33788_18468.jpg
@bplhmijaksel
Politik · 6 menit baca

Jika Penyogok Menang, Gulingkan!
Kader HMI Melawan Kecurangan

Aku sebenarnya tidak ingin menjadi orang gila. Orang lain tidur nyenyak, penulis teriak-teriak sendiri sok menyuarakan kebenaran. Orang lain sibuk pacaran, suap-suapan di warung bakso, penulis sok mengkaji nilai-nilai dasar perjuangan HMI.

Orang lain liburan ke pantai, naik gunung, aku malah membunuh waktu dengan menulis. Tidak, aku sama sekali tidak ingin edan. Kalau orang-orang tidak lagi peduli tujuan organisasi, kenapa mesti ada satu orang yang peduli?

Orang bilang aku keras kepala, tidak bisa diatur, liar, pembangkang, dan memberontak tanpa solusi. Ada yang mencap antek-antek liberal, berandal jalanan, atau apalah. Terserah!

Ini bukan tentang aku, tapi semua ini tentang HMI, organisasi kita bersama. Aku tidak peduli kalau akhirnya dicap anjing menggonggong, atau dicoret dari daftar adinda yang ’’baik’’. Cap seperti itu sama sekali tidak berefek apa-apa padaku.

Orangtuaku petani kecil di pedesaan Tuban. Separuh hidupnya bergelut kemiskinan karena rezim orde baru salah menata kelola Indonesia. Tumbuh sebagai potret anak Indonesia yang sedari kandungan sudah ditindas dan dianiaya kebijakan negara.

Ketika lahir, aku memang dibesarkan untuk melawan dan menggugat segala kemunafikan negeri ini. Karena alasan ideologis itulah, aku berkomitmen berjuang melalui berorganisasi. Karena itulah aku mencintai HMI.

Itulah mengapa aku menganggap penting siapa Ketua Umum PB HMI-nya, apa strateginya dalam membela islam dan masyarakat bawah, sejauh mana komitmen berjuang memakai jabatannya di HMI.

Aku percaya, bukan seberapa banyak-sedikit yang melawan tirani, tapi masih ada atau tidak orang yang berani mempertaruhkan nyawanya sebagai jaminan untuk memperjuangkan kaum tertindas.

Aku tidak membahas Ketua Umum PB HMI yang sudah-sudah. Bagiku, palu sejarah telah mengambil peran sebagai hakim dan menilai peristiwa yang lalu.

Seorang pemuja perubahan selalu menatap masa depan meski sesekali menengok sejarah. Seorang tidak perlu menyesali pilihan masa lalu, karena merengek mengasihani diri sendiri hanya akan ditertawakan kehidupan yang keras dan tanpa kompromi.

Kenapa aku keras kepala? Kalau diam, berarti tega dan setuju almamater digagahi elite organisasi yang menjelma menjadi vampir. Mereka oknum pengisap darah dan mencari untung dari nama HMI.

Kalau kita tidak menggugat, pelanggaran kecil pelan-pelan dianggap biasa. Kalau sudah terbiasa, kebohongan tinggal menunggu waktu untuk menjadi budaya. Kalau kemunafikan menjadi wajar, yang benar akan dianggap gila dan terasing.

Kenapa aku melawan senioritas? Karena mereka dulu yang mengajari apa itu islam, apa tujuan hidup, apa yang organisasi ini ajarkan dan apa yang haram dilakukan kader.

Menjadi adik bukan nurut-nurut saja padahal kakaknya salah. Adik yang berhasil dididik, dia berani memprotes bila abangnya salah. Adik yang diam melihat kakaknya keluar rel kebenaran, berarti rela kakaknya dibakar api neraka terkutuk.

Mengapa aku menyerukan boikot kongres? Kader HMI, meski sudah ratusan kali membaca buku, berpuluh-puluh malam mengisi kajian dan berkali-kali turun aksi, tidak pernah belajar dari sejarah.

