Jatuh cinta kepada yang tidak seagama hanya memiliki dua pilihan; menyakiti hati Tuhan atau melepas dia. Mungkin, hal basic yang sering diajarkan kepada kita untuk tidak jatuh cinta kepada dia yang tidak seiman.  

Bukan persoalan mudah jika dia yang kita cinta untuk memilih hal yang benar-benar sulit. Benteng yang begitu tinggi yang sampai kapanpun tidak pernah ada akhirnya.

Tetapi, berbeda cerita dengan Hasan dan Kartini, kisah cinta yang terkemas dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja yang menceritakan Hasan, seorang alim yang sejak kecil sudah diajarkan seluk beluk agama Islam pada akhirnya jatuh cinta kepada Kartini yang menganut paham Atheis dan memutuskan untuk menikah.

Hasan, seorang alim yang terlahir dari keluarga yang kental dengan agama. Namun, ada satu hal yang mengganjal, kedua orang tuanya hanya mengajarkan surga dan neraka kepada Hasan sehingga ketakutan yang mendominasi dalam diri Hasan.

Kurangnya mengajarkan pemahaman strong way untuk tetap berada di jalan Allah. Kurang memperkenalkan Tuhannya melalui setiap ajaran. Memperkenalkan surga dan neraka merupakan jalan ninja untuk sebagian orang tua, agar anak patuh dan menjalani agamanya.

Perjalanannya sangat berliku Hasan dengan Kartini melalui jalan yang terjal. Pertemuan pertamanya dengan Rusli membuat Hasan langsung jatuh cinta kepada perempuan yang membersamai Rusli, yaitu Kartini. 

Karena Hasan memandang Kartini sangat mirip dengan mantannya, Rukmini. Kartini, perempuan yang memiliki gaya modern dan sangat bebas membuat Hasan berpikir keras untuk menolak perasaan yang ada di dalam hatinya.

Hasan anak yang membanggakan. Dari kecil sudah unggul dalam bidang azan, mengaji, dan lain-lain. Perjalanan Hasan tidak berhenti sampai di sana, ketika ia pindah ke Bandung, menemui suasana baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan agama yang baru, Hasan tidak sanggup menerimanya secara utuh.

Dengan besar kepala ia menjadi egois, ada rasa ingin mengislamkan kawan-kawannya yang Atheis. Dengan caranya ingin mengislamkan, Hasan menganggap bahwa seorang Atheis adalah kesalahan yang besar. Ia sering kali mendebatkan Tuhan kepada Rusli, Anwar, dan kawan lainnya. 

Kurangnya memperkenalkan berbagai agama sejak kecil membuat Hasan susah beradaptasi dengan lingkungan baru yang bercampur baur dengan agama lain.

Sekuat apapun ia menentang, malah Hasan yang terjerat oleh pokok-pokok pikiran Rusli yang selalu memberikan sanggahan terhadap keyakinan agamanya dengan retorika Marxisme. Hasan juga mulai mengikuti kegiatan partai yang dibuat oleh Rusli dan kawan-kawan.

Dari sana, hubungan Hasan dengan Kartini semakin dekat. Keimanan Hasan mulai luntur. Di sisi lain, Anwar yang menganggap Tuhan itu madat juga jatuh cinta kepada Kartini. Kartini sering membuat Hasan cemburu dan Hasan berusaha untuk menarik perhatian lebih dari Kartini.  

Bukan hanya karena diracuni oleh teori-teori tersebut, Hasan juga jatuh cinta kepada Kartini yang seorang AtheisIa berusaha menghalalkan segala cara saat ia sedang bersama Kartini. 

Jatuh cinta kepada yang tidak seagama merupakan permasalahan. Dalam kisah ini, Hasan memilih menikahi Kartini tanpa pengetahuan kedua orang tuanya. Ia memilih menyakiti hati Tuhan dan orang tuanya.

Menikah dengan Kartini merupakan awal kehancuran dalam hidupnya. Anwar, selalu menjadi percikan api cemburu Hasan, lantaran Anwar sering kali bersikap yang tidak pantas kepada Kartini. 

Seperti berduaan dengan Kartini dan memancing Kartini untuk menceritakan masalahnya kepada Anwar. Sebab Anwar juga mencintai Kartini, namun pemenang hati Kartini adalah Hasan. 

Roda kehidupan terus berputar, rumah tangga Hasan dan Kartini mulai retak. Disambut dengan peristiwa yang dialami Hasan saat ayahnya meninggal tanpa memaafkannya.

Di ujung hayatnya, Hasan teringat Tuhan dan menyesal atas kesalahannya selama ini. Banyak orang-orang yang tersakiti akibat perbuatannya. Penyakit yang dia derita semakin parah.

“Kalau jodoh itu di tangan Tuhan, lantas bagaimana nasib seorang Atheis?”. Pernyataan “jodoh di tangan Tuhan” sering kali terdengar dari berbagai sumber, entah teman sendiri maupun media sosial. 

Pertanyaan ini kerap kali muncul setelah membaca novel Atheis. Hal yang janggal. Secara logika, seharusnya seorang Atheis tidak memiliki jodoh, karena jodoh di tangan Tuhan. Sedangkan Atheis tidak mempercayai Tuhan.

Tapi nyatanya Tuhan Maha Baik, Maha Penyayang, pemberi rahmat kepada seluruh alam. Persoalan jodoh sudah diatur dengan sebaik-baiknya. Tidak pernah pandang bulu kepada siapapun. Dalam Al-Qur’an surah Yassin ayat 36 menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasangan.

“Maha suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui,” 

Dari firman tersebut Allah menjamin kepada hambaNya bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Allah menciptakan jodoh tentunya karena kasih sayang Allah terhadap seluruh ciptaanNya. Walau tidak percaya dan tidak beriman kepada Allah, tetap rahmatNya bagi seluruh alam.