Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Peribahasa klasik itulah yang kini cocok disematkan kepada Universitas Gadjah Mada (UGM) yang notabene adalah almamater Presiden Jokowi.

Sebelumnya UGM melewati bulan madu manis dengan dikukuhkannya kampus ini sebagai perguruan tinggi terbaik nomor satu di Indonesia versi 4International College and Universities (4ICU). Jebolan UGM juga cukup mendominasi Kabinet Kerja Jokowi-JK, antara lain Anies Baswedan (Mendikbud 2014-2016, sekarang Gubernur DKI Jakarta), Pratikno (Mensesneg), Retno Marsudi (Menlu), Budi Karya (Menhub), dan Airlangga Hartarto (Menperin, juga Ketum Golkar).

Namun semua berubah ketika 'Kasus Agni' mencuat. Ingatan publik jelas masih segar akan kasus seorang mahasiswi UGM yang mengalami pemerkosaan saat berlangsungnya KKN oleh rekan satu timnya. 

Usaha gadis ini untuk mencari keadilan, kabarnya, dipersulit oleh beberapa oknum di tubuh UGM sendiri. Sehingga muncul selorohan bahwa praktik KKN yang notabene awalnya dirintis oleh UGM pada tahun 1971 berubah singkatan dari Kuliah Kerja Nyata menjadi Kuliah Kerja Ngewe.

Seakan belum cukup kekisruhan yang berkontribusi menanam saham pada kekeruhan batin civitas akademika UGM, kini muncul pula kasus Jibril yang tengah mendekam di balik jeruji besi akibat skandal video mesum yang menderanya.

Sebenarnya pria bernama lengkap Jibril Abdul Aziz ini tidaklah asing di mata publik. Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan ini pernah menjadi bintang tamu di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne. 

Pada acara tersebut, Jibril menuturkan bahwa ia diancam akan dicabut status kemahasiswaannya karena ia memaksakan mengundang Sudirman Said dan Ferry Mursyidan Baldan sebagai pembicara dalam seminar kebangsaan, yang kabarnya tak mengantongi restu dari pihak kampus.

Setelah menjadi bintang dadakan, pemuda asal Kudus ini kembali mengukir legenda. Kini ia merasakan dinginnya Hotel Prodeo akibat tingkah polahnya sendiri. Semua bermula ketika ia masih menjalin hubungan asmara dengan wanita berinisial BCH selama dua tahun.

Sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan, Jibril rupanya jemu menyaksikan proses reproduksi hewan ternak. Boleh jadi ia juga jenuh dengan proses perkuliahan yang monoton dan membutuhkan eskapisme. 

Lalu, karena terdorong oleh renjana yang membuncah, ia memutuskan menyudahi perannya sebagai observer dan ingin terjun langsung dalam praksis.

Untunglah bagi Jibril, ia bukanlah seorang jomblo prihatin. Kendati wajahnya tak setampan Nicholas Saputra dan hartanya tak melimpah seperti Hotman Paris Hutapea, masih ada gadis yang bersedia menjadi pacarnya, yaitu BCH. Tak ia sia-siakan kesempatan itu. Ia ajak sang kekasih untuk melakukan olahsyahwat.

Selama belasan purnama kebersamaan mereka, Jibril dan BCH asyik bervakansi dalam labirin libidinal, seolah ada substansi adiktif yang ditambahkan di dalam darah mereka. Segitiga Venus dan Tajuk Dada sang pujaan hati tak lupa ia santap dengan rakus.

Namun BCH ternyata hanyalah lalat yang tak menyadari jatuh ke dalam pesona Nephentes. Jibril tak puas hanya sekadar menginvasi bagian-bagian privat sang pacar. Kegiatan reproduksi rutin yang mereka kerjakan sembari berkelindan peluh sudah diabadikan oleh Jibril dalam format sebuah film dewasa.

Tapi tiada pesta yang tak berakhir. Orang tua BCH menolak Jibril mentah-mentah. Mereka tak ingin putrinya memadu kasih dengan lelaki seperti Jibril. 

Bagi Jibril yang selalu haus akan eksistensi, penolakan itu bagaikan tamparan keras di pipi. Rasanya menyakitkan; tidak hanya secara fisik, tetapi pada batin. Penolakan menimbulkan rasa malu yang luar biasa. Pengakuan bagaikan udara: ia tidak bisa hidup tanpanya.

Di dalam filsafat Jerman, ekspresi tersebut merupakan resultan dari tegangan antara apa yang ada (das Sein) dan apa yang seharusnya terjadi (das Sollen) yang menghasilkan “rasa sakit dunia” (Weltschmerz). Tegangan ini menghasilkan anasir-anasir emosi yang banal, salah satunya dendam.

Dendam telah mereduksi Jibril menjadi subjek yang overmaskulin, psikotik, dan semena-mena. Kehendak akan retribusi memunculkan skema lex talionis. Sebuah visi operatif demi meretas cul-de-sac (kebuntuan) tepercik di benaknya, ia berencana melakukan Retaliasi Porno atau yang dalam bahasa populer dikenal sebagai Revenge Porn.

Jemari Jibril bergerak lincah di atas tombol gawai cerdas miliknya, seperti saat bergerilya menjelajahi relung-relung tubuh kekasihnya. Jibril meredistribusi rekaman-rekaman asusila tersebut lewat WhatsApp, Line, dan juga lewat akun media sosial agar dapat dinikmati khalayak di Jagat Mayantara.

Lebih picik lagi, Jibril juga ingin membelenggu orang tua BCH dalam jerat kecemasan eksistensial. Ia ingin setiap fragmen adegan panas yang ia jalani bersama BCH mengendap secara permanen dalam memori kolektif kedua orang tua BCH.

Dengan penuh kejumawaan, Jibril ingin mempertontonkan dengan gamblang bahwa anak gadis yang kedua orang tuanya banggakan dan sayangi itu telah terdegradasi menjadi seonggok daging pemuas nafsu yang dikendalikan oleh hasrat paling primordial yang bergelung dalam ruas terakhir tulang punggungnya.

Pada akhirnya Jibril harus mendapati dirinya meringkuk dalam desmoterion. Orang tua BCH tentu saja naik pitam dan melaporkan perbuatan Jibril pada Korps Bhayangkara, yang membekuknya tak lama berselang. Jibril yang tadinya bintang kini dianggap hina layaknya binatang.

Tapi, sekali lagi, seperti banyak kasus Malicious Distribution semacam Retaliasi Porno, lagi-lagi perempuan yang menjadi korban dan menuai kerugian terbesar ketika bagian tubuhnya yang paling rahasia malah menjadi konsumsi publik, khususnya kaum Adam yang gemar merancap, sebagai implikasi dari toxic masculinity yang intens.

Kita juga perlu melihat, di era Cyberlibertarian yang penuh dengan turbulensi dan cenderung kaotik iniproblematika antarindividu dapat muncul dalam interaksi digital dan biasanya menyasar pada identitas rentan yang tidak tuntas dalam dunia profan. Misalnya tubuh wanita direduksi levelnya menjadi objek pemuas lelaki hidung belang sudah sering terjadi pada di keseharian dan ini belum terselesaikan. 

Permasalahan seksualisasi tubuh perempuan ternyata menjalar pula ke Jagat Mayantara dalam bentuk konten pornografi. 

Hingga saat ini, baik di dunia nyata maupun di Jagat Mayantara, tidak ada proteksi yang memadai bagi perempuan agar identitasnya tidak dipolitisasi. Karenanya perlu adanya dekonstruksi untuk mengikis dominasi patriarki atas teknologi yang sejak lama mengancam kehidupan kaum Hawa.