang telah berpulang? Mereka bertarung untuk banyak hal: untuk merebut haknya atas tanah air, untuk mengusir perampok, untuk mempertahankan keluarga dan orang terkasih, untuk menyediakan keamanan dan kesejahteraan bagi anak cucu keturunannya di zaman kemudian, dan lebih dari itu semua, mereka ingin mengusir kebiadaban dan keserakahan!

Namun ternyata kebiadaban dan keserakahan menjangkit juga pada sebagian anak cucu para pejuang, dan sulit untuk pergi. Iya, 10 orang terkaya dan para pemilik tanah jutaan hektare itu adalah Drago Bludvist dan Grimmel dalam bentuk lain.

Maka bagaimana jika Hiccup menggagas:

“Wargaku tak memiliki apa-apa lagi di sini. Aku sang pemimpin harus bersama yang lemah, aku akan memindahkan seluruh wargaku ke dataran lain di belahan bumi ini ke The Hidden Word. Dan kalian para orang kaya tetaplah di sini, ambil semuanya. Sementara akan kami bawa Indonesia beserta sejarah masa lalunya ke mana pun nanti kami pergi. Barangkali di tempat baru itu, nasionalisme dan patriotisme yang ada dalam sanubari kami dapat lebih berarti.”

Dapatkah ini dianggap sebagai keputusasaan? Dapatkah pula ini dianggap sebagai keoptimisan akan hari baru di tempat baru? Karena mungkin akan lebih sulit memaksa mereka pemilik tanah kelewat luas itu untuk pergi dari Indonesia, tidak mungkin juga sepertinya untuk membuat secara sukarela mereka membagi-bagikan tanah mereka pada saudara sebangsanya. 

Atau, bagaimana jika kita berikan saja 3,7 kali luas Pulau Bali itu kepada mereka para orang kaya secara cuma-cuma lalu tanah itu beserta pemiliknya resmi bukan bagian dari Indonesia?

Tulisan ini memang tidak memberikan solusi. Namun paling tidak dapat memantik kesadaran siapa saja yang membaca: entah itu pemuda, pekerja, Kepala Negara barangkali, atau, satu di antara 10 orang itu? Karena, rakyat bukannya tidak mengerti, hanya saja masih ada rasa percaya, dan lebih dari itu, mereka merasa memiliki tanah air ini (lagi-lagi sangat menguntungkan bagi para pemilik tanah kelewat luas). 

Namun rasa percaya juga adalah tentang harapan, jika harapan rakyat sudah sampai pada tebing keputus-asaan, mereka tanpa ragu akan mengatakan apa yang Hiccup katakan, “Aku tak melihat lagi adanya manfaat kita tinggal di tempat ini.”