Tidak merasakan kehangatan saat pulang? Atau ingin pulang tetapi tidak menemukan sambutan atau dalam artian kembali? Itulah yang dirasakan seseorang ketika kembali ke rumah, yang dirasakan hanya keresahan dan kesepian semata.

Bahkan  jika merasakan kenyamanan di rumah itu hanya sesaat dan kemudian kembali merasakan kesepian, entah saat sedang merunduk sendiri di kamar ataupun saat sedang kumpul makan malam bersama.

Ada beberapa hal yang dipendam sendiri karena keinginan untuk bercerita selalu dikesampingkan dengan alasan takut atas respon orang-orang di sekitarnya dan merasa sudah tidak dihargai.

Saat pulang setelah melewati kejamnya kehidupan di luar sana dan mengharapkan pelukan dari orang-orang rumah tetapi kerap kali yang didapatkan adalah kemarahan, wajah yang tidak sedap untuk dipandang, pertengkaran dan banyak hal lain yang kurang menyenangkan.

Hal-hal tersebut terjadi dimulai dari keluarga yang kurang utuh atau sikap negatif yang ditimbulkan dari anggota keluarga itu sendiri yang menyebabkan ketidaknyamanan.

Beberapa remaja merasakan hal pulang tetapi seperti tidak kembali ke rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, tetapi justru kebalikan dari hal tersebut. Dengan seperti itu banyak remaja yang mencari kebahagian dan kenyamanan dari kehidupan di luar, entah kepada teman, pacar, ataupun setiap orang yang telah ditemuinya. 

Kebahagiaan dan kenyamanan adalah harapan bagi semua orang untuk didapatkan, tetapi dengan rumah yang berantakan dalam artian keadaan yang menimbulkan kurang nyaman mereka tidak mendapatkan kebahagiaan dan kenyamanan itu.

Kebahagiaan dapat tercapai ketika antara anggota keluarga saling berkomunikasi dan menjalin kehangatan yang positif, dengan hal tersebut mereka akan merasakan dihargai dan diakui keberadaannya serta yang paling penting menemukan kebahagiaan serta kenyamanan yang didapatkan dari dalam rumah. 

Semua orang pastinya ingin memiliki tempat atau minimal seseorang untuk dijadikan sebagai tempat pulang, tempat bersandar, support system, tempat mengeluarkan pendapat atau hanya sekedar cerita tanpa harus dihakimi dengan itu seseorang akan sangat beruntung jika memiliki keluarga seperti itu.

Jika seseorang tidak menemukan tempat untuk pulang bahkan rumahnya sendiri pasti mereka akan mencari kehangatan dan kebahagiaan itu di luar rumah, seperti menemukan sahabat yang dijadikan sebagai tempat untuk curhat, mengeluarkan pendapat, bahkan mencarinya saat sedang mendapatkan masalah yang sedang dihadapi.

Semua orang pasti akan membutuhkan hal-hal seperti mengungkapkan emosi karena tidak mungkin setiap mempunyai masalah atau cerita hanya disimpan sendiri, akan ada waktunya mereka mencari hal-hal yang membuatnya nyaman dan menjadi dirinya sendiri.

Pengungkapan emosi merupakan sesuatu yang harus dilakukan karena upaya untuk mengungkapkan emosi serta perasaan akan berdampak kepada tujuan yang akan dicapai serta kelegaan terhadap perasaan dan hati.

Dengan itu keluarga sangat berperan penting terhadap pengungkapan emosi dan sangat layak untuk dijadikan sebagai tempat pulang yang sebenarnya karena keluarga bisa dikatakan sebagai orang terdekat dan paling utama mengetahui perasaan dan keadaan mereka

Tetapi beberapa fakta menyebutkan banyak keluarga yang tidak dapat dijadikan sebagai rumah, entah karena di luar pengetahuannya yang minim untuk mengerti dan kurangnya belajar mengenai psikologi serta pengaruh terhadap perkembangan yang akan dialami, padahal seharusnya mereka dapat mengungkapkan emosinya secara leluasa tanpa dihakimi.

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan supaya dapat menjadikan diri kita sebagai rumah untuk orang-orang terdekat kita, seperti : 

1. Mendengarkan cerita tanpa harus memotong cerita dan memihak untuk menyudutkan si pencerita serta memberikan motivasi dan semangat yang membangun.

2. Memberikan rasa nyaman saat sedang mendengarkan cerita.

3. Memahami isi hati pencerita dan melakukan pendekatan secara emosi dengan si pencerita supaya merasa aman dan nyaman saat bercerita.

Pengungkapan emosi sangat penting dilakukan karena akan mendapatkan banyak manfaat dari hal itu, seperti : 

1. Saat seseorang sedang dilanda marah, gelisah, sedih hal itu akan membantu otak untuk dapat lebih fokus terhadap situasi yang sedang dihadapi dan akan mendorong untuk lebih kritis dalam mencari jalan keluar.

2. Meningkatkan daya ingat karena saat sedang dilanda marah akan lebih gampang cerita terhadap situasi yang sedang dihadapi. 

3. Meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi, karena saat dilanda rasa marah sedih ataupun kecewa seseorang akan terpacu untuk mengutarakan apa yang sedang dirasakan.

Jika seseorang terbiasa mengalami penolakan saat mengutarakan pendapat apalagi dari keluarga sebagai orang terdekat, maka akan menimbulkan keterbatasan dalam mengungkapkan emosi yang sedang dialami dan kemungkinan buruknya adalah tidak menceritakan apapun dan bersikap acuh kepada keluarga.

Namun sebaliknya apabila keluarga yang selalu menghargai dan bersedia untuk mendengarkan setiap cerita kejadian yang telah dialami dan dibuktikan dengan penerimaan terhadap ungkapan emosi tersebut maka dengan berjalannya waktu akan lebih mudah untuk mengungkapkan emosi yang sedang dialaminya.

Kehidupan keluarga merupakan tempat pertama kalinya belajar dan mengenal segala sesuatu seperti berupa pengungkapan emosi, merasakan emosi, menanggapi situasi yang menimbulkan emosi, serta cara mengungkapkan emosi.

Melalui keluarga, seseorang dapat belajar untuk mengungkapkan emosi untuk pertama kalinya karena dari sejak lahir yang pertama kali ditemui adalah keluarga.

Alangkah baiknya untuk selalu menjadi pribadi yang mengerti dan belajar memahami mengenai perasaan seseorang dan bahasa kerennya adalah menjadi rumah terutama untuk keluarga sendiri dan dilanjutkan kepada orang-orang terdekat seperti teman maupun sahabat. 

Jika tidak merasakan pulang dan kembali atau dalam artian tidak dihargai oleh keluarga sendiri alangkah lebih baik untuk menjadikan sebagai sebuah pembelajaran bukan sebagai balas dendam.