Menguap bersama ombak

Biarkan aku menguap, melebur jasad bersama matahari terbenam yang malu-malu menyambutku.
Besok tak bisa tidak kita bakal bertemu lagi. Jasadku telah bersekutu dengan embun, jiwaku telah mengawini kicauan burung pagi.
Itulah awal hari yang kau nanti-nanti.
Cari dan cumbuilah embun dan kicau tadi.

Menatap matahari sore

Tak pernah sekalipun aku meremehkan sorot matahari.
Detik ini tak ada satu serpihan jiwa yang rela takluk kalah.
Hidup menawarkan aku untuk istirah sejenak darinya.
Hidup membisikan cerita-cerita sunyi, mencekam tiap sanubari lemah, mengobral janji surgawi yang membuat mual sisi warasku.
Namun, tak keluar dari mulut mungilku kata menyerah.
Biar saja kuperas peluh, darah, kuremukan tulang dan kukobarkan hasrat yang terlanjur memerah.
Tetap kutatap kau matahariku, di ujung sore dan terbenammu.

Awan bertepi merah

Awan bertepi merah, matahari senja sedang nafsu-nafsunya untuk mempengaruhi apa-apa saja yang berwujud di sekitarnya.
Awan tetaplah awan kelabu putih pada wujudnya, dan lembut hampa pada sentuhannya.
Merah hanyalah warna, bagaimana cara satu mahluk dan mahluk lainnya memandang dunia.
Darahmu selalu merah, karena merahlah yang membawa penghidupan dan kehidupan.
Untuk itu kuputuskan memandang awan dengan tepian merah.
Aku selalu suka saat kau hidup.

Jengkal pikir anak pantai

Kau tak pernah bosan dengan hal-hal kecil. Sementara orang menganggapmu sarat akan potensi untuk menjadi besar.
Bintang, awan, mentari senja, debur ombak, angin darat dan laut selalu penuh mengisi tiap jengkal pikirmu.
Hal-hal kecil yang orang anggap remeh. Misteri-misteri kecil yang bahkan tak pernah kau ketahui kapan dan di mana batinmu memutuskan untuk jatuh cinta.

Apa yang kau tangisi

Sementara dunia terbahak-bahak mengolok-olok kisahmu yang dinilai tak sempurna, aku berdiri mencumbuimu.
Menimangmu dalam ayunan yang tak pernah mau putus.
Mendekapmu hangat, menciumimu bertubi, menggendongmu dalam rentetan takdir Tuhan yang selalu kita tunggu bakal mengabarkan kabar gembira. Bagaimanapun aku rindu akan senyummu yang terbit.
Sebagaimana mentari pagi membawa kebahagiaan pada segenap mahluk, tawamu yang pecah meriah adalah sebentuk kemewahan bagiku.
Untuk itu tak putus aku berdoa, merendah pada Yang Kuasa, mengadu bahwa belum penuh saja aku berusaha, kujanjikan esok akan berlebih-lebih upaya dan doa.
Kugadaikan harga diriku pada Pencipta. "Berilah tawa padanya, terbitkanlah senyum dari kedua sudut bibir mungilnya.
Penuhi hari-harinya dengan santapan bahagia."

Ibu kepada anak yang curiga akan ombak

Nak, bisa kau lihat kawanan ombak datang. Mereka bukan menjemputmu pulang, mereka menyambutmu dengan suka dan senang.
Bermain-mainlah dengan air, pasir dan dahagamu sendiri.
Kubur rasa takutmu, benamkan dalam diam, dan sambut sinar mentari sore yang bergelayut di langit barat.
Mentari tua, kesepian dan muram, menunggu rangkulan hangat dan pelukan erat darimu.
Di pantai ini, bermainlah, sampai surut sorot matamu, sampai kantuk mengiming-imingimu dengan mimpi yang indah, sampai senja mengaku takluk pada singgasana kegelapan.
Di sini, di sana, di waktu kapanpun aku akan selalu menyertaimu.