Kedai Kopi Kita adalah sebuah kedai kopi mini yang bermukim di jalan Sikur Sakra – sebuah jalan dengan volume kendaraan yang masih tak ada apa-apanya. Sepi. Hanya segelintir becak dan kendaraan roda dua yang acapkali lalu-lalang. 

Pengunjungnya pun, tiap harinya, bisa dihitung jari – tidak terlalu ramai pun sepi. Bahkan ada beberapa yang itu-itu saja.

Kedai ini biasanya dibuka sore menjelang jam lima. Beberapa menu kopinya memang didesain cocok untuk memunuhi kebutuhan lidah para penyeruputnya. Minim pilihan namun kaya akan cita rasa. Itu yang barangkali membuatnya istimewa. 

Singkatnya, kedai ini begitu bersahabat dengan para pemuja kopi dan senja. Begitu.

Sugestina, begitulah orang-orang memanggilnya. Seorang barista kopi yang telah bekerja di kedai tersebut lebih lama dari lahirnya nama jalan Sikur-Sakra itu sendiri. 

Perempuan yang juga kini sedang fokus menyelesaikan study akhir di kampusnya acapkali harus berjibaku dengan dua aktifitas berbeda pada waktu yang sama. Sangat tumpang-tindih.

Wajahnya yang oval, bola matanya yang berbinar, bentuk hidung yang runcing dan senyum sabit serta balutan jilbab segi empat yang selalu ia kenakan membuatnya terlihat begitu khas. 

Perangainya yang santun, ramah dan bersahaja juga menjadi rambu siapa dirinya. Jika tak lagi sibuk, tak jarang ia membuka obrolan hangat dengan beberapa tamunya.

Ada lelaki paruh baya, ia menuju renta, namun ia rutin berkunjung sekadar untuk mengenang istirnya yang sudah almarhum di hatinya. Sugestina selalu bisa menjelma kawan bicara yang mampu meredam sedih lelaki itu ketika ia di hadapannya.

Ada sekelompok kuli bangungan, meski mereka hanya memesan kopi dan duduk sambil merokok, Sugestina selalu membawakan mereka sepiring roti bakar gratis sebagai teman makan malam. Sugestina tahu bahwa tak jarang uang yang mereka hasilkan seharian hanya cukup untuk memesan secangkir kopi saja.

Ada juga pengemis renta dengan badan lusuh dan pakaian robek yang kerap mengganggu siapa saja yang berpapasan dengannya. Acapkali pemilik kedai tersebut bersikap acuh bahkan tak membolehkan keberadaan pengemis itu. 

Namun Sugestina, dengan sembunyi-sembunyi, membawakan beberapa sisa makanan untuk diberikan kepadanya.

***

Laki-laki itu datang mengenakan kaos putih polos dengan balutan jas blazer berwarna hitam sebagai pelengkapnya. Aroma parfum Bellagio melekat kuat di sekujur badannya. Ia memasang wajah datar dan tak banyak bicara. Hal tersebut memberi kesan bahwa ia adalah sosok laki-laki yang sangat dingin.

Ia memesan Cappucino latte dan memilih duduk di dekat jendela – tak jauh dari kasir tempat Sugestina meracik kopinya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas paha, dan wajahnya yang begitu dingin menatap ke arah luar jendela. “Mungkin ada orang yang sedang ia tunggu,” pikir Sugestina.

Silakan kopinya.” Sapa Sugestina dengan senyum khasnya yang merona.

Terimakasih.” Balas laki-laki itu singkat. Matanya tak membalasa menatap.

Tak banyak percakapan yang lahir dari pertemuan itu. Laki-laki tersebut memang dingin dan sedikit aneh bagi Sugestina. Pengunjung pertama yang baginya sulit untuk diajak bicara. 

Dari meja kasir, Sugestina diam-diam memperhatikan laki-laki tersebut. tatapannya selalu tertuju kea rah luar jendela. Entah apa yang sedag diamatinya.

Kopi yang ia pesan tak pernah disentuhnya. Uapnya mengepul dan perlahan hilang – menandakan kopi itu sudah dingin dan tak hangat lagi untuk dinikmati. 