Kebanyakan tidak pernah mengambil pelajaran dari peristiwa yang sudah-sudah. Kita selalu tertipu dan dikibuli, orang berkualitas kucing gara-gara dibedaki topeng macan, kita anggap macan. Lalu dipilih jadi pemimpin, tertipulah kita ini.

Sok berdiskusi soal kongres dan konfercab, kita mengkaji sosok pemimpin macam apa yang bakal didukung. Setelah semua sepakat terbaik yang bakal dipilih, semua mblegedus tatkala uang berbicara. Akhirnya, obrolan tentang memilih sosok intelektual dan bersih, menjadi omong kosong karena suara bertambat ke kandidat yang dananya banyak. Siklus seperti ini mau sampai kapan terjadi lagi dan lagi?

Maksudku, kita jujur-jujuran saja. Kalau kongres memakan dana miliaran rupiah uang masyarakat, akhirnya hanya melahirkan pemimpin komprador.

Ya buat apa kongres dilaksanakan. Toh pemimpin seperti itu tidak mungkin berpihak pada mustadhafin. Sedang kaum lemah itu wajib dibela pertama kali. Itu tercantum jelas dalam NDP HMI sebagai ideologi himpunan.

Sudah kukatakan berkali-kali sampai berbusa, ke rekan-rekan di cabang atau semua orang yang pernah kuajak bicara. Aku mengkritik, sama sekali tidak meminta apa pun. Tidak uang, jabatan, atau proyekan. Justru kalau ingin sesuatu, harusnya menulis yang manis-manis ke senior, supaya hati senior berbunga-bunga dan mereka senang. Kalau mereka senang, apa pun yang kuminta dikasih.

Tidak! Aku sama sekali tidak haus jabatan atau melirik uang mereka. Semua orang tahu, kalau ingin populer di mata senior atau disenangi PB HMI, harus menulis yang manis-manis terhadap mereka. Bukan pedas dan menohok begini. Kalau isi tulisanku menampar, kontroversi muncul, lalu aku tidak mendapat apa-apa kecuali musuh dan cemooh generasi tua.

Seandainya membahas yang manis-manis saja, sangat mungkin setelah kongres usai, si pemenang menawari jabatan tertentu sebagai ‘’terima kasih’’ sudah dibantu pencitraan. Tapi bukan itu yang aku inginkan. Bagiku, kebenaran terlalu bernilai untuk digadai dengan kopi dan jabatan.

Sudah berkali-kali kukatakan, aku menulis demi apa yang kuyakini sebagai kebenaran. Bila ada yang merasa tersinggung karena kepentingannya terganggu, jangan coba-coba merepresi atau mengajak ngopi, lalu berharap aku bisa dilobi.

Jangankan mau diajak ngopi atau makan makanan ’’tutup mulut’’, diajak ketemu senior pun aku jawab, ’’Maaf bang, dinda lagi sibuk baca buku. Jadi, lain kali saja kalau ngajak bertemu.’’

Sudah berpuluh kali kukatakan, kalau Anda melihat HMI baik-baik saja, aku jamin Anda kurang sunyi dalam merenung. Kurang dalam merasuk masuk ke ruang perkaderan.

Kalau merasa cabang Anda baik-baik saja, bisa jadi itu particular case. Jangan-jangan secara umum kondisinya sudah sangat kronis, hanya beberapa bagian kecil saja masih segar sedang hampir sekujur tubuh HMI telah membusuk. Anda tidak perlu menudingku macam-macam, karena aku tidak berafiliasi ke pihak mana pun.

Tidak perlu menghabiskan waktu, atau berpusing-pusing curiga ria mengenai latar belakang kenapa aku berbicara seperti ini. Lebih baik Anda buka mata lebar-lebar, baca sampai tuntas tulisan ini, siapkan nalar objektif untuk memikirkan secara mendalam dan merasuk apa yang aku tuangkan di sini.

