Freelancer
1 bulan lalu · 20163 view · 6 min baca menit baca · Politik 42924_27796.jpg
Merdeka

Jihad yang Membuat Malu Islam

Kontestasi politik di Indonesia kian menjerumuskan saat identitas, terutama identitas keislaman makin dikapitalisasi. Agama Islam yang seharusnya menjadi juru damai malah menjadi semacam badai. Datang menghantam memporak-porandakan tatanan kerukunan. Cenderung membawa pada perpecahan, pada kehancuran.

Pernyataan di atas bukan bermaksud menista agama Islam karena sebenarnya sudah begitu jelas bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Agama yang membawa kedamaian bagi semesta alam. Namun, Islam yang datang untuk perdamaian berubah menjadi menakutkan karena ulah sebagian orang.

Jejak ini setidaknya dapat dilacak sejak mencuatnya kasus penistaan agama yang menyeret Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Pernyataan Ahok soal Surat Al-Maidah ayat 51 berujung gelombang massa yang luar biasa. Klaimnya, jutaan orang protes dan meminta Ahok diadili.

Semua pun menjadi saksi karena akhirnya Ahok harus meringkuk di balik jeruji besi. Semua juga menjadi saksi bahwa jerat kasus yang menimpa Ahok dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan politik. Pertarungan Pilgub DKI Jakarta seolah adalah pertaruhan membela agama. Yang memilih Ahok haram disalatkan jenazahnya.

Persoalan kian memanjang karena selang dua tahun kemudian, Indonesia menyelenggarakan hajat Pemilu 2019. Kapitalisasi isu agama pun masih laris dijual. Head to head antara Joko Widodo dan Prabowo, suka tidak suka dan diakui atau tidak, amat kental nuansa eksploitasi agama.

Sedari awal Jokowi dinisbatkan sebagai sosok yang antiagama Islam. Meski Jokowi beragama Islam dan keluarga besarnya Islam, tak dapat menghindarkannya dari tudingan anti-Islam. Bahkan saat Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya, tudingan anti-Islam tetap mengemuka.


Sedangkan Prabowo adalah sosok yang dicitrakan lahir dari kesepakatan ulama atau Ijtimak Ulama. Prabowo diyakini sebagai figur yang dapat membawa kejayaan Islam. Maka, pertarungan Pipres pun tidak sekadar pesta demokrasi. Perhelatan Pilpres adalah perang membela Allah Yang Maha Suci.

Usai pemungutan suara 17 April silam, sentimen anti-Islam tak juga tenggelam. Terminologi-terminologi Islam pun bermunculan. Istilah jihad berkali-kali dikumandangkan—yang dimanifestasikan dengan gerakan massa turun ke jalan. Bahkan, seorang pria mengucap takbir setelah sebelumnya mengancam akan memenggal leher Jokowi.

Tidak hanya itu, aksi 22 Mei 2019—di mana KPU akan mengumumkan hasil resminya—disamakan dengan Perang Badar. Lihatlah posting-posting di media sosial. Aksi ajakan turun ke jalan karena tak terima dengan kekalahan dikemas sebagai asli bela Islam. Aksi itu disebut jihad, jalan pedang membela Islam.

Bila sebelumnya jihad digunakan—tepatnya disalahgunakan—oleh kelompok teroris, kini jihad sudah dimaknai secara politis. Sebegitu parah sebenarnya penodaan yang dilakukan mereka kepada ajaran Islam. Tak peduli Ramadan karena, menurut mereka, Perang Badar pun terjadi saat Ramadan.

Di Surabaya, seorang pria membuka pendaftaran Tur Jihad ke Jakarta. Ajakan tur ini sempat meresahkan publik. Pasalnya, para peserta tur digadang-gadang akan bergabung dengan aksi people power, 22 Mei di Jakarta. 

Seorang bocah mengaku sudah mencium bau surga di Jakarta. Foto si bocah dengan narasi siap melakukan jihad pada tanggal 22 Mei 2019 pun viral di media sosial.

Bahkan seorang pilot pun menulis bahwa aksi 22 Mei 2019 adalah jihad. Bahkan sang pilot bersedia meninggalkan anaknya yang baru berusia satu tahun dan siap gugur. Ia juga meyakini apa yang dilakukannya adalah jalan Allah. Ia yakin betul, andai ia mati, jasadnya akan tersenyum.

Konten-konten dengan narasi 22 Mei adalah jihad begitu mudah ditemukan di media sosial. Para politikus berhasil membakar semangat dan emosi masyarakat. Kepentingan politik yang dibumbui sentimen agama ternyata mampu menjaga militansi para pendukungnya.

Tidak peduli jihad itu apa. Selama istilah jihad masih ampuh memobilisasi massa, maka cara itu akan terus digunakannya. Tidak peduli eksesnya rakyat terbelah. Karena jangan lupa, pendukung Jokowi pun tak sedikit jumlahnya. Tapi semoga pendukung Jokowi tetap dapat berpikir rasional dan tidak terseret narasi jihad yang tak masuk akal.

Jihad justru lebih mengarah pada usaha kudeta untuk merengkuh tampuk kuasa. Jihad menjadi alat ukur banci demi kepuasan pribadi. Padahal jihad adalah sesuatu yang mulia. Yang gugur di dalam jihad pun dilabeli gelar syuhada

Makanya ganjaran untuk jihad adalah surga. Namun, bila jihad semata dimaknai syahwat politik, maka Islam hanyalah gerombolan anak itik, digiring ke sana-kemari sesuai kepentingan pribadi.


