Researcher
3 tahun lalu · 500 view · 3 min baca · Gaya Hidup like.png

Jejak Kita di Media Sosial

Lagi-lagi tulisan soal ekspresi di media sosial. Untuk beberapa orang, meninggalkan jejak, atau sebut saja kesan dan pesan, sangat penting untuk diketahui banyak orang. Bahkan untuk beberapa orang memastikan statusnya selalu update di media sosial menjadi sesuatu yang wajib, tidak hanya setiap hari, tapi setiap waktu.

Ekspresi di media sosial juga tidak lengkap tanpa foto-foto, baik itu foto diri sendiri, foto ‘wefie’, foto makanan, tempat-tempat seru dan unik, dan sebagainya, plus deskripsi dan narasi soal foto-foto itu.

Lebih jauh, isian soal status, atau sedang bersama siapa, atau lagi apa, atau pernyataan spesial yang ditujukan untuk orang-orang tertentu menjadi hal yang lumrah. Jejak, kesan, dan pesan adalah soal pembuktian ke luar, dan juga pengakuan ke yang bersangkutan. Kadang ada juga yang memberikan kesan dan pesan secara sepihak, mungkin malu-malu untuk memberitahukan statusnya kepada dunia, apalagi di media sosial.

Di sisi lain, meninggalkan jejak dan memberikan pesan atau kesan justru tergantung pada perasaan dan pengalaman seseorang. Untuk orang-orang yang punya pengalaman pahit dan tidak menyenangkan di masa lalu, mengumumkan statusnya atau cerita tersebut di laman utama lewat jejaring sosial rasanya bukanlah hal yang diinginkan.

Kecuali kalau mungkin emosi sudah terlalu memuncak dan butuh disalurkan lewat rentetan status di media sosial, tidak peduli se’public’ apapun itu. Meninggalkan jejak itu seperti mengingatkan banyak orang soal masa lalu yang getir, lebih baik mengisi status "section" dengan “complicated” atau mengosongkannya sedemikian rupa daripada harus ‘bertanggung jawab’ akan cerita yang tidak pernah terjadi atau terlalu pahit untuk bahkan sekedar dicantumkan dalam isian status di media sosial.

Dan toh kadang-kadang sadar atau tidak, diinginkan atau tidak, peduli atau tidak, guratan terburuk dan getir pun bisa saja sudah terpampang jelas di dinding media sosial kita, meskipun kita bisa mengeditnya kapan saja. Dan setelah beberapa kenalan kita sempat membaca dan mengomentarinya, dan mungkin sekedar iseng mengirimkan inbox menanyakan kabar. Just that.

Memang tidak akan ada yang benar-benar peduli atau menyalahkan soal pengalaman pahit yang kita alami. Bukannya juga secara pribadi tidak ada keinginan kuat untuk ‘memamerkan’ atau ‘membuat misterius’ status di sosial media, tapi berhati-hati dan menahan diri mungkin jadi opsi yang paling tepat dan realistis, serta bijak.

Ini penting untuk dicatat, karena teman di dunia maya, apalagi temannya-temannya-temannya-temannya-temannya teman are not necessarily our real friends. Makanya, kudu siap juga ketika mengumbar status di dunia maya untuk dapat beragam komentar, yang bisa jadi entah dari siapalah, atau benar-benar memojokkan dan memuakkan.

But what do we expect in such virtual world’s circumstances? Semua serba liar dan tidak terkontrol, tapi setidaknya kita tahu kalau kita bisa membatasi dan melindungi diri di setting dan privacy sections. Selalu ada pilihan itu, sisanya adalah soal seberapa willing kita mengekspos diri dan kehidupan pribadi kita dengan orang lain, bahkan yang paling gak kita kenal sekalipun?

Mungkin tidak melulu isian soal status di data pribadi, tapi juga status di timeline kita atau di tweet yang kita share pada ‘dunia’. Bahkan yang seperti itu saja sudah meninggalkan jejak, yang bisa jadi dengan mudah mengundang tanya orang-orang terdekat, seperti teman-teman kita.

Seperti yang dikatakan Edward D, Bono, paling tidak setiap orang punya 150 orang teman yang dikenalnya. Nah, bayangkan betapa repot, rumit, dan melelahkan (tentu tidak semua orang akan bother bertanya dalam waktu yang sama atau bahkan ngeh atau cukup peduli dan sempat untuk bertanya), jika ada beberapa teman mulai bertanya tentang apa maksud yang kita ingin sampaikan lewat jejak, kesan, dan pesan di media sosial itu.

Di satu sisi, mendapatkan perhatian itu menyenangkan, tapi menjelaskan ini dan itu jadi hal lain yang gak melulu mudah dan diinginkan. Apalagi kalau kita tahu bahwa kita hanya sekedar ‘nyampah’ di media sosial kita sendiri.

Lagipula, lebih mudah untuk bercerita hal-hal yang menyenangkan dan positif tanpa benar-benar bermaksud menyombongkan diri atau mungkin hanya sekedar bersyukur pada apa yang telah terjadi. Termasuk soal status, apapun artinya.

Di situ jejak mengundang orang untuk ikut memberi ‘like’ dan ikut ‘share’ atau me-retweet apapun yang kita posting di media sosial. Bahkan untuk komentar paling sederhana soal kegalauan sekalipun. Namun, itulah hakikat manusia yang makhluk sosial, yang punya rasa yang berbeda tipis antara ingin tahu dan/atau peduli.

Di sini jejak dan kesan pesan di sosial media menjadi pembuktiannya. Sebuah panggung untuk memamerkan atau menyembunyikan sesuatu dari dunia tentang kisah yang ada atau tidak benar-benar ada.

Sebuah celah untuk mengundang perhatian khalayak soal jejak yang dulu pernah ada, maupun pesan dan kesan yang tengah terjadi. Dan masa depan atau kata-kata bijak seolah riuh menjadi kepakaran semua orang yang peduli atau sekedar ingin tahu atau merasa banyak tahu soal asal muasal jejak-jejak itu.

Artikel Terkait