Saya pernah membaca ungkapan dari sebagian ulama, yang lebih kurang seperti ini bunyinya, “Barangsiapa belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan".

Ungkapan di atas tentunya berlaku bagi seseorang yang belajar ilmu agama. Jika seseorang belajar ilmu agama tanpa bimbingan guru, tentu kesalahannya akan lebih banyak dari kebenarannya, dan kesesatannya akan lebih banyak dari petunjuknya.

Contoh kecilnya, di Bulan September lalu, terjadi aksi perusakan (vandalisme) yang dilakukan oleh pria berinisial “S”. Remaja berusia 18 tahun tersebut melakukan aksi pencoretan di dinding dan lantai di salah satu musala di Kabupaten Tangerang, bahkan Al-Quran di sobek dan sajadah digunting.

Menurut keterangan dari  Kepala Bidang Humas Polda Banten, AKBP Edy Sumardi, menyebutkan bahwa tersangka “S”merupakan seorang muslim dan tinggal tak jauh dari musala tersebut.

Yang mengejutkan dari pengakuan pelaku adalah Ia belajar ilmu agama dari Youtube, dan meyakini apa yang dia lakukan adalah benar. Tentu ini menjadi tanda tanya, ajaran apa yang menyakini bahwa mencoret rumah ibadah dan menyobek kitab suci, itu dibenarkan? Aku yakin dalam ajaran islam dan agama manapun tidak pernah mengajarkan seperti itu.

Fenomena yang tak kalah mengejutkan baru-baru ini adalah digantinya lafaz “Hayya ‘Alassholah” pada azan, menjadi “Hayya ‘Alal Jihad”. Pelakunya adalah sekelompok orang yang mengatasnamakan bahwa aksinya adalah bentuk dari jihad.

Yang mengerikan lagi, mereka melakukan itu sambil membawa senjata tajam, seolah memberi pesan bahwa mereka siap memberantas siapa saja yang mengganggu kelompoknya.

Menanggapi hal itu, dua organisasi besar di Indonesia, Nahdlatul ‘Ulama dan Muhammadiyah, mengecam aksi yang yang mengatasnamakan jihad tersebut, dan meminta masyarakat untuk tenang dan tidak terprovokasi.

Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Saadi, bahkan mengatakan tidak tepat jika pergantian lafaz azan tersebut ditujukan untuk berperang, apalagi jihad di negara yang damai, seperti Indonesia.

Lalu bagaimana hukumnya mengganti lafaz “Hayya ‘Alassholah” menjadi “Hayya ‘Alal Jihad” pada azan?

Menurut K. H. Muhammad Yusuf Chudlori dalam kacamata fiqih Ahlussunnah Wal jama’ah menyebutkan, pergantian lafaz tersebut tidak sah karena dilakukan di Indonesia. Indonesia adalah darussalam (negara damai), bukan darul harb (negara perang).

Kalau seruan jihad tersebut digunakan untuk melawan pemerintahan yang sah, itu jelas namanya bughot (pemberontak), hukumnya haram dan boleh dihukum.

Pria yang akrab disapa Gus Yusuf itu juga mengatakan, di dalam kitab minhajul qowim, menghilangkan lafaz “Hayya ‘Alassholah” dan menggantinya dengan “Hayya ‘Alal Jihad” menyebabkan azan tersebut tidak sah, bahkan hal tersebut bisa menjadikan haram karena orang tersebut dengan sengaja melakukan ibadah yang rusak.

Fenomena mengatasnamkan jihad memang sedang marak di Indonesia akhir-akhir ini. Maka tak heran banyak pelaku-pelaku kejahatan mengklaim bahwa tindakan mereka termasuk dari jihad.

Pembantaian empat orang warga Desa Lembontonga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora adalah contoh nyata kesalahan dalam memahami makna jihad yang sesungguhnya. 

Lantas apakah benar tindakan yang mereka lakukan itu adalah wujud jihad?

Jihad memang salah satu ajaran vital dalam islam, bahkan Rasulullah SAW. memosisikan jihad sebagai amalan yang dicintai Allah setelah sholat dan berbakti pada orang tua.

Namun beberapa tahun belakangan ini jihad selalu dikonotasikan dengan tindakan kekerasan, terorisme, dan merusak. Anggapan ini keliru dan harus diluruskan. Jihad bukanlah aksi teror, meledakkan bom, apalagi sampai tega membantai orang-orang yang tidak bersalah.

Jika pemahaman yang menganggap jihad haruslah dengan perang, maka ini adalah pemahaman yang sempit. Tujuan sejati dari jihad adalah untuk menegakkan ajaran Tuhan dengan nilai-nilai yang diajarkan Rasul dan Al-Quran, bukan justru bertentangan.

Dari pengertian jihad di atas dapat disimpulkan bahwa jihad adalah perjuangan seorang hamba dengan ikhlas di jalan Allah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sementara terorisme adalah tindakan yang sengaja dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengancam, menakuti, bahkan melakukan kekerasan yang berpotensi menimbulkan kerugian bahkan korban jiwa.

Semua aksi teror adalah ilegal, tidak mendapat izin dari pemerintah setempat, bahkan para ulama melarang melakukan cara-cara teroris dalam memperjuangkan ide-ide kelompok mereka.

Dari kejadian vandalisme dan aksi terorisme yang mengatasnamakan jihad di atas, rasanya  wajib bagi kita agar lebih selektif dalam memilih guru agama. Pilihlah guru yang sanad keilmuannya jelas sampai ke Rasulullah SAW.

Terlebih di era modern saat ini, pilihlah guru yang di setiap dakwahnya selalu mengajarkan kebaikan dan kasih sayang. Bukan guru yang justru menjadikan akhlak kita tidak manusiawi, sehingga mudah menyesatkan dan mengkafirkan orang lain karena berbeda pendapat.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengutip perkataan dari Imam Malik RA, “Janganlah engkau membawa ilmu yang engkau pelajari dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad keilmuan).