Some failure in life is inevitable. It is impossible to live without failing at something, unless you live so cautiously that you might as well not have lived at all, in which case, you fail by default (J.K. Rowling)

Ramadhan hari ke-23. Saya sholat tarawih di masjid terbesar di dusun saya, yang kebetulan hanya beberapa langkah kaki dari rumah. Namun, kali ini saya tak akan bercerita tentang masjid ini. Ada cerita lain yang ingin saya bagi.

Seperti biasa, di sela sholat tarawih dan sholat witir, ada kuliah tujuh menit (kultum) tentang topik keagamaan. Meski sering melebihi tujuh menit bicara, setiap penceramah menyuguhkan bahasan-bahasan yang insightful. Setiap harinya, masjid ini memasang penceramah yang berbeda-beda. Kali ini, penceramahnya sangat berbeda.

Dalam intro ceramahnya, salah satu tokoh masyarakat di dusun saya ini curhat baru saja diprotes oleh anak perempuannya. Intinya, kalau ceramah jangan lama-lama. Ndak ada yang dengerin. Kemudian, seolah mencari pembelaan, bapak penceramah ini bilang bahwa salah satu godaan mencari ilmu adalah malas mendengarkan. Sejauh ini, saya manggut-manggut.

Lalu, sang penceramah melanjutkan ceramahnya. “Ya sama kayak di sekolah. Anak yang diam duduk di kelas mendengarkan gurunya, pasti jadi orang sukses. Yang biasanya slengean, tidak patuh pada peraturan, pasti tidak sukses!” Aku menghela napas. Benarkah?

Saya kaget mendengar bapak penceramah, yang juga pendidik di salah satu Sekolah Dasar (SD) tersebut berkata seperti itu. Saya mendongak. Sang penceramah tetap asyik berucap. Saya alihkan pandangan ke sekeliling, beberapa memperhatikan, segelintir memejamkan mata, dan ada yang ngobrol dengan jamaah sampingnya. Saya menghela napas dan bertanya lagi pada diri, benarkah?

Saya memiliki kenalan yang beragam, tak hanya orang-orang yang ‘lurus’, tapi banyak juga yang hobinya menabrak aturan. Kelompok kedua ini sering dianggap aneh karena tidak seperti mayoritas masyarakat pada umumnya. Padahal, entah yang lurus maupun ‘tidak’, mereka adalah orang yang baik.

Salah satu kenalan saya adalah anak badung saat sekolah dulu. Guru-guru sering stres akibat kelakuan anak ini. Jika ada keributan di dalam kelas, salah satu pelakunya adalah anak ini. Sekarang, dia menjadi polisi di Surabaya. Ini adalah impiannya sejak lama, seperti yang pernah dia utarakan kepada saya dan teman-teman yang lain.

Saya juga punya teman yang dulunya disayang guru karena selalu juara kelas. Beberapa teman tidak menyukainya karena menganggap anak perempuan ini pelit jika disuruh berbagi jawaban saat ujian. Anak ini termasuk siswa yang lurus. Dia sangat patuh kepada peraturan. Seingat saya, dia tak pernah sekalipun telat. Sekarang, dia menjadi penjaga toko.

Jika melihat lebih luas, banyak sekali orang-orang yang merasa sudah sukses, dulunya adalah orang yang tidak pintar, jarang patuh pada peraturan, jarang masuk kelas, nilai matematika selalu telur bulat, dan tidak bisa kuliah.

Kita bisa berkaca dari dua penemu hebat, Albert Einstein dan Thomas Alva Edison yang dulunya sempat dicap anak bodoh oleh gurunya, Bob Sadino yang tidak kuliah, Danny Oei Wiranto (CEO Mindtalk) yang dulunya nakal, dan Michael Jordan yang dulunya pernah ditolak masuk tim inti basket sekolahnya. Sekarang mereka menjadi apa? Mereka ‘sukses’ di jalan mereka masing-masing. Jika kurang puas, silahkan mencari di Google. Anda akan mendapatkannya dengan mudah.

Jika sukses dipersoalkan, sebenarnya apa definisi sukses? Apakah sukses hanya dapat diraih oleh orang yang ‘lurus’ dan tidak nyeleneh? Jika sukses hanya diukur dari segi finansial,  penelitian bersama antara tiga peneliti dari University of Luxembourg, University of Illinois, dan Free University of Berlin bisa jadi rujukan. Menurut penelitian tersebut, siswa nakal cenderung memiliki pendapatan lebih tinggi dari rata-rata saat sudah dewasa.

Sampai sekarang, saya belum menemukan patokan sukses bagi seluruh umat manusia. Pasalnya, meski A menganggap menjadi kaya adalah sebuah kesuksesan, B belum tentu sependapat. Jika C menganggap bisa menyelesaikan soal Integral adalah kesuksesan, D belum merasa sukses jika belum menjadi profesor.

Sukses tergantung kepada masing-masing individu. Penghakiman bahwa sukses hanya milik orang-orang yang patuh, pintar, dan baik, saya rasa kurang tepat karena orang yang bukan termasuk ketiganya juga bisa sukses dengan cara dan versinya masing-masing. Sukses tidak bisa digeneralisasi.

Kembali kepada bapak penceramah tadi. Pada dasarnya, penceramah memiliki kesamaan dengan penulis dan pendidik. Penceramah adalah pembangun opini sekaligus pengajar. Apalagi, jika penceramah tersebut adalah tokoh masyarakat yang disegani, sudah barang tentu setiap kata-katanya selalu menjadi perhatian.

Dalam ilmu kependidikan, kompetensi pendidik adalah salah satu hal yang vital, tak hanya kompetensi pedagogik semata, namun juga kompetensi sang pendidik untuk meng-handle peserta didik yang ‘tidak lurus’. Jika semua pendidik seperti penceramah tadi, saya takut tidak ada peserta didik bodoh dan urakan yang berani menghidupkan mimpinya.