Jihad, menurut Usamah Sayyid al-Azhary, perkara yang sangat mulia. Dalam kitab al-Haqq al-Mubin fi al-Radd ‘ala Man Tala’aba bi al-Din alTayyarat al-Mutatharrifah min al-Ikhwan ila al-Da’isy fi Mizan al-’Ilm, Usamah menyebut, utama jihad adalah menyebarkan hidayah. Dalam pandangan radikal, kata Usamah, jihad adalah peperangan—yang tidak memiliki peran sama sekali untuk menyebarkan hidayah.

Hidayah berarti petunjuk atau bimbingan dari Tuhan. Maka, untuk menyebarkan hidayah—yang pada hakikatnya merupakan prerogatif Tuhan—diperlukan suatu metode dakwah yang relevan dan damai. Maka, gerakan 22 Mei 2019 yang mereka sebut dengan jihad adalah penghinaan atas makna jihad itu sendiri.

Bagaimana mungkin aksi demonstrasi seperti itu disebut dengan jihad? Dari mana dalilnya membela Prabowo adalah jihad? Sezalim apa Jokowi sampai perlawanan terhadapnya seolah-olah disyariatkan agama? Sedurhaka apa Jokowi kepada Islam hingga perlawanan kepadanya dianggap sebagai sesuatu yang begitu mulia?

Apakah Jokowi sudah setara Firaun yang mengeklaim dirinya sebagai Tuhan? Apakah Jokowi sezalim Namrud? Kesalahan apa yang telah dilakukan Jokowi kepada Islam?

Seolah aksi 22 Mei adalah kesadaran akidah hingga mengabaikan aspek muamalah. Inilah intimidasi sekaligus diskriminasi teologis. Sebab, pendukung Jokowi pun banyak yang beragama Islam. Apakah kemudian pendukung Jokowi adalah golongan pembangkang Islam?

Jihad kemudian menjadi sosok menyebalkan yang selalu buang angin di pojok ruangan. Jihad dipersepsikan sekadar algojo oleh orang-orang bermental coro. Jihad tidak lagi menjadi jalan akhir karena justru jihad dijadikan awal perselisihan. Jihad hanya penyalur birahi rasa benci, iri, dan dengki.

Andai aksi demonstrasi itu tidak dikemas dengan pernak-pernik agama Islam, tentu tidaklah menjadi persoalan. Namun nyatanya, aksi-aksi yang ditujukan kepada Jokowi hampir selalu dalam balutan politisasi agama Islam. Jihad dan Perang Badar salah duanya.

Andai ada kecurangan, silakan ajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Tidak berkenan, ya silakan turun ke jalan. Tapi jangan membungkus aksi itu dengan kemasan Islam. Apalagi mengemasnya sebagai jihad membela agama yang akan mendapatkan balasan surga.

Bukankah cara keji itu yang dilakukan oleh kelompok teroris? Mendoktrin orang untuk siap mati. Mencuci otak orang untuk membunuh dengan bom bunuh diri. Sekarang cara itu pun dilakukan sebagian elite politik di negeri ini: jihad adalah mendukung sampai mati Prabowo-Sandi.

Mereka memang memodifikasi istilah jihad dengan jihad konstitusional. Namun ini menjadi berlawanan saat mereka justru menyatakan sudah tak percaya dengan jalur legal-formal. Bukankah mereka sudah tidak percaya MK?

Mereka pun tak mau melepas istilah jihad. Istilah ini terus dipakai dengan disandingkan dengan istilah konstitusional. Mereka tahu, istilah jihad bagi umat Islam itu sakral. Maka dipakai terus dan bahkan ditambah dengan membawa-bawa Perang Badar.


Padahal, bila benar mereka punya bukti kecurangan, mestinya tak sulit bagi mereka bertarung di MK. Hakim MK pun pasti akan mengabulkan gugatannya. Pertanyaannya, ada atau tidak bukti itu?

Bila memang membela Prabowo itu jihad, kenapa istilah ini tak terdengar saat 2014? Atau Pilpres sebelumnya lagi saat Prabowo berdampingan dengan Megawati. Dan bila memang pilpres adalah jihad, kenapa tak mati-matian mendukung Hasyim Muzadi atau Ma'ruf Amin yang jelas-jelas seorang kiai?

Padahal, jika memang mereka meyakini aksinya adalah jihad, harusnya mereka juga percaya dengan ketentuan Allah. Jika Allah berkehendak, mudah bagi Allah untuk menjadikan Prabowo sebagai presiden. Sehebat apa pun kecurangan didesain, tak akan mampu menggagalkan rencana Allah.

Namun, Allah berkehendak lain. Allah berkehendak, Jokowi yang terpilih kembali menjadi presiden. Ini bukan berarti kita harus berpikir fatalis. Namun, mengajak berpikir realistis. Bila yakin ada kecurangan, buktikan di pengadilan. Tak sekadar koar-koar di jalanan.

Sebab, saat mereka mendesak agar Paslon 01 didiskualifikasi, apakah pendukung Jokowi hanya akan berdiam diri?

Artikel Terkait