Panitia Workshop
1 tahun lalu · 890 view · 4 min baca · Saintek 88517_99477.jpg
Luthfi Assyaukanie sedang menyampaikan materinya. Foto: Qureta

Jejak Sains di Dunia Islam

Tak bisa dielak lagi bahwa dunia Islam hari ini masih menjadi tempat di mana sains (ilmu pengetahuan) sudah tidak berkembang lagi. Sebab satu dan lain hal, fenomena mutakhir menunjukkan itu, yang sekaligus mendapat konfirmasi langsung dari hasil studi yang ada.

“Kalau kita ikuti perkembangan mutakhir, kaum muslimlah yang paling sedikit memproduksi buku. Mereka paling rendah minat bacanya, paling sulit menerima demokrasi, dan paling sedikit penerima nobelnya,” terang Luthfi Assyaukanie saat memberi materi Workshop tentang Sains dan Pemikiran Kritis Gita-Qureta di Bandung bertajuk Sains dalam Islam.

Fakta ketertinggalan itu Luthfi buktikan dari jumlah publikasi buku di negara-negara dunia per tahunnya. Sebagaimana pantauan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), khusus untuk wilayah Asia dan Timur Tengah, yang bertengger di posisi teratas adalah Cina (440.000 publikasi), disusul Rusia (120.512) dan India (90.000).

Di tingkat literasi, negara-negara Islam juga berada di ranking paling buntut. Ranking mereka berkisar antara 45 – 60 dari 61 negara yang diteliti. Temuan ini dirilis oleh The World’s Most Literate Nations (WMLN) tahun 2016.

Hal yang sama juga ditunjukkan dari kondisi kebebasannya. Kecuali Indonesia, negara-negara berpenduduk mayoritas muslim itu tampak sebagai negara-negara yang sama sekali tidak dimungkinkan tumbuh-suburnya kebebasan: tidak demokratis. Penguasanya yang tiranik jadi satu sebab kemundurannya ke tingkat paling mengkhawatirkan.

“Ini fakta bahwa kaum muslim tertinggal dalam segala bidang. Itu sebab penerima nobelnya di bidang sains sangat sedikit,” lanjut Luthfi.

Melalui fakta yang mungkin sedikit mengecewakan itu, pertanyaan pun terajukan: apa yang salah dari kaum muslim? Inilah pertanyaan yang menurut Pendiri/CEO Qureta tersebut yang menjadi bahan diskusi sepanjang masa oleh para ilmuwan, terutama di kalangan muslim sendiri.

“Mengapa kaum muslim tertinggal? Faktor apa yang menyebabkan itu bisa terjadi? Ini pertanyaan yang sangat eksistensial.”

Sejak abad 19, terang Luthfi kembali, kaum muslim sendiri sudah bertanya-tanya tentang itu. Bahkan, mereka sadar betul bahwa buktinya sudah sangat jelas bagaimana orang-orang Islam memang mundur di segala bidang dibanding orang-orang Barat secara umum.

Satu hal yang menurut Luthfi sebagai faktor penyebab adalah pesatnya perkembangan dunia. Perubahan menghadirkan diaspora di mana-mana. Pun ini yang memicu maraknya orang-orang Islam memilih tinggal di negara-negara maju di Eropa.

Selanjutnya, faktor penyebab lainnya ditunjukkan dengan meminjam penjelasan dari Shakib Arslan. Dalam bukunya yang berjudul Limadza Taakharal Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum (Mengapa Kaum Muslim Mundur dan Kaum Non-Muslim Maju?), ia menunjukkan bahwa meskipun kemunduran dunia Islam lebih disebabkan oleh faktor tekanan kolonialisme, tapi itu pun hanya terjadi sekarang.

“Ini kan soal giliran peradaban saja. Di masa silam, kaum muslim nyatanya maju,” lanjut Luthfi mempertegas penjelasan Shakib.

