Wiraswasta
2 tahun lalu · 446 view · 2 menit baca · Budaya emaze.jpg

Jika Kau Mulai Lupa (pada Bendera dan Pancasila)

Jika kau mulai lupa, bahwa bangsa ini yang telah memberimu air dan susu, maka berdirilah sejenak saat malam di balkon rumahmu. Dengarkanlah lagu wajib “Tanah Airku!” Maka kau akan seketika membisu sebab lagu ini begitu syahdu.

Tanah Air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku

Jika hatimu masih saja membatu, pergilah merantau jauh dari negrimu. Agar kau paham di negaramulah tersimpan rindu.

Jika kau mulai ingkar bahwa jutaan tetesan darah dan nyawa pernah meregang demi mempertahankan bumi tercinta, maka dengarkanlah lagu wajib, Indonesia Raya!

Para pahlawan yang kaki tangannya terluka dan rela  hidup papa, hanya makan singkong  dan air saja demi berkibarnya sang saka, tapi setelah itu kau anggap mereka kafir dan kurang imannya karena tak ada jilbab terlilit dikepalanya. Dalam lirik lagu itu niscaya darahmu merinding dan rasa nasionalisme mu terbakar seketika.

Jika kau mulai sangsi tentang artinya pancasila dan bendera, putarlah lagu “Bagimu Negeri!” Biar kau tahu bahwa ada jutaan ruh tegap berdiri mengucapkan sumpah dan janji, Pancasila dan Bendera harus berkibar dan terpatri pada setiap sanubari.

Dengan semangat juang yang tinggi, pahlawan itu menangis sambil mengepalkan tangan, “Kami rela mati!!!” 

Tapi saat ini mereka telah berkalang tanah menyerahkan jiwa dan raga untuk bumi pertiwi. Tapi mengapa kau masih menutup hati dan bersombong diri? Jika tak ada secuil pun ilmumu yang berarti untuk negeri.

Ketika kau mulai memuja dan memuji negara gurun nun jauh di sana, dengarlah lagu Indonesia Pusaka! Agar kau tahu, jerih payah selama ratusan tahun itu sangat berharga.

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung di hari tua
tempat akhir menutup mata.

Buka mata hati dan kepala bahwa kau dilahirkan dan kelak dikubur di tanah yang kau nista pahlawannya! Mungkin negeri seberang kau puja karena melihat mereka begitu besar kaya. 

Tapi kau masih saja menutup mata dan kepala, bahwa hanya di negeri inilah seluruh agama dan keyakinan diberi kebebasan yang sama.  

Di negeri ini kau bebas memasuki masjid tan tempat hiburan sekenanya, tanpa takut ada oknum pembawa bom yang membuat badanmu mati atau terluka.

Tapi...kau ingkari semuanya. Kau masih saja memuja makhluk berjubah dan bersurban yang nyata-nyata ingin mengubah falsafah pancasila. Kau tak marah orang-orangnya mencoreti bendera pusaka.

Darahmu tak mendidih ketika mereka ingin menghacurkan negara!!! Mengubahnya menjadi negara khilafah berlandaskan syariah yang sangat utopia!!! Kemana bakthimu pada bangsa???  Kemana janji mu pada negara??? Kemana rasa banggamu pada Indoenesia tercinta???

Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira? Siapakah kini pahlawan hati pembela bangsa sejati? Ya, pahlawanku telah gugur. Tunai sudah janji bakti. 

Di bawah makam putih dan guguran kembang dan debu, mereka yang sudah purna menangis sedih dan pilu. Mengapa anak cucuku tak menghargai jerih payahku? Setelah gugur bunga mengapa tak tumbuh tangkai seribu?

Bukankah Nabimu telah berkata membela negara adalah wajib hukumnya? Dan hal itu termasuk aplikasi rukun iman yang nyata?

Percayalah, Tuhanmu niscaya tak akan diam, Dia akan memasukkan mu yang kini berjuang membela negara ke dalam syurga bersama pahlawan yang telah berjuang seluruh raga. dan tentu bersama orang-orang saleh yang telah membela agama.

Artikel Terkait