Saat menancapkan panji Gestapo yang bengis pada 1933, Hermann Göring menyeru: “Kebijakan-kebijakanku tak akan terbelenggu oleh birokrasi mana pun. Maka persetan dengan keadilan; tugasku hanyalah untuk menghancurkan dan memusnahkan, itu saja.”

13 tahun kemudian, Reichsmarschall Göring duduk di atas kursi ruangan pemeriksaan mental di Nuremberg. Di hadapan mata penuh selidik psikiater militer Amerika — Leon Goldensohn — sang penjahat perang legendaris menegaskan: “Mana peduli aku dengan bahaya? Aku kirim serdadu-serdadu lewat darat juga udara demi menjemput maut di tangan musuh. Kenapa aku mesti takut?”

Tepat semalam menjelang eksekusi tiang gantungan, pria setengah baya yang sempat dielu-elukan sebagai pilot andalan Kekaisaran Jerman di era Perang Dunia I ini mengklaim kemerdekaan finalnya dengan menelan sebiji kapsul pembunuh otak.

Orang boleh berselisih pendapat mengenai akhir kisah pucuk pimpinan militer Nazi Jerman ini. Adiksi pada kenikmatan morfin yang 23 tahun mencengkeram jiwanya boleh dibandingkan dengan kejang otot dan mata mendelik saat asupan oksigen ke otaknya tercekik akibat reaksi asam lambung dan serbuk kapsul kalium sianida.

Gagalkah ia sebagai manusia? Atau justru 53 tahun masa hidupnya demikian penuh makna dengan dekorasi puluhan bintang jasa, juga buku-buku dan berjam-jam rekaman film yang mengabadikan eksistensinya?

Rasanya cukup perlu kita baca ulang salah satu pernyataan Göring pada masa jayanya sebagai anggota kabinet Hitler tahun 1937: “Kita akan tercatat dalam sejarah dunia, entah sebagai negarawan paling masyhur atau penjahat paling terkutuk.” Nubuat yang akurat, nampaknya.

***

Pada waktu yang sama, saat Göring muda dirawat di bangsal kejiwaan Långbro setelah dinyatakan sebagai pecandu morfin akibat luka trauma, Sigmund Freud tengah berjuang melawan gagu akibat perangkat prostetik yang dipasangkan di wajahnya demi mengatasi efek samping rangkaian operasi kanker dagu.

Dalam kondisi yang memaksanya untuk lebih fokus menulis daripada berceramah, Freud menuangkan frustrasinya atas kegagalan Yahudi — agama leluhurnya — melindungi saudara sebangsanya dari gelombang permusuhan Nazi yang didukung warga Protestan rural di Jerman.

Dalam Die Zukunft einer Illusion, buku yang menggambarkan interpretasinya atas asal-usul, perkembangan, dan masa depan agama dalam kaitannya dengan psikoanalisis, Freud menulis: “Tak kalah dari moralitas, imoralitas juga senantiasa memperoleh dukungan dari dalam agama.”

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa agama adalah ilusi yang tersusun dari “sejumlah dogma, serangkaian klaim atas fakta, dan kondisi kenyataan internal dan eksternal yang menginformasikan hal-hal yang belum diketahui oleh manusia, sekaligus memaksa manusia untuk memercayainya begitu saja.”

Meskipun Freud memberikan pembelaan dengan kalimat “ilusi tak selamanya keliru”, namun ia juga tegas menyatakan bahwa “agama bisa disejajarkan dengan neurosis masa kanak-kanak” dengan salah satu pasal perintah utamanya: “Kalian tak boleh bertanya”.

Tatkala Göring menginstruksikan pasukannya untuk “menghancurkan dan memusnahkan” orang-orang Yahudi di wilayah-wilayah taklukan, Freud beserta istri dan anak perempuannya melarikan diri ke London. Di pengasingan itu, Bapak Psikoanalisis ini menyusun salah satu buku terakhirnya berjudul “Musa dan Monoteisme”.

Buku yang sempat mengejutkan para pengagumnya akibat pengajuan teori bahwa Musa terlahir sebagai seorang Mesir ini menyebut tafsir psikoanalisis atas Taurat dan Injil: “Agama Musa [Yahudi] adalah agama Bapa; Kristen adalah agama Putra. [Di dalam agama Kristen] Tuhan yang lama, Sang Bapa, diletakkan pada tempat kedua; Kristus, Sang Putra, mengambilalih peran-Nya, sebagaimana [suksesi] yang diimpikan oleh setiap anak lelaki saat masa-masa kelam tiba.”

