Buat saya, makalah ilmiah tidak lebih dari sebuah laporan hasil salah satu kegiatan tri-darma perguruan tinggi, yaitu penelitian, dalam bentuk ringkas namun padat (concise) dan mengikuti kaidah-kaidah yang telah disepakati oleh komunitas penelitian tersebut. Tidak lebih dari itu.

Tentu saja jika ada pelaporan, harus ada yang menerima dan memeriksa laporan tersebut. Siapa lagi yang kompeten untuk memeriksa laporan ini kalau bukan kolega sejawat dan sebidang yang sangat paham makna hasil penelitian tersebut. Karena laporan ini bersifat ilmiah, maka kebenaran di dalamnya haruslah dapat disanggah secara universal, menembus kungkungan negara, bahasa, dan budaya.

Inilah tujuan dari penerbitan makalah, terutama penerbitan internasional. Hasil penelitian yang dilaporkan pada akhirnya harus diakui oleh semua anggota komunitas global sebagai temuan dari si pelapor, jika tidak ada lagi (atau paling sedikit minim) gugatan.

Pemakaian makalah ilmiah sebagai laporan hasil penelitian kepada komunitas ilmiah sudah menjadi prosedur baku sejak lebih dari seratus tahun lalu. Boleh dikatakan, proses ini sudah menjadi bagian integral dari kegiatan ilmiah, bahkan sudah menghasilkan produk sampingan berupa faktor dampak (impact factor), indeks-h, indeks-i10, dan sebagainya, yang bertujuan mengukur seberapa pentingnya laporan ilmiah tadi.

Tidak perlu digugat lagi betapa banyak manfaat penerbitan ilmiah, terutama penerbitan internasional, seperti klaim hak cipta, mempercepat pengembangan ilmu, mencegah plagiarisme, membangun komunikasi dan kerja sama ilmiah, menjaga mutu penelitian dan lulusan perguruan tinggi, serta menjaga eksistensi peneliti Indonesia di komunitasnya. 

Dalam lanskap kompetitif ini di mana tidak ada penelitian yang lengkap tanpa publikasi, para peneliti ditekan untuk mempublikasikan artikel ilmiah. Namun, menulis makalah akademik menghadirkan banyak tantangan, terutama bagi pemula.

Berikut saya sampaikan tiga prinsip penulisan yang digunakan penulis yang baik untuk menjangkau pembaca mereka dengan lebih baik secara akademik.

Prinsip pertama disebut teori muatan kognitif yang mengacu kepada seberapa banyak pembaca informasi baru dapat memproses. Ilmu pengetahuan sudah rumit. Para penulis harus sederhana dan menghindari kata-kata yang tidak perlu. Karena itu, kalimat pendek 10 hingga 20 kata lebih baik daripada kalimat panjang.

Demikian pula, mengekspresikan satu ide per kalimat memastikan pemahaman yang optimal. Jika Anda memberikan terlalu banyak informasi sekaligus, Anda berisiko membingungkan dan kehilangan pembaca Anda.

Jika Anda membatasi informasi, dan dengan hati-hati memilih kata-kata yang kuat untuk mengekspresikan ide Anda secara ringkas, pembaca akan lebih mudah memahami.

Meskipun variasi panjang kalimat dapat membuat teks lebih dinamis dan menarik, pengalaman saya selama membimbimbing para pelajar telah menunjukkan bahwa tingkat pemahaman meningkat ketika panjang kalimat berkurang.

Ketika saya menyuruh Adib Rifqi Setiawan untuk membandingkan panjang kalimat dan tingkat pemahaman, asisten saya tersebut menyampaikan bahwa: “Kalimat sepanjang 50 kata hanya memungkinkan pemahaman 50%, sedangkan kalimat sepanjang 20 kata menaikkan kemungkinan pemahaman menjadi 80%.”

Prinsip kedua adalah bias kognitif, yang menggambarkan kecenderungan bagi penulis untuk berasumsi bahwa pembaca tahu sebanyak yang penulis mengerti. Menurut saya, penulis harus mengingat siapa audiensi mereka, dan menempatkan informasi dalam konteks untuk membuatnya lebih mudah dipahami. Misalnya, mendefinisikan ide dan teori dalam pengantar meningkatkan kejelasan bagi peneliti baru atau mereka yang dari luar bidang keilmuan.

Menghindari kata-kata subyektif (misalnya menarik, mengejutkan) dan kompleks (misalnya "memastikan" dan bukan "menguji") mengurangi ambiguitas. Menggunakan suara yang lebih aktif (mis. "Saya menulis makalah") alih-alih suara pasif (mis. "Makalah itu ditulis oleh saya") membuat teks lebih sederhana, lebih menarik, dan lebih mudah dibaca.

Prinsip terakhir mengacu pada harapan pembaca atau aliran informasi yang logis. Penataan teks secara logis melibatkan pengenalan ide, mengembangkannya, dan menggarisbawahi pentingnya.

Posisi topik di awal kalimat memperkenalkan ide sedangkan posisi tekanan di akhir menekankan pentingnya. Alur logis yang bagus dapat dipertahankan dengan teknik penunjuk arah yang sering digunakan oleh komunikator yang baik untuk membimbing pembaca mereka.

Perhatikan penemapatan kata kunci di posisi tekanan dari kalimat pertama untuk memperkenalkan posisi topik dalam kalimat berikut:

(1) “Khasiat pengobatan yang menjanjikan, tetapi efek samping yang serius. Perawatan ini akan digunakan secara klinis untuk melawan infeksi.”

(2) “Efek samping yang serius , tapi khasiat pengobatan menjanjikan. Perawatan ini akan digunakan secara klinis untuk melawan infeksi.”  

Dalam contoh di atas, opsi kedua menggunakan penemapatan secara efektif dan memiliki aliran logis yang lebih baik antara dua kalimat daripada opsi pertama. Penemapatan juga bermanfaat untuk menghubungkan paragraf bersama, tempat kalimat kunci di awal atau akhir paragraf menggantikan kata kunci.

Ketiga prinsip pembelajaran ini dapat diringkas menjadi tiga pengingat bagi peneliti: keringkasan, kejelasan, dan keruntutan. Dengan menulis artikel secara efektif menggunaka cara ini, para peneliti meningkatkan peluang publikasi dan pemahaman pembaca mereka.