Selang beberap saat, ia beranjak dan menuju meja kasir. Ia keluarkan kertas merah tanpa meminta kembalian. Tak ada percakapan. Ia segera lenyap dari pandangan.

Semenjak hari itu, setiap harinya selalu begitu. Laki-laki tersebut rutin berkunjung pada kondisi, sikap dan jam yang sama. Memesan menu yang sama. Duduk di tempat yang itu-itu saja. sampai akhirnya Sugestina tahu betul yang dimaunya. 

Cappucino latte satu diantar ke meja dekat jendela, kan?” Tanya sugestina ke laki-laki itu dengan antusiasnya.

Laki-laki itu terdiam seketika. Ia menatap Sugestina sebentar lalu pergi dengan segera. Sugestina terkejut, sekujur tubuhnya kaku, mulutnya cepat-cepat membisu. Apakah pertanyaan yang baru saja ia ajukan itu lancang dan tidak sopan? 

Astaga, kenapa aku jadi sok tahu begini, sih?” Ucap Sugestina kesal pada dirinya sendiri.

Tak ingin melihat orang yang mulai dia ingat-ingat pergi begitu saja, ia berlari mengejar laki-laki itu untuk sekadar meminta maaf. Alih-alih menjelaskan, laki-laki iitu sekelebat hilang dari pandangan. Usahanya berbuah nihil. Ia menyesal.

***

Tiga bulan berlalu, kuliah Sugestina pun hampir berakhir. Dan ia telah memutuskan untuk menjejaki dunia kerja yang baru – yang mampu menyokong kebutuhan  hidupnya yang semakin menuntut. 

Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di kedai. Banyak kenangan manis yang sayang untuk dikemas. Termasuk dengan laki-laki dingin yang tumbuh subur diingatannya.

Alih-alih sibuk berkemas, matanya tertuju pada seseorang yang berjalan mendekat menuju kedai. Iya, sangat familiar. Laki-laki dingin dengan kaos putih polos, balutan jas blazer hitam dan aroma parfum Bellagio yang membersamainya seperti saat pertama ia datang dulu ke kedai ini. 

Masih dengan rupa yang sama.

Sugestina tertegun kaget. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Tak ada ucapan selamat datang yang biasa ia lakukan sebagai bentuk keramahtamahan. Mulutnya kelu. 

Laki-laki itu masuk ke dalam kedai tanpa memesan satu cangkir kopipun. Ia langsung mengambil tempat duduk di tempat biasanya dan kembali diam menatap jendela.

Dari meja kasir, Sugestina begitu khusyuk memandangnya, ia benar-benar memperhatikannya. Ia telah fasih dengan setiap laku yang dilakukan laki-laki itu selama duduk di sana. 

Matanya kini sibuk menjelajahi bentuk tubuh laki-laki itu dari atas pangkal hingga ke ujung. Ia tak sadar bahwa perhatiannya telah melahirkan senyum di wajahnya.

Tak ingin hari terakhirnya di kedai itu berakhir sia-sia. Ia pun memutuskan untuk mengakhiri rasa penasarannya. Didekatinya laki-laki tersebut dengan semangat gigi empat. Ia memiliih berani meski didominasi rasa takut dan grogi.

Maaf mengganggu. Em, saya Sugestina – barista di kedai ini. saya seringkali mendapati anda datang dan memesan kopi disini. Maaf jika sebelumnya saya lancang. 

Tapi saya benar-benar heran dengan sikap anda. Anda hanya datang memesan kopi tanpa pernah sekalipun meminumnya. Kalau memang kopinya tidak enak, kan, bisa dibicarakan. Maaf.

Alih-alih dapat balasan, laki-laki itu hanya memberi sedikit senyum tanpa sedikitpun membalas tatapan mata Sugestina. Sugestina sedikit terkejut dan merasa tersinggung. Tapi ia tak berhenti berusaha. 

Kali ini ia kembali menanyakan beberapa pertanyaan lain yang barangkali bisa 'membuat laki-laki itu membuka suara.