Secara historis, tersingkirnya kaum Yahudi dari konstelasi kekuasaan di Jerman adalah akibat nyata dari peran paramiliter Nazi sebagai algojo dan kaum Kristen rural sebagai “pendukung moral”. Sebuah suksesi brutal yang apik dikemas Freud dalam buku pseudohistoris tersebut.

Kita tak mungkin tahu apakah Sigmund Freud telah benar-benar memaafkan kekejaman yang dialami kaumnya. Yang jelas, Anna Freud si putri bungsu sempat membantu meloloskan seorang pengurus Partai Nazi dari bui pada 1947 dengan menyuratkan bahwa Dr. Anton Sauerwald — si cendekiawan Nazi — pernah menggunakan jabatannya sebagai kommissar untuk melindungi ayahnya dari persekusi.

***

Festival Munich, yang erat terkait dengan kultur produksi dan konsumsi bir masyarakat Jerman menjadi lokus dari agenda politis Partai Nazi pada 24 Februari 1920. Di hadapan sekitar 2000-an rakyat yang tegang akibat agitasi kaum konservatif terhadap pemerintah sosial demokrat yang moderat, Hitler mengumumkan 25 poin Program Nasional Sosialis.

Poin nomor 24 dari rencana besar Nazi menuntut kemerdekaan beragama bagi seluruh denominasi agama “sepanjang tidak membahayakan eksistensi negara atau bertentangan dengan nilai moral ras Jermanik”.

Pasal tersebut juga menyatakan dukungan bagi Positive Christianity yang independen dari denominasi mana pun. Gerakan Kekristenan yang bagi sebagian pihak luar justru diolok-olok sebagai “Kekristenan Negatif” tersebut adalah upaya untuk mengawinkan agama Kristen dengan ideologi fasisme ala Nazi.

Sebagai catatan, meskipun Nazi Jerman sekuler secara politik, namun partai itu berupaya menarik dukungan mayoritas rakyat yang religius dengan cara membangun gedung-gedung gereja, menyusun sejumlah concordat (kesepakatan antara pengurus gereja pusat dan daerah), serta peringatan ulang tahun Hitler di tiap-tiap jemaat gereja.

Dengan keberpihakan semacam itu, Nazi menunggangi pertentangan sektarian antara umat Protestan dan Katolik — tentu juga Yahudi — di Jerman. Hal ini ditegaskan dalam salah tiga dari sekian kredo Positive Christianity, yakni:

  1. menyangkal seluruh bagian Injil yang dituliskan oleh orang Yahudi — atau seluruh Perjanjian Lama;
  2. mengklaim bahwa Kristus adalah seorang ras Arya, bukan Yahudi;
  3. mewujudkan persatuan umat tanpa perbedaan sekte, menghapus agama Katolik, serta menyatukan Protestan dalam sebuah gereja Kristen Positif.

Hitler sendiri menyatakan dirinya adalah seorang Kristen pada sebuah pidato di Munich, April 1922. Identifikasi diri ini tersurat pula dalam Mein Kampf yang dalam beberapa barisnya berupaya untuk membangkit-bangkitkan “kebencian Kristus” pada kaum Yahudi, demikian juga paku salib sebagai wujud “pembalasan” mereka yang keji.

Berbarengan dengan ambruknya rezim Nazi pada 1945, gerakan Kristen Positif turut tenggelam. Meski demikian, ideologi Kristen fasis ini hingga saat ini masih dihidupi oleh beberapa kelompok rasis penyokong supremasi kulit putih Christian Identity.

***

Hidup seorang pejabat militer sakit jiwa, psikolog korban trauma, dan partai penunggang perselisihan antariman berkelindan sepanjang paruh pertama abad XX di Jerman. Perjumpaan mereka dilekati memori buruk pembantaian jutaan manusia bernasib sial, luluh lantaknya bumi Eropa Barat, juga riwayat 44 tahun segregasi bangsa Jerman oleh sebidang tembok pembelah Barat yang liberal demokrat dan timur yang sosialis totaliter.

Perlukah kita bersama-sama mengayuh rakit bangsa di sungai merah darah serupa mereka, wahai Jenderal?