Setuju atau tidak atas tulisan ini, silakan Anda sikapi secara kritis. Tidak semua yang kukatakan benar, silakan cerna dengan perspektif masing-masing.

’’Saya tidak mendukung dan bukan tim mana pun. Saya merdeka, independen, bebas, dan berteriak bukan karena siapa pun. Seratus persen saya melawan karena ada kemunafikan dalam himpunan. Saya menulis bukan karena pesanan, tapi demi kebenaran dan keterbukaan’’.

Aku ingin kita berani mengkritik ke dalam. Kalau bukan kita yang mencari letak penyakit organisasi sendiri, siapa lagi?

Aku tidak ingin menjadi keledai. Cukup sekali kita dipermainkan dan ditipu.

Mulai detik ini, jangan sampai orang yang tidak berbuat apa-apa pada himpunan, tiba-tiba datang dalam bentuk pamflet. Muncul foto sok bijak dan menampilkan sederet biodata, prestasi, karir, di bawahnya tertulis ’’KANDIDAT KETUA UMUM PB HMI 2018-2020’’.

Omong kosong macam apa ini? Itu mirip balita yatim terlunta di jalan, Anda tidak peduli. Lalu belasan tahun kemudian, si anak sudah besar dengan rupa cantik menawan, tiba-tiba Anda ingin kenalan sambil berkata, ’’duhai kamu cantiknya, Will you marry me?’’

Mental pencari kesempatan seperti itu akan melahirkan pemimpin egois. Kekuasaannya bukan menjayakan HMI, tapi untuk memperkaya diri sembari mengisap HMI sampai menyusut, mengkerut. Himpunan hanya akan dijadikan barang jualan mencari keuntungan.

Melalui tulisan ini, aku ingin menggalang kesadaran kader untuk tidak lagi dibohongi janji-janji kampanye kandidat, tidak peduli mereka senior sendiri sekalipun. Persetan mereka dulu mendidik dan membimbing kita. Kalau salah, kita kritik. Kalau dia menyapiperahkan HMI, kita lawan mereka. Siapa pun dan dari cabang mana pun, ketika berani sejengkal saja membawa HMI ke jurang kemunduran, kita lawan dengan kepalan yakin tanpa ragu.

Saudara-saudaraku, kader HMI, protes seperti ini memang melelahkan. Daripada susah-payah mikir, menulis berlembar-lembar gugatan seperti ini, tentu lebih enak pacaran, rekreasi, atau ngopi di bawah pohon.

Tapi tidak, kawan. selama bajingan-bajingan tengik masih memakai baju HMI untuk membungkus otak busuk mereka, lalu memanfaatkan jabatan organisasi untuk kepentingan pribadi, saat itulah urat teriakanmu tidak boleh melemah.

Semua orang pasti mati, menjadi bangkai dalam tanah. Aku tidak ingin meninggalkan dunia yang kelam ini tanpa melawan ketidakjujuran. Cukup kemunafikan terjadi sekali, setelahnya jangan biarkan waktumu habis dengan diam tanpa melawan.

Musuh paling berbahaya adalah yang terdekat denganmu. Ancaman terbesar sering kali muncul dalam rupa sama dan memiliki bendera yang identik dengan kita. Bisa jadi mereka yang menyebut diri pemimpinmu, ternyata sebenarnya musuh nyata bagimu.

Dalam dunia yang mulai dikuasai kebusukan, pejuang bukan yang mati sakit-sakitan, tapi mereka yang darahnya habis tertumpah untuk perlawanan menegakkan kebenaran.

Jika kapitalis menang kongres mendatang, sedang yang kita cari si pemilik gagasan. Jika kandidat menang karena uang dan membeli suara atau menukar pilihan dengan tiket serta penginapan, lebih baik kita tolak hasil pemungutan. Pilihannya ada dua, kita galang kekuatan dengan mendirikan kubu tandingan, atau gulingkan!