Malcolm X ialah seorang Muslim Afro-Amerika juga aktivis Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat. Malcolm konsisten membela hak-hak sipil warga kulit hitam yang mengalami tindakan diskriminatif dari kulit putih.

Wacana keharmonisan dan kedamaian yang selama ini dikampanyekan oleh Amerika Serikat ialah satu hipokritis. Karena, realitasnya, kekerasan yang berujung pada kematian menimpa kulit hitam selama kurun waktu 400 tahun. Sikap sukuisme atau primordialisme menjadi alasan prinsipiel untuk mengiyakan tindakan rasialisme itu.

Fase awal kehidupannya di bawah tekanan. Masa belianya sangatlah suram. Ancaman dan teror menghantuinya. Ayahnya terbunuh. Ibunya dikirim ke panti jiwa. Ia dipisahkan dari anggota keluarganya.

Sikap represif suku kulit putih atas dirinya dan keluarganya membentuk watak seorang Malcolm belia dan itu yang menjadikannya membenci suku kulit putih. Masuk usia remaja, Malcolm makin sensitif terhadap kulit putih.

Sensitivitasnya diekspresikan dengan cara merampas, merampok, dan mencuri harta kekayaan orang-orang kaya dari suku kulit putih. Ini dilakukan atas dasar latar belakang kehidupannya.

Karena tindakannya itu, seorang Malcolm masuk penjara. Ia di hukum 8-10 tahun kurungan. Status sebagai seorang Muslim ia dapatkan dipenjara.

Ia menerima doktrin-doktrin Nation of Islam, organisasi keagamaan yang mendukung kemandirian, kebebasan, kemerdekaan suku kulit hitam. Adalah Eiljah Muhammad sebagai pimpinan tertinggi yang membuat Malcolm menyatakan diri siap bergabung dengan Nation of Islam.

Sehabis masa tahanan, Malcolm terjun langsung di organisasi keagamaan ini. Setiap khotbah di kuil-kuil ia aktif mengampanyekan pemikiran-pemikiran Nation of Islam, menyerukan bahwa kulit hitam mesti keluar dari zona kebodohan; pembebasan bangsa Afro-Amerika dari perbudakan kulit putih harus sesegera mungkin; kemandirian sektor ekonomi, sosial, politik yang harus dicapai dan menstigmakan setiap suku kulit putih adalah setan.

Ia menjadi orator agamawan pembenci suku kulit putih. Malcolm menyatakan diri mendukung segregasi rasial, supremasi kulit hitam, dan membolehkan tindakan rasialisme pada kulit putih.

Ia menegaskan bahwa rasialisme pada kulit putih ialah hal yang lumrah dan segregasi rasial ialah jawaban bagi kaumnya atas 400 tahun tindakan diskriminatif kulit putih, yang selama ini merampas hak, kebebasan, kemerdekaan kulit hitam di Amerika.

Seiring waktu ia menjadi singa podium dan sosok sentral di Nation of Islam. Suaranya didengar, perintahnya dilaksanakan. Ini membentuk kekhawatiran bagi Eiljah karena Malcolm bisa menggeser posisi penting Eiljah di Nation of Islam.

Konflik antara Eiljah dengan Malcolm terjadi. Klimaksnya saat pernyataan pers Malcolm yang dinilai tidak sesuai dengan kehendak organisasi. Akhirnya ia pun diberikan sanksi oleh Eiljah berupa larangan berbicara di depan umum selama 90 hari.

Selama masa sanksinya, Malcolm lebih memilih untuk keluar dari organisasi. Alasan kuatnya adalah karena tafsir keagamaan Nation of Islam yang cenderung kaku dan eksklusif. 

Lalu ia mendirikan Muslim Mosque sebagai wadah baru untuk memperjuangkan hak-hak sipil kulit hitam dan menyatakan bahwa Muslim Mosque fleksibel dan terbuka bagi kulit putih. Ia meyakini bahwa pendekatan organisasi barunya sebagai pemecah masalah ras di Amerika.

Tidak lama setelah mendirikan organisasi barunya, Malcolm pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Selama di Makkah, ia menemukan semua warna kulit berinteraksi satu sama lain.

Lalu ia menyikapi bahwa tidak semua kulit putih adalah setan. Ia melihat ada yang kontras dengan apa yang selama ini Nation of Islam kampanyekan di Amerika. Makkah membuka cakrawala pemikirannya tentang persatuan antaretnis. Sikapnya dahulu yang mengiyakan tindakan segregasi rasial berubah.

Perubahan pandangan Malcolm berasal dari realitas kehidupannya. Dari sosok pembenci kulit putih menjadi sosok yang siap bersatu dengan kulit putih.

Dari fase-fase kehidupannyalah ia belajar dan memahami arti persatuan antarras. Karena paham segregasi rasial yang selama ini ia kampanyekan bukanlah pemecah masalah untuk kulit hitam.

Bermuara dari perjalanan ibadahnya selama di Makkah, ketika di Amerika ia membawa pesan damai, bahwa rasialisme, segregasi antara kulit hitam dengan kulit putih, tindakan rasialisme dan ekstremisme bukanlah solusi untuk mencapai pemenuhan hak, kesetaraan etnis, kebebasan, dan kemerdekaan kulit hitam.

Di Muslim Mosque, ia aktif mengampanyekan bahwa sikap sukuisme yang masih tinggi adalah hambatan untuk mencapai persatuan. Sebagai jawaban atas permasalahan yang terjadi adalah perlunya integrasi sosial, persatuan antarras, kesetaraan hak, dan moderasi paham keagamaan.

Lawan politik Malcolm yang berada di organisasi lamanya Nation of Islam mendengar dan mengamati ada perubahan dan perbedaan paham pada diri Malcolm.

Sikap Malcolm yang berubah dari sosok pendukung segregasi rasial ke sosok yang lebih mementingkan integrasi sosial ialah suatu ancaman. Nation of Islam menganggap perbedaan paham itu harus diekspresikan dengan cara teror dan pembunuhan.

Malcolm diteror lalu dibunuh di atas mimbar saat ia mengampanyekan pentingnya integrasi sosial kaumnya dengan kulit putih sebagai jawaban permasalahan rasial yang menimpa kulit hitam selama ini.

Perbedaan bukan media pengkotak-kotakan, tapi sebagai sarana persatuan. Sebagai bangsa yang multietnis, guyub dalam kemajemukkan akan merawat keutuhan Indonesia.

Pendekatan humanis yang dilakukan dalam menyikapi perbedaan ialah substansi menjadi manusia. Di Indonesia, selain gagasan-gagasan KH Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, dan tokoh-tokoh ternama lain, ide-ide Malcolm sangat relevan dan perlu dikontekstualisasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat untuk mencapai tujuan negara.