Pada 2016, dunia telah digemparkan oleh kebocoran data berskala luar biasa terkait dengan dokumen finansial suatu perusahaan. 

Bagaimana tidak, dalam bocornya dokumen finansial ini, telah terlibat sejumlah 12 pemimpin negara (mantan maupun yang masih menjabat), sekitar 128 politikus dan pejabat publik dari 40 negara. Mereka tergabung dalam komplotan yang berupaya untuk bebas dari kewajiban membayar pajak.

Sebanyak 11,5 juta dokumen telah terbongkar dan dapat diketahui oleh seluruh dunia terkait dengan perusahaan gelap yang didirikan di wilayah-wilayah surga bebas pajak. Adanya kasus ini juga menjadi petunjuk yang sangat jelas bagaimana firma hukum bekerja sama dengan bank terkait dengan kerahasiaan finansial para mafia narkoba, miliuner, politikus, selebritas, hingga bintang olahraga.

Perusahaan Panama

Perusahaan Panama didirikan oleh Mossack Fonseca yang mengelola banyak perusahaan selama bertahun-tahun. Perusahaan aktif dikelola perusahaan ini pun mencapai hingga 80.000 perusahaan. Sebagian besar perusahaan tersebut didirikan di Kepulauan Virgin Britania Raya, serta Panama, Bahama, Seychelles, Niue, dan Samoa.

Mossack Fonseca telah bekerja sama dengan lebih dari 14.000 bank, notaris, badan hukum, serta pihak-pihak lain dalam rangka pembentukan perusahaan, yayasan, dan sebagainya yang hanya merupakan perusahaan cangkang di negara-negara bebas pajak. 

Perusahaan cangkang merupakan perusahaan yang sebenarnya tidak ada isinya, melainkan hanya terdaftar dengan nama, struktur organisasi saja. Dengan berbasis di negara bebas pajak, maka perusahaan cangkak tersebut akan aman dari pajak.

Hal ini tentu akan sangat menghambat pemerintahan dalam memberikan layanan publik. Selain dapat dilakukan pengemplangan pajak, hal seperti ini juga dapat membantu melancarkan kriminalitas internasional. 

Uang beserta transaksi dilakukan melalui perusahaan cangkang yang tidak terdeteksi. Hal ini akan mengakibatkan perdagangan gelap seperti mafia narkoba, peredaran senjata illegal, serta berbagai logistik teknologi di berbagai negara tidak dapat terdeteksi.

Bocornya Dokumen Raksasa Panama

Awal mula dari kebocoran dokumen Panama ini diketahui oleh surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung yang menerima dokumen dari suatu sumber anonim. Dalam kurun waktu satu tahun, data yang dikirimkan mencapai jumlah yang luar biasa, yakni mencapai 2,6 terabita. 

Dalam menanggapi masuknya data-data rahasia tersebut, para wartawan Süddeutsche Zeitung saling berkomunikasi melalui saluran terenkripsi agar lebih aman dan tidak diketahui identitasnya.

Data yang diterima oleh Süddeutche Zeitung tersebut berisi dokumen Mossack Fonseca (pemilik perusahaan Panama) terkait dengan 213.388 perusahaan luar negeri dari para politikus di berbagai negara. Dokumen tersebut juga dibuat antara tahun 1970-an hingga akhir 2015. 

Data raksasa ini tentu menyimpan berbagai jejak korupsi global raksasa yang telah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Dengan adanya data ini, tindak kejahatan global ini memiliki bukti yang sangat kuat dan tidak bisa terelakkan lagi.

Investigasi Kasus Raksasa Panama

Berawal dari para wartawan Süddeutsche Zeitung, selanjutnya organisasi wartawan global, yaitu Internasional Consortium of Ivestigative Journalist, beserta 100 organisasi pers dari seluruh dunia bergabung untuk menginvestigasi kasus Panama yang begitu luar biasa ini.

Data kasus Panama akhirnya disebarluaskan dan dianalisis oleh gabungan organisasi pers tersebut. Setelah lebih dari satu tahun, laporan berita pertama terkait dengan dokumen raksasa Panama diterbitkan pada 3 April 2016. 

Panama Papers ini menyertakan 149 dokumen yang mencantumkan nama 214.000 perusahaan dari berbagai belahan dunia. Setiap perusahaan cangkang yang dilaporkan juga telah disertai dengan surel, kontrak, transkrip, beserta dokumen pindaian.

Salah satu perusahaan yang terlibat dalam kasus raksasa Panama juga diidentifikasi membantu menyediakan bahan bakar untuk pesawat jet yang digunakan oleh Suriah dalam melakukan pengeboman yang menewaskan ribuan warganya sendiri. 

Sementara itu, di Uganda, berbagai perusahaan yang terlibat dalam kasus ini telah berhasil menghindari pajak hingga mencapai USD 400 juta, angka yang berkali-kali lipat dari anggaran Kesehatan pemerintah Uganda.

Dengan demikian, sangat jelas bahwa adanya kasus korupsi global ini tentu sangat merugikan berbagai pihak, bahkan dunia. Banyak negara yang mengalami kesulitan dan kerugian, serta banyak terjadi tindak kriminal yang tentu akan sangat merugikan setiap orang.

Panama Papers Bantu Deteksi Pengemplang Pajak

Dalam suatu kuliah umum di Universitas Indonesia, Sri Mulyani yang menjabat sebagai Menteri Keuangan menerangkan bahwa Panama Papers dapat membantu pemerintah dalam mendeteksi asset pengusaha yang mengemplang pajak. Sebab, sebelumnya wilayah offshore (bebas pajak) tidak dapat terdeteksi.

Hal ini tentu menjadikan sulitnya pengusutan atau pemberantasan mafia-mafia koruptor yang ada di Indonesia. Maka dari itu, terbongkarnya dokumen raksasa Panama Papers menjadi kesempatan yang sangat besar bagi pemerintah Indonesia khususnya untuk bisa mengusut mafia-mafia koruptor yang ada di Indonesia.

Dalam lingkup internasional, diharapkan terjadinya kebocoran data raksasa ini juga menjadi kesempatan yang besar bagi negara-negara untuk mengusut tuntas kasus kejahatan dan kerahasiaan di negaranya, terlebih lagi dalam hal bebas pajak.