Bercerita sambil tanpa menunjukkan unggahan di IG Jennifer Aniston pada 30 Mei 2020 yang mengumumkan foto bugilnya akan dilelang, yang mendengar cerita saya cenderung merespons dengan jawaban negatif, ini salah satunya:

"Ih, nggak tahu malu, kayak gak ada cara lain aja buat ngamal!"

Kamu ada yang berpikir seperti itu juga, kan? Sejak dari membaca judul pasti sudah terpikir sesuatu.

Keduanya berangkat dari pemikiran yang sama yakni memakai tubuh untuk berpartisipasi dalam penanganan Covid-19 lewat donasi. Tapi ada banyak sekali perbedaan mulai dari masalah teknis sampai ide.

Mari tengok unggahan berupa satu video dan satu foto di IG Jennifer Aniston, dalam caption @jenniferaniston menjelaskan,

"My dear friend @markseliger teamed up with @radvocacy and @christiesinc to auction 25 of his portraits - including mine- for COVID-19 relief... 100% of sales proceeds of this portrait will go to @NAFClinics, an organization which provides free coronavirus testing and care nationwide to the medically underserved. Link in my bio to learn more about the auction. Thank you again to Mark for allowing me to be part of this." (IG)

Jadi Jennifer Aniston tidak sendirian, tidak sekonyong-konyong punya ide melelang foto bugilnya untuk penanganan Covid-19, dan tidak ada motif pansos atau demi engagement. Gaes, ini Jennifer Aniston mantan istri Brad Pitt itu loh.

Mark Seliger seorang fotografer ternama menggandeng Jennifer Aniston dalam gerakan bertagar #radart4aid yang menggalang dana untuk kegiatan amal khususnya untuk penanganan Covid-19.

Selain Mark, ada pihak yang ditunjuk untuk melakukan lelang, bahkan sudah ada organisasi yang akan menjadi penerima dan pengelola donasi. Lelang foto bugil ini sampai sekarang belum dihapus apalagi membuat klarifikasi.

Berbeda dengan Sarah Kiehl yang mengunggah video mengumumkan lelang keperawanan tanpa membahas hal teknis sehingga menimbulkan pertanyaan seperti:

Pertama, apakah ia akan menikahi pemenang lelang sebelum melepas keperawanan--karena pembuka kalimat adalah basmalah jadi diasumsikan seorang muslimah yang terikat syariat Islam. Dua, tidak menyebut lembaga atau organisasi yang bersedia menerima dan mengelola dana hasil lelang. Tiga, tidak ada pihak yang membantu ia melakukan lelang.

Fakta bahwa lelang dimulai dari angka 2 miliar sementara Sarah Kiehl pernah memamerkan mobilnya seharga 5 miliar ini juga sebuah lelucon yang menyebalkan. Harga keperawanan lebih murah ketimbang mobil? Apalagi memulai pengumuman lelang dengan bacaan basmalah.

Saya bukan sedang menakar iman atau membawa-bawa agama dengan menyebut fakta lelang keperawanan Sarah Kiehl dimulai dengan bacaan basmalah. Saya (hanya) tak paham, kompleksitas cara berpikir dan kondisi mental seperti apa bisa merangkum perilaku konyol seperti ini?

Diakhiri dengan drama menghapus unggahan kemudian menjelaskan bahwa unggahan tersebut hanyalah sarkasme. Menonton videonya belasan kali, tetap tak bisa melihat sarkasme yang dimaksud. Tindakan mengumumkan lelang keperawanan kemudian membuat klarifikasi ala Sarah Kiehl itu lebih mirip penghinaan pada daya nalar orang lain dan merendahkan nilai tubuh perempuan ketimbang sarkasme.

Sarah Kiehl melihat tubuh perempuan sebagai aset yang bisa diobjektivikasi, tubuh baginya adalah komoditas, bahkan seandainya benar bahwa lelang keperawanan tersebut hanyalah lelucon sebagai bentuk protes untuk penanganan corona.

Melelang keperawanan berarti menempatkan tubuh sebagai komoditas secara sadar, di satu sisi perempuan dapat memaksimalkan tubuhnya untuk mendapatkan sesuatu, di sisi lain tubuh tersebut harus diserahkan kepada laki-laki sebagai pemberi modal.

Kalau begitu melelang foto bugil bukankah sama saja menempatkan tubuh menjadi komoditas dan objektivitas?

Pertama, tidak ada yang bisa dikuasai atau harus diserahkan dari tubuh perempuan di kasus lelang foto bugil Jennifer Aniston. Perlu melihat fotonya untuk tahu pose seperti apa yang dijepret. Jangan bayangkan pose seronok murahan yang memancing libido.

Kedua, seksualitas yang disampaikan lebih positif daripada melelang tubuh  untuk diperawani. Jennifer Aniston berpose duduk dengan santai. Kuat sekali kesan nyaman dan percaya diri. Meski tampil bugil tapi pose tersebut lebih kuat kesan perempuan yang punya otoritas atas tubuhnya ketimbang seksi dari sudut pandang hasrat seks laki-laki.

Ketiga, sebagian orang mungkin malah melihat foto tersebut sebagai karya seni alih-alih membuat horny.

Foto bugil, selain dianggap karya seni, bisa juga hanya sebagai pornografi saja. Pornografi di sini diartikan sebagai representasi eksplisit (gambar, tulisan, lukisan, dan foto) dari aktivitas seksual atau hal yang tidak senonoh, mesum atau cabul yang dimaksudkan untuk dikomunikasikan ke publik.

Saya melihat tindakan Jennifer Aniston sebagai bentuk kepemilikan, ada otonomi atas tubuhnya, menggunakan tubuh untuk melakukan sesuatu sekaligus juga memiliki kuasa untuk menentukan pose seperti apa yang akan ia lakukan.

Otonomi atas tubuh terkait dengan relasi sosial, di kasus foto bugil in Jennifer Aniston punya relasi sosial dengan pihak lain yang terkait. Selain itu juga ada kontrol. Pihak yang punya kontrol adalah pihak yang punya otonomi atas tubuh.

Tapi lain ladang lain ilalang. Jika terjadi di Indonesia, mendapat penghargaan sebagai karya fotografi sekalipun, foto bugil bagaimanapun posenya akan dilihat sebagai pelanggaran norma.

Di sisi lain, seorang influencer berasal dari kalangan atas alias kaya raya melelang keperawanan ini adalah sebuah ironi jika mengingat ada perempuan lain yang tak berkuasa atas tubuhnya sendiri karena kemiskinan (kultural maupun struktural).

Kasus pernikahan dini dengan motif ekonomi, prostitusi karena tak bisa mendapat pekerjaan lain, bahkan fenomena sosial sugar daddy yang sekarang marak di kalangan perempuan muda, adalah kasus di mana tubuh perempuan menjadi komoditas untuk mendapat keuntungan secara ekonomi, baik karena tak punya pilihan atau hanya karena tak ingin hidup susah saja.

Muaranya ya hanya satu, yaitu kemiskinan yang menghalangi seorang perempuan mendapatkan kehidupan yang diinginkan.

Lelang keperawanan di medsos atau mana pun (lewat media daring), meski kemudian diralat disebut sarkasme atau bahkan candaan, secara blak-blakan saya pikir perlu disebut sebagai prostitusi. Memakai tubuh perempuan sebagai komoditas untuk keuntungan bagi diri sendiri, contohnya seperti mencari popularitas, bukanlah ekspresi seksualitas yang sehat.

Kurang-kurangi mencari sensasi dan engagement dengan objektivikasi tubuh perempuan, ya!