Sebenarnya anda sedang menunggu siapa?” Tanyanya dengan suara kegetiran.

Kekasihku!” Jawab laki-laki tersebur sembari tersenyum dengan sedikit tatapan hangat lalu kembali menatap jendela.

Sugestina kembali terkujur. Ia bingung harus bahagia atau sedih. Ia bahagia karena akhirnya laki-laki itu dapat diajaknya bicara. Ia sedih karena tahu laki-laki itu sudah punya kekasih. Dengan sisa semangat dan hati yang sedikit patah, ia kembali mengajukan tanya.

Sudah berkali-kali anda kesini tapi orang yang anda tunggu-tunggu tak pernah datang menemui anda. Apa yang sebenarnya terjadi? Maaf jika pertanyaan saya terlalu personal.

"Tidak. Tidak apa-apa. Saya memang datang kemari untuk menemui kekasih saya. Seseorang yang sedari dulu saya kagumi. Ia juga selalu menanti-anti kehadiran saya. Ia selalu di sana." Ucap laki-laki tersebut sembari menunjuk ke arah jendela.

Tapi, tidak ada siapa-siapa di sana. Bagaimana bisa?" Tanya Sugestina semakin heran.

Ada. Dia sering kutemui berdiri di sana. Kalau tidak percaya, cobalah mendekat dan duduk di sebelah saya.” Pinta Laki-laki itu begitu sopan.

Tidak ada siapapun di luar,” ucap Sugestina.

Bukan di luar. Tapi di jendela. Coba lihat kea rah jendela,” pinta laki-laki itu.

Awalnya Sugestina tidak mengerti, sebelum pada akhirnya ia baru menyadari bahwa yang dimaksud laki-laki tersebut adalah bayangan yang terpantul di jendela. Bayangan di jendela tersebut mengarah tepat ke arah kasir. Hal itu membuat Sugestina terdiam dan sekujur tubuhnya sedikit gemetar.

Aku menyukai seseorang. Aku mengagumi sibuknya, ramahnya, cara pandangnya, bola matanya, senyumnya serta seluruh apa yang melekat padanya. Sayangnya, aku terlalu takut untuk memberitahunya. Bahkan sekadar untuk menyapanya, kata-kata itu rasanya akan sarat-sengkarut.

Ia, itu kamu!

Alasanku untuk terus mengunjungi kedai ini adalah untuk memastikan kabarmu. Duduk di tempat ini dengan pandanganku yang selalu melihat ke arah jendela adalah agar aku bisa terus memperhatikanmu tanpa kamu harus tahu akan hal itu. 

Itu satu-satunya caraku membuka obrolan denganmu. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.

Semakin hari, aku semakin menyukaimu. Aku terus datang ke sini hanya agar aku bisa melihatmu – walaupun dari bayangan jendela. Namun, aku sadar bahwa kamu sesekali juga mencuri pandang ke arahku; sesekali tersenyum, sesekali melamun.

Semoga kamu masih ingat bahwa tempo hari aku mau memesan kopi dan ternyata kamu sudah hafal betul dengan pesananku. Saat ini sebenarnya aku benar-benar grogi hingga tak kuasa untuk berbicara lagi. Maaf karena mungkin aku terlampau senang dan sulit untuk mengekspresikan isi hati.

Lalu di beberapa bulan selanjutnya aku mencoba mengasingkan diri dari pandanganmu. Bukan apa-apa, aku hanya takut kamu merasa terusik dengan tingkah anehku. Maaf jika aku harus lancang mencari tahu tentangmu juga mencintaimu tanpa kamu harus tahu perihal ini terlebih dahulu.

Tak lama laki-laki tersebut mengeluarkan cincin dari dalam sakunya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

"Semoga kamu berkenan mengizinkan aku sebagai pendamping wisudamu nanti. Lalu setelah itu, maukah kamu berbesar hati untuk menjadi pendamping hidupku? Menikahlah denganku, Sugestina.

 Balas Sugestina dengan tangis haru yang tak berujung.