2 tahun lalu · 167 view · 2 min baca menit baca · Agama file2429.jpg

Jika Kasih Menjadi Prioritas

Masuk ke dalam perguruan tinggi negeri menjadi harapan kebanyakan orang. Begitu juga saya. Dengan cara yang berbeda, alasan yang berbeda, serta harapan yang berbeda pada akhirnya setiap orang bisa dipertemukan untuk tujuan yang sama.

Ini adalah pengalaman saya pada saat saya dipertemukan dengan enam orang teman baru yang dipertemukan untuk bersama-sama mencapai satu tujuan yang sama, yaitu tujuan unntuk bisa membahagiakan orangtua yang kami sayangi dengan cara mendapatkan gelar sarjana sebagai awal dari perjuangan kami.

Agustus 2013 pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tempat yang baru. Lingkungan yang baru dan teman-teman baru. Ada sedikit rasa khawatir saat itu. Akankah saya diterima dengan baik? memiliki kepercayaan sebagai umat minoritas itu tidak mudah. Kekhawatiran yang ada menjadi salah satu alasan saya harus sangat berhati-hati dalam bersikap.

Saat saya berkenalan dengan teman-teman satu kostan saya cukup merasa tenang. Walaupun dari kami bertujuh hanya saya yang beragama kristen dan bersuku batak tidak sedikitpun mereka menunjukan rasa keberatan atas kehadiran saya. Saya merasa bahwa itu adalah awal yang baik.

Banyak hal yang kami lakukan bersama. Saat malam kami berkumpul di satu kamar, saling berbagi cerita, melakukan macam-macam kegiatan bersama seperti nonton film, masak atau makan. Kadang kami juga jalan bareng. Tidak masalah bahwa saat kami makan bersama cara berdoa kami berbeda, tidak masalah saat mereka menggunakan jilbab dan saya menggunakan kalung salib.

Tidak pernah satu kali pun mereka mempermasalahkan ataupun membahas tentang perbedaan agama. Untuk saya itu sangat melegakan. Pernah suatu saat saya mengalami masalah dan berubah menjadi sangat pendiam. Tahukah kalian apa yang teman-teman saya katakan? mereka bilang "war, kalau ada masalah cerita! kita bukan cuman mau kertawa bareng sama kamu, tapi kita juga mau nangis bareng kamu!".

Hei,,, kata-kata itu membuat saya tersentak. Saya merasakan ketulusan yang begitu berarti. Saat orang-orang terus berdebat tentang sara dan toleransi kami sudah terlebih dahulu merasakan apa yang namanya Indahnya Perbedaan.

Hal lainnya yang tidak dapat saya lupakan adalah saat kami sama-sama merasa terjebak. Berada di kostan tiga tingkat dengan dua tingkat di bawah kamar kami kosong tanpa penghuni cukup membuat kami merinding. kejadian-kejadian aneh seperti mendengar suara yang tidak seharusnya, berbicara dengan teman yang ternyata bukan teman menjadi salah satu faktor untuk kami berburu kostan baru, pencarian kostan baru sesuai dengan harapan kami tentu tidak mudah.  

Saya tidak peduli meskipun banyak orang asing di luar sana yang berbicara tentang ajaran kristen yang bahkan tidak mereka ketahui dengan baik ataupun komentar orang-orang untuk hal yang sederhana. Pandangan saya tidak akan pernah berubah. Perbedaan bukanlah penghalang dalam pergaulan. Mereka adalah teman-teman terbaik yang saya miliki. Belajar saling menghargai dan  mengasihi.

Memberikan kesempatan satu sama lain untuk melontarkan pikiran tanpa harus saling menyinggung. Setiap agama akan mengajarkan kebaikan. Saat-saat sulit yang harus saya hadapi dari lingkungan yang baru memberikan kenangan-kenangan yang tidak terlupakan. Ketika kasih menjadi prioritas utama maka tidak akan pernah lagi ada peperangan yang melibatkan sara.

Perbedaan itu indah. :)

Artikel Terkait