Para peserta workshop Qureta-Gita

Mencoba menelusuri jejak sains dalam Islam, Luthfi pun menunjukkan sejumlah filsuf yang punya kontribusi besar bagi perkembangan sains di dunia ini. Nama-nama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rushd, hingga Mulla Sadra, adalah mereka yang punya kontribusi besar di bidang Filsafat. Pun ada yang berjasa di bidang Matematika, Astronomi, dan Fisika, seperti Al-Khawarizmi dan Al-Farghani.

Demikian pula di bidang Kedokteran, Kimia, dan Biologi. Para filsuf dengan bidang keilmuan masing-masingnya sangat berkontribusi besar bagi perkembangan sains di dunia Islam dengan Bayt al-Hikmah sebagai pusat peradabannya.

Hal itu kian dipertegas oleh banyaknya publikasi buku tentang peradaban dunia Islam ini, seperti The House of Wisdom; How the Arabs Transformed Western Civilization (Jonathan Lyons), Medieval Islamic Medicine (Peter E. Pormann dan Emile Savage Smith), The Golden Age of Islam (Maurice Lombard), dan lain sebagainya.

Hanya saja, bagi Luthfi, faktor itu tidak berdiri sendiri. Artinya, kontribusi besar mereka, juga munculnya peradaban Bayt al-Hikmah sendiri, sangat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sudah berkembang pesat sebelumnya.

“Sebelum Islam datang, sudah ada sentral-sentral peradaban, seperti Alexandria di Yunani (3 – 4 M) dan India (4 – 6 M), yang kemudian memicu lahirnya Bayt al-Hikmah (8 – 9 M). Peradaban-peradaban itu berpindah saja, bukan mencipta yang baru.”

Tapi, pertanyaannya kemudian, mengapa mereka (kaum muslim) dulu itu bisa maju? Faktornya adalah karena adanya penguasa yang tercerahkan (enlightened despot), seperti Harun al-Rashid (786 – 809).

“Era keemasan Islam dimulai dari penguasa yang tercerahkan yang menyukai ilmu pengetahuan. Penguasa berpihak kepada kebebasan pemikiran dan melindungi perbedaan. Dan juga, penguasa tidak disetir oleh ulama dan kaum bigot.”

Faktor lainnya juga ditunjukkan melalui penjelasan dari Ihya Ulum al-Aqliyyah. Bahwa era keemasan Islam juga sangat ditentukan oleh sebagian besar ilmuwannya yang menaruh sedikit perhatian kepada ilmu-ilmu agama. Mereka lebih disibukkan oleh buku-buku filsafat, logika, matematika, dan kedokteran. Kalaupun ada yang masih punya minat di bidang agama, mereka hanya bisa dihitung jari saja.

“Itu pulalah yang memberi pengaruh kepada peradaban lain, termasuk kepada peradaban di Barat.”

Para peserta workshop Qureta-Gita

Ditegaskan pula bahwa para sarjana atau ilmuwan muslim di masa silam, meskipun seorang religius, tidak pernah mencampuradukkan agama dan ilmu pengetahuan. Ada sekularisasi yang mereka lakukan sebagai bagian upaya untuk memisahkan itu. Kecenderungan untuk mereligiuskan atau mengislamkan sesuatu (temuan-temuan saintifik), terang Luthfi, baru ada sekarang.

“Mereka tak pernah tergoda untuk mengislamkan temuannya. Jika sekarang itu ada, itu fenomena modern, fenomena reaksioner kaum muslim terhadap kemajuan Barat.”

Jadi, dari fakta-fakta di atas, bisa dikatakan bahwa faktor penentu kemajuan suatu peradaban adalah sejauh mana orang-orangnya (pemikir/ilmuwan) menempatkan sains sebagai titik fokus utamanya. Selain itu, kondisi-kondisi politik juga sangat menentukan, di samping penghargaan besar dari masyarakat akan temuan-temuan sains terbaru.

Artikel Terkait